Anggota DPRD Kab Tangerang Lulusan Ilmu Administrasi Ini Tertarik pada Jurnalistik



Suryani Anya, Anggota DPRD Kabupaten Tangerang


KAB TANGERANG | BantenLink — “Ada nggak ya sekolah untuk menjadi wartawan?” Pagi itu, Rabu (2/5/2018), Suryani SSos. selaku Anggota DPRD Kabupaten Tangerang, sebelum saya bertanya malah menyuguhkan saya pertanyaan. Tumben,  tiba-tiba wakil rakyat menyatakan menyenangi profesi wartawan.

Jujur, saya kaget mendengar pertanyaannya. Tapi, ya sudahlah. Saya pikir, sekali-kali bolehlah wartawan yang ditanya narasumber. Dan pertanyaan ini dicetuskan legislatif dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini mungkin saja terkait perhatiannya  jurnalis yang acap menemuninya.

Sesaat kemudian saya menyebutkan ada sekolah wartawan seperti FISIP jurusan Ilmu Komunikasi, Fikom dan sekolah Publisistik. Tapi ada juga, jelas saya,  reporter sebelumnya berbekal pelatihan, pengalaman menulis atau hanya karena awalnya diajak temannya yang berprofesi wartawan.

Akhirnya, Anya, panggilan singkat perempuan beranak satu yang menjadi Anggota DPRD Kabupaten Tangerang masa bakti 2014-2019 itu, mengungungkapkap dirinya sebenarnya sangat menyukai ilmu Jurnalistik, namun anehnya malah memilih Jurusan Ilmu Administrasi salah satu perguruan tinggi di Tangerang.

Saya pun menjadi akrab bercakap-cakap dengan warga Kampung Saredang RT 002 RW 003, Desa Matagara, Kecamatan Tigaraksa yang menjadi “Dewan” dari banyaknya suara pemilih Daerah Pilihan (Dapil) I yakni Balaraja, Jayanti, Tigaraksa, Jambe, Cisoka dan Solear kepadanya.

“Gini lho, aku punya teman, bapaknya itu dulu katanya yang memotret foto-foto hitam putih, yang dokumennya itu masih banyak kita lihat  sekarang,” ujar Anya.

“Oh itu, iya mungkin dulu bekerja sebagai wartawan  foto di IPPHOS,” jawab saya.

“Nggak tahulah, tapi sepertinya bapak temanku itu sering liputan kemana-mana. Ke luar negeri. Enak ya bisa begitu,” cetus lulusan UNIS Tangerang tahun 2012 itu lagi.

“Bisa saja kemana saja, Bu. Bisa karena ditugaskan kantornya, ngepos di instansi atau juga bebas bekerja atas inisiatif sendiri.”

“Terus biayanya darimana?” cecar Anya.

Sebenarnya saya enggan secara rinci menceritakan persoalan sumber keuangan wartawan. Tapi karena yang menanyakan anggota DPRD, ya perlu sejujurnya menyampaikannya. Saya sebutkan, banyak cara yang bisa dilakukan dalam pendanaan reportase.

“Idealnya sih biaya reportase dari kantor. Tapi seperti halnya penulis, ada juga yang membiayai sendiri perjalanan jurnalistik yang dicari dengan banyak cara,” kata saya. (Saya menyebutkan contohnya, ada penulis yang traveling kemana-mana dengan memberikan pengetahuan menulis dan difasilitasi masyarakat.)

Saya menambahkan, mungkin juga ada wartawan mencari biaya dari proposal resmi atau berdasarkan pemberian orang karena kedekatan emosional dengannya. Kalau dengan proposal biasanya pencairannya lama, sedangkan meminta pribadi  biasanya langsung mendapatkan bantuan,” papar saya.

“Oh,” tanggapnya memaklumi. Seperti memaklumi kepolosan jawaban saya.

Kemudian, saya balik bertanya pada ibu satu anak itu tentang studinya. Bla bla bla, dengan ramah pula wakil rakyat bergelar sarjana sosial ini menyebutkan belum melanjutkan studi ke S-2 karena persoalan repotnya membagi waktu untuk tugas dan sekolah.

“Anak saya cuman satu tapi masih kecil,” jawab Suryani Anya, kelahiran 2 Maret 1990 tersebut.

Di pengujung pembicaraan kami memutus pembicaraan karena Anya akan melakukan kunjungan kerjadi luar kantor. Saya pun mohon pamit kepadanya karena ingin bertugas lagi di tempat lain.

Mohon pamit Bunda, saya akan tugas lagi meliput Gubernur Banten Wahidin Halim yang sedang berkunjung untuk rapat kordinasi dan evaluasi kinerja di lingkup Pemkab Tangerang.

EDY SYAHPUTRA TANJUNG

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply