Sekolah Ramah Anak dan Pengalaman Mendirikan



Sosialisasi tentang Sekolah Ramah Anak di Kabupaten Tangerang

KAB TANGERANG, BantenLink — Demi perlindungan anak tempat pendidikan akan dijadikan sebagai sekolah ramah anak (SRA). Kepala sekolah mengusulkan SRA yang nantinya akan ditindaklanjuti Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik), Kepala Kementerian Agama (Kemenag), Bupati dan seterusnya agar persoalan perlindungan terhadap anak dapat tuntas.

Landasannya, yakni Pasal 28 7B (2) UUD 1945. menyebutkan: Setiap anak berhak atas keberlangaungan hidip, tunbuh dan berekmbangvserta berhak atas perlindungan dari kekerasan dandisjriminasi. Pasal 54 UUPA menyebutkan7: Anak di dalam dan lingkungan selkolawajib dilindungi dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh guru atau lembaga…

Menurut Elfi Hendradi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam sosialisasi SRA terhadap sekitar 30 kepala sekolah dari berbagai lembaga pendidikan beberapa waktu lalu, sosialisasi yang diadakan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPA) Kabupaten Tangerang berkomitmen bagus agar wilayah tersebut memiliki program sekolah sehat, berkarater dan sebagainya.

Namun disebutkannya, SRA tidak melihat pada rasio ukuran, selain berkomitmen menghindari semua yang membahayakan anak ketika di dalam sekolah. Misalnya, menghindarkan anak didik dari makanan tidak sehat, narkotika, obat-obatan, radikalisme dan sebagainya. Artinya, orang dewasalah yang menghindarkan mereka dari hal yang berbahaya.

Komitmen untuk SRA, dilakukan jika ada mau, mampu dan maju. Setelah itu, daerah mendampingi, mengurangi resiko agar anak terlindungi. Sebab anak harus hidup dan tetap hidup. Adanya sosialisasi sebagai bukti pemerintah daerah bertanggung jawab dan melaporkan pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang melakukan monitoring dan evaluasi SRA.

Selain itu, sekolah yang sudah maju diminta agar menggerakkan sekolah lainnya.

Prinsip SRA nondiskriminasi, setiap yang diambil dapat bermanfaat atau tidak untuk hidup dan berkembang sesuai tumbuh kembang anak dengan mengurangi resiko negatif. Juga bagaimana anak didengar suaranya dan dilibatkan dalam suatu kesepakatan. SRA harus selaras dengan pendidikan di rumah.

Beberapa komponennya seperti kebijakan SRA, mendaftar, SK Daerah, melapor ke DPPA. Kemudian membuat kebijakan, komitmen seperti anti bully, kerjasama dengan membangun jejaring, memastikan anak tetap hidup, dekat dengan kantor polisi, rumah sakit dan sebagainya. Kasus bisa terjadi dimana saja untuk itu yang diperlukan kecepatan mencari solusi.

Kalau ada kebakaran dengan segera menelpon pemadam kebakaran. SRA dipersiapkan, Setelah sekolah mendapatkan SK Pemda harus melatihnya agar sekolah berpersfektif anak. Membuat dan menumbuhkan disiplin positip dengan sebagai bukan hukuman. Seperti memakai helem jangan hanya karena takut polisi.

Membuat kesepakatan, ketika ada anak yang mengganggu anak lainnya, semua harus minta maaf, meluruskan kesalahan. Ketika ada anak yang menumpahkan air dia sendiri yang membersihkan.

Di SRA tidak ada anak yang satu merendahkan anak lainnya dengan julukan. Membangun keakraban, melihat anak sebagai karakter yang unik. Proses pembelajaran menyenangkan. Sarana prasarana ramah anak. kalau wc kurang yang penting cukup penerangannya dan selalu dibersihkan serta anak-anak diajar menyiram, terutama bagaimana anak selamat di wc.

Ada papan nama untuk motivasi internal dan eksrernal. Malu berbuat sesuatu yang tidak ramah anak, cahaya cukup, pintu dibuka keluar. Disediakan rambu dekat jalan raya. Kalau ada kantin adalah kantin sehat. Di kantin SRA menjual makanan sehat. Pedagang diajak menjual makanan sehat.

Ada ember kecil dan gayung untuk mengajarkan kebesihan meskipun membuatnya dari barang bekas dicat. Sarpras Unit Kesehatan Sekolah (UKS) harus lengkap. Komitmen SRA melibatkan partisipasi anak dengan berkomitmen, orang tua, anak dan sekolah sesuai visi sekolah.

Ada konsekuensi positif ketika ada pelanggaran, darang tepat waktu. Berfikir positip lebih kreatif, membuat program menyenangkan anak. Partisipasi orang tua sebagai pilar ketiga setelah guru dan murid.

Komunikasi dijalankan. Selain melibatkan orangtua juga melibatkan alumni dan dunia usaha. SRA bercerita profesi, alumni dan dunia usaha.

Jika anak distigma sebagai anak nakal anak maka akan lari ke rumah ketiga yaitu kelompok jalanan yang disana mendapatkan jatidiri dan diakui martabatnya.

Pagarnya agama, etika, agar selamat dimulai dari kelas ramah anak sehingga merambah ke kelas lainnya.

Sementara itu, Ratna selaku kepala SMA Negeri 3 Jakarta, menyebutkan SRA di sekolah yang dipimpinnya melibatkan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Agar sekolahnya ramah anak dibuatkannya gazebo yang juga dapat difungsikan seperti perpustakaan alam.

Begitu juga dengan UKS yang membuat tanaman tanaman obat keluarga (Toga). Sekolah yang dulu dikenal sering tawuran kini diakuinya aman tanpa pem-bully-an. Menurut dia, menyebu e gendut saja bisa membuat sakit haji atau tidak. Pem-bully-an lainnya, anak baru yang dulunya disuruh-suruh di sekolahnya kini menpunyai hak yang sama.

Juara 2 Kepsek berperstasi tahun 2017 ini, kepada orang tua siswa dipesankannya agar anak-anak yang dibangunkan harus dengan sopan santun. Sedangkan di sekolah, setiap hari Jumat sekolah mwnyediakan serabi solo dan bandung serta minum bandrek jumat sehat. Di sekolah tidak ada sanksi, namun ada terimakasih. Misalnya, terimakasih anda telah membuang sampah pada tempatnya.

Ratna yang memberikan nomor kontak 081210015528 mengakui telah menerima kunjungan dari Pemrop Jawa Timur, Bekasi dan daerah terpencil lainnya. Mantan Kepsek SMA Negeri 29 Jakarta ini menceritakan awal masuk dan mengenal SRA.

Diceritakannnya, awalnya siswa SMA Negeri 29 Jakarta suka berantam pada malam hari, sehingga dirinya mendatangi Kementerian PPPA dan mendapatkan informasi program SRA.

Semua pihak wajib ikut bberkontribusi, maka perlu deklarasi dan berkomitmen seperti apa SRA di Indonesia.

Saat menjadi Kepsek SMA Negeri 3 Jakarta pun dialaminya hal yang sama. Di sekolah yang banyak orang-orang terkenal itu tak lepas dari bullying, untuk menjadikannya SRA sehingga mengajak semua fihak berkomitmen bangkit untuk menjadi teladan dan membuat prilaku anak menjadi santun.

Banyak kegiatan kegiatan yang harus dibuat, seperti sesaat sadar gizi dengan sarapan yang seimbang dan sarapan bersama. Adanya bullying, diatasi bersama-sama. Melibatkan orang tua dan komite sekolah. Yang buka kantin komite dan orangtua, sehingga anak jadi tidak ada lagi yang merokok.

Apabila ada anak yang merokok, sanksi bersama diberlakukan, sebagai konsekuensinya yaitu kantin sekolah tidak dibuka selama 3 hari. Hal ini mengakibatkan 1000-an siswa dan 100 guru tidak makan yang akhirnya tidak ada lagi siswa yang merokok.

Jadi dalam SRA yang terpenting harus mengutamakan kepentingan anak. Ada anak cacat, kepentingan anak tersebut harus didahulukan. Kebijakan sangat penting untuk SRA demi menjadikan sekolah teladan demi teladan.

Pasal 28 7B (2) UUD 1945. menyebutkan: Setiap anak berhak atas keberlangaungan hidip, tunbuh dan berekmbangvserta berhak atas perlindungan dari kekerasan dandisjriminasi. Pasal 54 UUPA menyebutkan7: Anak di dalam dan lingkungan selkolawajib dilindungi dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh guru atau lembaga…

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply