Ketua MUI Kota Tangerang Tausiah di Pernikahan Nyimas Ayu, Bikin Haru



Supri dan Ayu

Ketua MUI Tangerang  KH Edi Junaedi memberikan tausiah pernikahan

KH Edi Junaedi memberikan tausiah pernikahan

KOTATANGERANG | BantenLink — Ketua MUI Kota Tangerang, KH Edi Junaedi, mempunyai cara gampang menasehati orang yang menikah. Dalam bertausiah ulama kharismatik berusia 83 tahun ini langsung saja ceplas-ceplos kepada kedua mempelai.

Maksudnya, agar kedua mempelai harus meminta maaf kepada orangtua tua lantaran masih merepotkan mereka sampai menikah. “Nanti akan dirasakan (pengantin) juga,” katanya.

Hal itu disampaikan KH Edi Junaedi, seusai pelaksanaan akad nikah Nyimas Ayu Nursyahfitri SE Sy dan Supri Andrian SE Sy. Kegiatan pernikahan di Gedung KNPI pada 17 Pebruari 2018 ini diantaranya dihadiri antara lain pejabat pemerintah diantaranya Kasat Pol PP Kota Tangerang, Mumung Nurwana Kaonang, yang juga menjadi saksi pada akad nikah.

Mempelai putri sendiri merupakan putri pembina Majlis Dzikir Al Ikhlas Endang Haryana Tajuddin Syarif dengan Nuryana, selaku pengasuh Pondok Pesantren Thariqat Qadriyah wa Naqsabandiyah, yang berguru kepada Syekh Ahmad Kazim Asnawi Caringin.

Kembali ke soal nasehat perkawinan tadi, KH Edi Junaedi berpesan, kedua mempelai jangan pernah durhaka terhadap kedua orangtua. Dan yang sangat perlu diperhatikan, pesannya, lebih dulu sungkem kepada ibu, baru kemudian minta maaf pada ayah.

“Kenapa lebih dulu sungkeman kepada ibu? Karena dialah yang mengandung dalam rahimnya. Waktu ngidam makanan, mau makan pun sudah ‘uek’ duluan,” ujar kiai yang kelihatan awet muda itu .

Sempat pula KH Edi Junaedi menanyakan mengapa Ayu mau kawin dengan Supri dan sebaliknya. Hadirin saat kedua pengantin ini tak menjawabnya. Ketua MUI pun menjawabnya: Adapun menikah itu karena adanya mawaddah atau cinta. Mencintai itu, lanjutnya, karena ada yang mengikat yaitu orang yang menyenangkan. Jadi, mawaddah sebagai ikatan cinta.

“Kalau sudah menghadapi susah, yang timbul adalah kasihan atau rahmah). Coba bayangkan, dulu istri cantik saat menjadi nenek-nenek menjadi peyot. Makin sering dengar sakit tulang makin kasihan. Makin bolot makin kasihan.Laki yang sudah kakek kakek menjadi bolot. Makin nyusahin, tapi yang timbul rahmah,” terang Edi Junaedi.

Di penghujung tausiahnya berpesan: Kalau tak ada rahmah semua rumah tangga putus. Untuk itu sebagai suami atau istri, kuncinya harus saling menghargai. Kalau ada masalah penyelesaiannya adalah musyawarah. |

EDY TANJUNG

Tags:
Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply