Karupuak Sanjai Mainstream Christine Hakim



Kripik sanjai kemasan

ORANG menenteng kardus berisi kripik (karupuak) sanjai begitu mainstream di mata saja, jika sedang pulang dari ranah minang, kembali ke tempat tinggal saya di Tangerang. Tapi jujur, belum pernah saya berniat untuk membeli kripik dengan merek artis lawas itu, apalagi tahu harganya. Kalaupun membeli karapuak sanjai untuk sekedar membawa oleh-oleh –seperti halnya orang jaman dulu– cukuplah membelinya di kios oleh-oleh. Dan saya lebih suka membeli dalam bungkusan plastik yang terlihat isinya. Serta pastinya terjangkau, serta mudah pula didapatkan di kios biasa atau semacam Indomaret-lah, gitu.

Tapi pas mudik lebaran ke Padang tahun ini, anak perempuan sulung bernama Zalva, memesan agar saya membawakan oleh-oleh kripik sanjai Christine Hakim. “Yang warnanya merah,” katanya. Maksudnya kripik sanjai yang pake lado (cabe) merah, jangan lado ijo. Oh ya, belum lama ini,  waktu pulang dari Padang ke Tangerang memang saya sempat membawakan keluarga  kripik sanjai lado merah dan lado ijo yang dibeli dari toko oleh-oleh. Untuk rasa lado ijo itu si “kakak” kurang suka. Soal perkripiksanjaian, anak saya yang doyan belanja online ini, entah mengapa dia ngebet banget. Sampai pernah juga menawarkan saya untuk patungan membelinya lewat internet. Saya sendiri ogahogahan untuk menanggapi kemauannya. “Harganya murah kok, Yah. Cuma Rp 45 ribu, tambah ongkos kirim sekitar Rp 85 ribu,” cecar Zalva agar saya mengikuti kemauannya.

“Ah, belanja online repot, pake nunggu lagi,” elak saya. “Nanti kita beli di Senen aja,” alasanku. Prinsipku, makanan daerah manapun  kan kini sudah gampang dicari, karena sudah menjadi penganan nusantara. Oleh-oleh yang dulu khas dari suatu daerah kini sudah dijual di daerah lain. (Bagi saya, jangankan sekelas kripik, oleh-oleh dari Tanah Suci Mekkah saja banyak dijual di Tanahabang). Setelah itu, pembicaraan ayah dan anak tentang kripik sanjai pun lenyap, hingga akhirnya terdengar lagi dari si sulung ketika saya akan mudik ke Padang sebelum Lebaran (untuk bisa sungkem dengan ayah yang sudah sangat tua). Bahkan saking ngebetnya Zalva untuk bisa mencicipi kripik  bermerek Christine Hakim, anak saya itu sampai rela mengeluarkan uang sakunya untuk menambah uang pembeli kripik sanjai. Akhirnya, aku pun mengalah.  Berarti kripik sanjai yang diminta anak harus ada sebagai oleh-oleh pas aku balik dari Padang. Begitu.

Nah, pas usai sungkem dan shalat Idul Fitri di Masjid Raya Bayua, saya pun buru-buru mencari mobil travel atau kenderaan apa saja yang bisa membawa saya ke Bandara Minangkabau di Padangpariaman. Singkatnya, sehabis mendapatkan oto ke Lubukbasung, yang penumpangnya saya sendiri, (maklum masih suasana masih pagi banget di suasana lebaran hari pertama). Dari lingkaran tugu Lubukbasung saya naik bus kecil ke arah Padang hingga turun di putaran Universitas Negeri Padang dan shalat Jumat di mesjid Al Azhar yang ada di lokasi tersebut.

Saya sendiri harus check in  atau satu jam sebelum keberangkatan dari bandara Minangkanau ke bandara Soekarno Hatta. Jadi, masih bolehlah untuk raunraun (jalan-jalan) menikmati suasana Kota Padang di hari lebaran. Terakhir, sengaja mampir di pusat penjualan oleh-oleh Christine Hakim di jalan Adinegoro. Eh, tapi apa daya, tokonya tidak buka dan ada pengumuman libur pada hari lebaran pertama. Ya, sudah, nggak usah kemana-mana, demi membawa pesanan, saya cari saja sanjai yang ada di toko lain. Dengan jurus membela diri bikin alasan nanti pada Zalva, judulnya kan membawa oleh-oleh kripik sanjai. Tidak harus bermerek Christine Hakim-lah, pikir saya.

Singkat cerita, setelah check in lebih awal karena diburu-buru maskapai “Lion Air”, meskipun akhirnya delay juga, hingga…mendapatkan snack biskuit “Biskuat”-air mineral gelas “Prima”. Dan santapan yang kedua kalinya disuguhi “California Fried Chicken”-nasi-air mineral botol, wkwk. Sebelumnya, saya sempat kembali ke lobby bandara. Tak lain mencari orderan si kakak buah tangan kripik sanjai Christine Hakim. Saya nekat bertanya pada karyawan “Indomaret”. Ih jadi malu… Karena gak dijual di situ. “Adanya kripik sanjai yang itu,” katanya. Lalu, akhirnya kripik sanjai Christine Hakim saya dapatkan bertumpuk di toko khusus oleh-oleh Bandara Internasional Minangkabau.

“Berapa harga kripiknya sanjai-nya, dek?” Tanya saya pada kasir. Rp 185 ribu, jawabnya.  Lalu terbayang saya di saat ulang tahun pada 29 Mei kemarin Zalva sengaja membuat kejutan membelikan lewat online baju gamis putih yang rencananya dipakai untuk sholat Ied tapi belum saya pakai. Harganya hampir sama dengan satu kardus kripik sanjai populer yang dijual di bandara. Saya rogoh kocek, uhui… Akhirnya jadi membawa oleh-oleh kripik sanjai arus utama, yang biasa dibawa orang-orang sehabis berkunjung ke ranah minang.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Padangpariaman, 15 Juni 2018

EDY TANJUNG

Tags:
Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply