Camat Panongan Perlu Dilatih Kehumasan agar Bisa Hadapi Wartawan



Camat Panongan (berbaju putih)


KABTANGERANG — Bupati Tangerang, dibawah pimpinan Hermansyah, perlu membimbing bawahannya soal kepribadian agar bisa menghadapi insan pers. Selain untuk menumbuhkan kepercayaan diri, juga tidak harus menghindar saat ditanyakan. Bahkan seharusnya bisa memanfaatkan potensi si penyambung informasi yang juga pengontrol sosial itu.

Pasalnya, sebagai figur publik, didasari name make news, pejabat wajar saja dikejar wartawan. Untuk itu perlu pula mendapat pendidikan kehumasan agar tak lagi khawatir dengan kehadiran kuli tinta. Dengan mengetahui kehumasan akan malah menjadikan jurnalis sebagai mitra kerja menguntungkan dalam penyebaran berita baik.

Sayangnya tidak begitu dengan Camat Panongan Kabupaten Tangerang, Saras Prima. Entah karena arogan atau tak punya bekal jawaban saat ditanya-tanya, waktu bantenlink.com, Rabu (14/3), menanyakan kegiatan pengukuhan Pengurus MUI dan DMI di wilayahnya, dirinya malah tergesa-gesa meninggalkan penanya.

“Tahukan, saya dari dulu tidak suka diwawancara wartawan. Saya kan punya atasan,” ujar Camat Prima ketus untuk mengelak saat ditanyakan kegiatan pengukuhan MUI, ketika bertemu lagi beberapa saat sesudahnya.

Tak hanya menghindari pertanyaan, saat akan difoto saat beramah-tamah dengan para ulama, figur pejabat ini pun mengelak. Seolah meminta dukungan, Saras Prima mengatakan seolah meminta dukungan: “Pak Kiai pun marah jika di foto sedang makan.”

Wartawan yang sudah terbiasa menghadapi pejabat yang asal jawab memberikan pemahaman: “Pengalaman saya ini Bu Camat, Pak Kiai tak pernah marah difoto dan diwawancara wartawan. Karena fungsi ulama, umarah dan pers adalah sama sebagai penyampai atau dai.”

Mendapat persuasi wartawan, Camat Panongan pun berkilah menjawab: “Saya habis sakit. Kalau nggak percaya tanya sama pak kiai. Iya kan Kiai,” kilah Saras Prima lagi. Maksudnya tentu agar tidak ditanya-tanya lagi. |

EDY TANJUNG

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply