KH Ma’ruf Amin Ajak Umat Rukun Damai Harmoni di Halal Bihalal Kota Tangerang



Ketum MUI Ma’ruf Amin berbincang bersama Walikota Tangerang Arief R Wismansyah, seusai Halal Bihalal Pemkot Tangerang di Masjid Al Azhom, Sabtu (7/7/2018)


KOTA TANGERANG | BantenLink — Pemerintah Kota Tangerang, Sabtu (7/7/2018), menggelar Halal Bihalal 1439 Hijriah yang diadakan di Mesjid Raya Al Azhom. Kegiatan dihadiri Walikota Arief R Wismansyah, Forkopimda, MUI dan masyarakat itu mendatangkan Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin, yang memberikan tausiah seputar ajakan menjaga kerukunan, kedamaian dan keharmonisan berbangsa. Berikut catatan wartawan bantenlink.com :

Ketua MUI, Ma’ruf Amin mengatakan halal bihalal hanya ada di Indonesia yakni memaafkan di hari kebahagiaan yang dikenal dengan Islam Nusantara, sehingga manuaia kembali suci seperti baru dilahirkan ibunya. Maksudnya, umat Islam agar membangun silaturahim dengan saudara satu kandung. Namun walaupun bukan saudara sekandung, bisa dianggap sebagai saudara satu kandung, yang disebut ukhuwah islamiah.

Makanya, diingatkannya sesama umat manusia jangan saling bertengkar, malah harus saling memaafkan, dengan menyambung silaturahmi dan ukhuwah. Dengan se-bangsa pun kita mesti anggap saudara, yang disebut ukhuwah wathoniah. Untuk itu, kerukunan harus dibangun, bukan hanya dengan sesama yang beragama Islam, tapi juga dengan yang satu bangsa.

Sikap rukun, damai dan harmonis dinamakan sakinah. Jadi bangsa yang rukun juga namanya sakinah. Dengan adanya sifat tersebut, akan membuat mawaddah warahmah. Mawaddah yaitu saling mencinta, sedang rahmah sifat menyayangi. Sehingga tercipta saling pengertian. Tidak mudah salah pengertian, bahkan kalau yang salah dimaafkan.

Diceritakannya, suatu ketika pernah ada suami-istri yang selama 30 tidak pernah pernah bertengkar. Si istri pernah ingin merasakan bertengkar dengan membuatkan baju suami yang sempit pada lengan kirinya yang digunakan untuk menulis. Sedangkan pada baju bagian tangan kanannya malah lebar. Anehnya, sang suami yang diharapkan si isteri marah malah memuji istrinya: Kamu pintar sekali, Istriku. Tangan baju yang sempit ini memudahkanku menulis. Bagian lengan kanan yang lebar bisa membuatku untuk berkipas kalau udara panas.

Cerita ini dikaitkan dengan bangsa ini, yang sakinah adalah bangsa yang harmoni, mawaddah warahmah . Satu sama yang.lain saling pengertian, tidak main hajar saja, apalagi yang benar saja disalahi. Itulah yang disebut disharmoni. Karenanya harus waspada pada ujaran kebencian di.medsos, Karena banyak setannya, banyak fitnah dan hoax. Jangan mendengarkan yang mngajak fitnah.

Dalam Islam tidak diajar dengan keras, tapi dengan santun dan sukarela, tidak dengan cara memaksa atau intimidasi, tidak dengan ancaman, pentungan, teror atau cara-cara yang intoleransi. Berbeda pendapat boleh, mahzab ente mazab ente, mazhab saya mazhab saya. Ke yang beragama laim lakum dinukum waliadin. Masjid sebagai tempat dakwah,jangan dijadikan tempat kebencian.

Malam takbir saya serukan, jangan membawa politik praktis ke mesjid. Alhamdilillah, tidak terdengar kegaduhan. Semoga demikian dalam menghadapi Pilpres dan Pileg. DIl luar mesjid pun jangan ada fitnah, gaduh, hoax. Jangan tanah satumeter pun dibuat tempat untuk mengadu domba ulama dengan ulama dengan ulama, masyarakat dengan ulama dan masyarakat dengan masyarakat. Jangan sampai terprovokasi untuk hidup rukun damai dan harmoni.

Dakwah Rasulullah pertama adalah akidah, ahlusunnah waljaamaah, hanya untuk ketakwaan pada Allah. Kedua, akhlakul kharimah yaitu pentingnya akhlak. Kalau akhlak baik pasti pasti perilaku batin, jiwa baik dan lurus, sehingga tangan, kaki, mulut dan semua anggota tubuh baik. Kalau akhlak tidak baik bisa diperbaiki atau ada penegakan hukum bagi orang yang melakukan pelanggaran.

Dulu dasar negara dibentuk oleh para ulama. Pernah hampir tidak terbentuk karena yang sekuler ingin sekuler. Ulamalah yang menemukan dasat kebangsaan dan keagamaan. Sila pertama, yakni kebangsaan yang bertauhid, titik temunya ada segala elemen bangsa pada pemerintahan.

Pada Piagam Jakarata ada tujuh kata yang dibuang dari kesepakatan. Kita bukan negara Islam, tapi juga bukan negara kafir karena negara kesepakatan. Islam yang menyeluruh, kaffah, tapi ada kesepakatan. DII tidak memiliki kesepakatan. Dengan adanya kesepakatan dan kaffah.

Dalam Alquran, kalau ada perjanjian kesepakatan maka ada denda yang diserahkan. Di Saudi hanya ada muslim, maka tidak ada kesepakatan dengan nonmuslim. Yang Islam bukan selalu khilafah, sebab Saudi bentuk negaranya kerajaan, jadi boleh menurut Islam.

Bentuk negara boleh Republik, boleh Khilafah. Di indonesia tidak boleh Khilafah karena dalam kesepakatan sistemnya Republik. Karena harus sesuai dengan kesepakatan, maka umat islam harus mematuhinya. Untuk menjaga Negara kita harus menjaga ukhuwah.

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply