KH Cecep Subandi: Madrasah, Ponpes Tempat Pengkaderan Kiai Nahdlatul Ulama



KH Cecep Subandi

Pendidikan Pesantren merupakan cikal-bakal ulama dan yang memperkokoh NU. Pesantren tempat lahirnya ulama.

“Madrasah, Ponpes sebagai tempat pengkaderan Nahdlatul ulama. Kalau ada yang menyerang dan menyalahkan atau salah menilainya, luruskan, jangan dipojokkan. Kita cinta kiai Babay cinta kiai, cinta ulama yangbmenyampaikan ilmu,” demikian dikatakan Ketua NU Kabupaten Tangerang, KH Cecep Subandi.

Saat Tabligh Akbar ulama kharismatik Abah Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dari Pekalongan, yang dihadiri Kapolres Kota Tangerang Kombes Sabilul Alif, disebutkannya karena saking cintanya pada Ansor, Banser dan Fatser NU. “Tabligh Akbar tak lain sebagai hajat besar pengurus anak ranting Ansor Curug yang tidak pernah berhenti dan harus di-support,” katanya.

KH Cecep Subandi dalam sambutannya menayakan kenapa harus bangga dengan NU. Jawabnya, karena meneruskan wasiat KH Hasyim Ashari. Mengikuti ulama dan tempatnya ulama ada di NU. Kita bersyukur ulama masih terus eksis meneruskan bangsa aman menuju negeri badalatul gafurur rahim.

“Tanpa ulama kita tak bisa membaca Alquran, hadua dan sholat. Beruntung bangsa Indonesia aman dalam naungan NKRI karena kita hubbul wathon. Tapi, jangan salah menyampaikan, hubbul wathon bukan dari Rasulullah, melainkan fatwa ulama NU ketika dijajah,” terang pimpinan di Ponpes Antika di Tigaraksa itu.

Lebih jauh disebutkan KH Cecep Subandi, sebagai warga NU, harus menjelaskan tentang bagaimana hukumnya membela agama. Diceritakannnya, dulu KH Hasyim Ashari pernah mengumpulkan ulama, sepakat hukumnya fardu ain.

“Jadi, jika ada yang menghancurkan negara, ulama ada ada di depannya. Islam Nusantara adalah Islam yang menghargai budaya sepanjang tidak melanggar akidah. Islam Nusantara berbeda dengan Islam di Thailand atau Arab Saudi. Harus kita menjelaskan bagi yang tidak tahu,” papar KH Cecep.

Diingatkannya, jangan pernah terkecoh tapi wajib meluruskannya. Berpeci, bersarung bahkan ada yang memakai celana ketika shalat tidak dimasalahkan, karena tidak mengganggu akidah.

“Kita wajib meluruskan kesalahahpahaman, membela kiai, agama dan negara. Siria, Yaman sampai kini belum bisa didamaikan. Di kita sebagai perekat persatuan akidah yaitu ahlusunnah waljamaah, dengan mazhab yang semua ada sanadnya,” tandasnya.

EDY

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply