Irgan Chairul Mahfiz Ingatkan Warga Panongan Toleransi di Sosialisasi 4 Pilar



Anggota DPR RI Irgan Chaerul Mahfiz bersama warga Panongan pads kegiatan Sosialisasi 4 Pilar, Rabu (14/4/2018)

KABTANGERANG, Banten Link — Anggota DPR MPR RI Dapil Banten III, Drs H Irgan Chairul Mahfiz MSi, Kamis (18/4/2018), melakukan sosialiasi 4 Pilar kepada sekitar 100 warga di rumah makan “Saung Sibungsu” di Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, Kamis (18/4/2018).

Menurut politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), kegiatan dilaksanakan untuk memberikan pemahaman pada masyarakat tentang 4 pilar, yakni Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Sebagai bangsa Indonesia kita bersyukur dengan beragam suku bangsa dan agama yang ada. Untuk itu perlu saling menghormati dan bertoleransi pada berbagai perbedaan,” ungkap Drs H Irgan Chairul Mahfiz.

Dicontohkannya, saling menghargai dengan adanya perbedaan agama tercermin dengan bongkar Ketuhanan Yang Maha Esa pada Pancasila, dengan menghapus kalimat menjalankan syariat bagi umat Islam. Hal ini dilakukan, karena agama selain Islam akan memprotesnya.

“Kita sangat luar biasa, meskipun agama bermacam-macam, suku bangsa sekitar 700 macam, tapi selalu dalam keadaan damai dan harmonis. Tak lain karena saling menghormati dan toleransi. Tidak ada yang paling berkuasa. Yang besar harus menghormati yang sedikit, begitu sebaliknya,” paparnya.

Kalau dikaji, tambah Irgan Chaerul Mahfiz, jumlah agama Islam sekitar 87 persen harmonis dengan agama, Kristen, Budha, Hindu dan lainnya yang minoritas. Suku Jawa yang paling banyak berkisar 100 juta mengalah memakai bahasa Melayu sebagai bahasa bahasa nasional. Peci menjadi topi nasional, padahal berbeda-beda bentuknya di tiap suku bangsa. Seharusnya blangkon yang menjadi topi nasional.

“Indonesia sangat unik dengan keberagaman masih stabil karena adanya presiden hingga kepala daerah. Berbeda dengan negara lain seperti Yaman, yang saling tembak dan tidak aman. inilah yang harus terus kita jaga dengan Pancasila sebagai ideologi negara, UUD sebagai pemandu negara, NKRI sebagai perekat negara yang bukan federal dan bhinneka tunggal ika sebagai simbol persatuan bangsa, ” katanya lagi.

Dilanjutkannya, ada negara yang membedakan jenis kulit. Yang kulit hitam tidak bisa masuk ke tempat-tempat kulit putih, dan sebaliknya. Untung ada Nelson Mandela yang melakukan perubahan. Di Malaysia begitu juga, hingga timbul ketegangan antarras Melayu, India dan Cina sehingga akhirnya dalam kegiatan harus masing-masing harus ditampilkan.

EDY TANJUNG

Foto bersama Irgan Chaerul Mahfiz dan warts Kecamatan Panongan

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply