Akrobatik Bus Mudik | The Legend Part Two



Ilustrasi Bus Mudik Lebaran

Ilustrasi cerita

SELALU banyak cerita tentang perjalanan mudik. Seperti yang kualami saat ini yang akan merayakan hari raya Lebaran di “kampung halaman”, Kenagarian Bayur, Kecamatan Maninjau, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Menaiki bus legenda yang beragam kenangan tak terlupakan dalam.perjalan dua hari dua malam dari Tangerang. Tentunya, berbeda dengan dibandingkan menaiki pesawat dalam perjalanan satu setengah jam yang mungkin hanya diwarnai cerita delay, nyaris ketingalan pesawat serta ancaman bom yang menunda perjalanan. Hebatnya si bus sang Legend, masih bertahan dengan pola pelayanan lama dan eksis tanpa dihantui kebangkrutan hingga kini.

Terkait soal mudik ke kampung, sebenarnya aku lebih cocok menyebut pulang ke Sibolga, kota kecil berada di pesisir pantai barat Sumatera sebagai kampung halaman. Di sanalah aku dilahirkan hingga tamat SMA tahun 1985. Tahun 1986 aku merantau ke Jakarta (jawa di sebutnya). Berganti-ganti pindah tempat tinggal, dari rumah saudara yang satu ke rumah saudara yang lain, dan pindah kos yang satu ke kos lainnya di kampung betaw, hingga akhirnya menetap di Tangerang pada 1993 setelah mengambil rumah BTN di desa Binong, kecamatan Curug.

Ini cerita masa lalu. Pada 1993 papa mama serta dua adik terkecilku pindah ke Tangerang. Satu datang setelah menamatkan SMA di Sibolga. Kami sembilan bersaudara, tiga yang lain sempat merantau ke Jakarta dan menjadi tukang jahit, sebelum akhirnya kembali lagi ke Sibolga. Seorang abang lainnya menetap di Sibolga, sedangkan dua adikkku yang lain merantau di Labuhanbatu dan Pekanbaru. mengikuti jejakku pada 1993 pindah ke Tangerang, diikuti saudara kandung yang lain, walaupun ada yang betah ada pula yang akhirnya pindah kembali keSibolga tempat kelahirannya. Suatu ketika pasca meninggalnya adik bungsu perempuan satu-satunya di Tangerang, kedua orangtuaku kelahiran Idi dan Kualasimpang, Aceh, kembali ke kampung halaman di Sumatera Barat. Pada 2005 ibu meninggal dan kini tinggallah bapak seorang.

Kondisi papa berusia 93 tahun seorang diri hidup di kampung ini membuat istriku menyarankan agar aku melihat ayah. Terlebih belum lama ini sempat sakit dan kujemput dari Tangerang dan dirawat bersama kedua adikku hingga sembuh. Namun kemudian papa berkeras berkeras lagi untuk diantarkan ke kampung karena merasa sudah sehat. Diantara tiga bersaudara di Tangerang, aku yang berkesempatan menjemput menjemput dan mengantarkan papa kembali ke Bayur, Maninjau, karena dua adikku sulit mendapatkan cuti kantor. Tapi sayangnya sepeninggalku, kartu handphone ayah seperti terblokir sehingga kami anak-anaknya sudah dua bulan terakhir ini tak bisa lagi menghubunginya.

Menemui ayah lagi sebenarnya sangat berat bagiku karena baru saja menjemput dan mengantarkan bapak ke kampung. Syukurlah sebagi jurnalis dan penulia aku cenderung sebagai orang rumahan. Selama bulan puasa lebih banyak menghabiskan waktu dan berbuka puasa di rumah, bersama istriku Titing, dua orang anakku Zalva dan Zaki. Titing pulalah yang selalu mengingatkan aku harus menemui papa yang telah tua dan terakhir ini tanpa kabar berita. Sesampai di kampung, kata istriku lagi, uruskan lagi atau ganti kartu telepon papa yang mati. Selama ini, kalau tidak berjumpa hanya inilah satu-satunya cara kami yang paling efektif untuk saling menanyakan kabar.

Setelah itu aku memutuskan untuk naik bus dengan cara sambung-menyambung perjalanan. Dari rumah di Perumahan Binong Permai naik motor grab online ke pangkalan bus menuju Merak, pelabuhan di ujung barat pulau Jawa. Lalu dengan kapal ferry menyeberang selat Sunda menuju pelabuhan Bakauheni di pulau Sumatera. Setelah sampai di Bakauheni niatnya akan naik bus arah Padang. Baru kini aku tahu ada akses jalan tol keluar-masuk pelabuhan yang baru dibangun pemerintah walaupun jaraknya belum jauh. Karena tidak naik bis dari kapal, tentunya aku tidak merasakan jalan tol baru itu dan mendengarkan cerita tukang ojek yang kutumpangi menuju jalan keluar tol, agar bisa mendapatkan bus arah ke Padang.

Syukurnya, tak lama menunggu bus, sang Legend bus ALS 20 yang dinanti berhenti. Sehabis tawar menawar harga termasuk perkara tuslah, aku menaiki dan berdesak-desakan dengan penumpang yang telah naik lebih dulu. Tak ada istilah mencari kenderaan yang nyaman kecuali harus cepat sampai tujuan untuk merayakan hari raya Idul Fitri bersama ayahku. Sang legend sendiri memiliki ciri khas, didalamnya dipenuhi manusia dan barang yang mengisi seluruh ruang kosong, seperti adanya bangku tempel dan kemasan besar yang memenuhi ruangan. Sedangkan di atas bus juga dipenuhi barang yang ditutupi terpal yang membuat jalan bus agak lama jika menyusur jalan berliku.

Penumpang tentu saja protes, tapi harus mengikuti aturan main legend bus. Penumpang baru bisa dapat duduk di bangku kosong kalau ada penumpang yang turun. Kalau tidak, harus enjoy duduk di atas barang atau bangku yang ditumpuk di gang antara bangku, sehingga sulit untuk bergerak. Kondisi bus sedikit sumpek, panas dan bau dengan gorden dan kain sandaran tempat duduk lusuh, harus dimaklumi karena prinsipnya harua sampai ke tujuan sebelum momen Idul Fitri. Kondisi ini mengilhami canda seorang teman, kalau dulu naik sang Legend, sering membuat penumpang masuk angin karena AC-nya yang joss dan mobilnya masih baru. Sekarang, nikmati sajalah.

Terkadang terjadi keributan kecil antara kernet bus dengan penumpang yang memasalahkan tidak mendapatkan bangku yang layak. Seperti yang kualami, kursi yang sudah kududuki setelah sebelumnya nangkring di atas barang, harus digantikan penumpang yang baru naik. Alasan kernet diatur dulu. Tanpa ngotot, mungkin kita mengalah untuk pindah. Seorang penumpang lainnya terpaksa duduk di atas kursi plastik yang diatasnya ditutupi alas busa yang jomplang ketika diduduki. Dan persoalannya selesai ketika kernet beralasan yang dilakukannya sekali dalam setahun. Daripada tidak mendapatkan bis dan telat sampai di kampung. Ya, inilah seni kalau pulang saat mudik dengan the legend, bus ALS yang telah eksis bertahan puluhan tahun. Sedang pada hari sepi penumpang, semakin digempur harga tiket pesawat yang murah.

Semoga selamat sampai tujuan. Wonderfull Indonesia. Selamat menjelang hari Raya Idul Fitri 1439 H yang tinggal 3 hari lagi.

Kabupaten Empat Lawang, Sumsel, 12 Juni 2018, jam 12.53 WIB

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply