Akrobatik Bus Mudik | Cerpen Edy Tanjung



Bus Mudik Lebaran

Ilustrasi

ENTAH karena cuaca yang sangat panas menyengat saat menaiki mobil ALS di Bakauheni Lampung, sehingga membuat bau ketek penumpang di sampingku terasa begitu menyengat. Sudahlah, aku pun enjoy saja karena itulah resiko memilih kenderaan mudik  secara mengeteng kenderaan untuk mengirit biaya pulang kampung. Untuk kamuflasenya, sekedar untuk bernostalgia 32 tahun lalu saat pertama hijrah ke Jakarta dengan menaiki bus.

Siang menyengat empat hari sebelum lebaran 1439 Hijriah  ini terasa membuat leher yang sedang berpuasa demikian kerontang. Pagi-pagi aku sengaja berangkat dari rumah di Binong, Karawaci, Tangerang ke bawah kolong tol Bitung untuk naik bis ke Pelabuhan Merak untuk kemudian menyeberang laut Selat Sunda.  Sial, baru masuk pelabuhan uang sejumlah Rp 300 ribu baru kusadari tercecer dari kantong arloji celana levis yang kukenakan.

Tapi, aku bersyukur saat turun kapal ferry dan melintasi terminal Bakauheni disamperi tukang ojek motor yang menanyakan kemana tujuanku. Kujawab ke Bukittinggi. Setelah proses tawar-menawar harga, sang ojek mengantarkanku ke pintu keluar jalan tol akses pelabuhan Bakauheni, tempat nantinya banyak bus lintas Sumatera yang berhenti sejenak, jika ada penumpang yang melambaikan tangan. Sungguh. Tak berapa lama menunggu bus, muncul ALS, yang kemudian sudi membawaku ke Bukittinggi, Sumbar, dengan hanya dengan merogoh kocek cuma Rp 350 ribu, meskipun kata ada tuslah kenaikan tarif.

Soal uang Rp 300 ribu, alamak, uang itu sebenarnya uang titipan adik untuk ayah, orang tua satu-satunya yang tinggal di kampung Bayur, Maninjau, Sumbar. Terus terang, aku ikhlas kehilangan uang, dan tidak merasa apes karena malam sebelum berangkat mudik, saatberada dalam bis Tangerang-Merak ditelepon seorang kiai yang memintaku mendatanginya, sekedar untuk memberikan uang tambah-tambah di jalan senilai Rp 500 ribu meskipun, sebelumnya ia telah memberikan uang  THR dengan nilai yang sama kepada orang yang dianggapnya rekan media.

Siang menjelang sore ini  cuaca masih terasa panas menyengat,  sekalipun dari kaca jendela terlihat pegunungan yang bersebelahan dengan laut. Di bumi Lampung suasana terlihat sudah mulai berkabut. Oh ya, baru aku sadari panas dalam bus sangat terasa,  karena teknisi AC mobil memang ada namun tak satupun berfungsi. Tapi kunikmati saja dan menyadari aku menaiki bus non ekonomi, bukan pesawat Garuda atau Lion Air. Dan bukankah aku sedang menikmati nostalgia awal merantau ke tanah Jawa sekitar 32 tahun lalu.

Saat bus berhenti sesekali kulayangkan pandangan ke depan tampak penumpang yang keluar pedagang yang masuk menjajakan makanan ke dalam bis (tersadar banyak yang tidak berpuasa karena sedang musyafir) bersusah payah karena di tengah jalan bersusun bangku tempel atau barang yang diduduki penumpang bangku tempel. Harus hati-hati dan mahir yang melewatinya agar kotoran sepatu atau sendal tidak menempel di bangku orang. Huf sungguh terlihat akrobatiknya.

Sayup sayup terdengar lagu senandung batak diputar supir dari bagian depan dan suara anak bercengkrama bersama saudaranya seakan tak terpengaruh oleh suasana kemacetan di kota Bandarlampung pada H-1 yang seperti tegar dihadang bus kenangan. Ya, tak ada masalah dalam perjalanan akrobatik bua mudik. Diam-diam aku juga menikmatinya, bahkan sanggup menulis dengan smartphone, maka jadilah cerpen ini atau laporan berita yang tertunda penayangannya. Dengan menulis seperti ini lumayanlah bisa asik menghabiskan waktu di perjalanan selama sekitar dua hari dua malam.

Gerimis di Bandarlampung, 11 Juni 2018

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply