Majlis Dzikir: A Zaki Iskandar Putra Daerah Tangerang Keturunan Sumedang Larang



Pimpinan Ponpes Majlis Dzikir Al Ikhlas Al Fakir Habibullah Kiai Endang Haryana Tadjuddin Syarif al Bantani

Bupati Tangerang A Zaki Iskandar

TANGERANG | BantenLink — Realitas politik menjelang Pilkada di Kabupaten Tangerang, Banten, pada 2018 ini sangat menarik untuk dikaji. Soalnya, tidak hanya lantaran A Zaki Iskandar yang mencalonkan diri menjadi Bupati Periode 2018-2023 kembali dan didukung 12 partai politiksehingga menimbulkan kotak kosong,
tapi mencuatnya hal diluar kebiasaan namun mengemuka di masyarakat. Sistem kerajaan Banten memang tidak ada, tapi keturunannya masih berkembang di birokrasi, sehingga keistimewaan Banten sering disamakan dengan Yogyakarta.

Terlebih, A Zaki Iskandar yang sebagai anggota DPR dari partai Golongan Karya tersebut, dari kabar yang beredar di sebut-sebut, berlawanan berpasangan dengan siapa saja dan melawan siapapun, akan tetap  menang di Pilkada.

Pimpinan Pondok Pesantren Majlis Dzikir Al Ikhlas, Kiai Endang Haryana Tadjuddin Syarif mengatakan, petahana Bupati Tangerang, A Zaki Iskandar, termasuk juga Walikota Tangerang Arif R Wismansyah dan Bupati Lebak Iti Oktavia, adalah orang Banten tulen. Disebutkannya, realita politik tentang tidak adanya lawan politik incumbent tersebut, tidak terjadi begitu saja. A Zaki Iskandar selaku Bupati Tangerang dipertahankan karena ada kaitannya dengan kerajaan Sumedang Larang yang terkait Kesultanan Banten tempo doeloe berkuasa di Tangerang. Begitu juga halnya Arif R Wismansyah, dipertahankan memimpin Kota Tangerang sebab keturunan Sumedang Larang yang pernah berkuasa di Cirebon. Juga Iti Oktavia dipertahankan di Kabupaten Lebak lantaran berasal dari keluarga Tubagus Banten.

“Kekuatan adat istiadat untuk memilih putra daerah  di ranah birokrasi yang memiliki  kehirarkian masih  kuat di Banten. Tak terlepas dari persepsi bahwa keturunan Sultan Hasanuddin dan Sumedang Larang yang bersaudara atau satu susuhunan. Jadi, Zaki Iskandar pun masih serumpun dengan keluarga Ibu Atut (mantan gubernur Banten),” papar Ustadz Endang Haryana di kediamannya pada bantenlink.com baru-baru ini.

Dijelaskan kiai yang mengasuh pondok pesantren dan mengelola baitul mal di kawasan kecamatan Jambe itu, untuk melihat sistem kerajaan, hingga kini wilayah Serang, Cilegon, Pandeglang dan Kota Tangerang Selatan masih dipimpin keturunan Tubagus, sedangkan untuk Kabupaten Tangerang Kota Tangerang masih terkait dengan keluarga Sumedang Larang. Pemahaman tentang putra daerah yang harus memimpin di daerah-daerah Banten, tambahnya, telah dimulai sejak terbentuknya Provinsi Banten dan pernah pula mengemuka pada kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ahmed Zaki Iskandar sendiri yang masih kental adat dan tradisi  hirarki kebantenan masih serumpun  keluarga Tubagus Chasan Sohib (ayahanda Ratu Atut Chosiyah), karena keturunan Pangeran Sumedang Larang.

“Keturunan di Banten, bisa berdasarkan perkawinan silang. Misalnya, perkawinan keturunan pangeran dengan keturunan bangsawan, ningrat atau menak melahirkan keturunan Tubagus (ratu untuk perempuan). Pongkol keturunan Banten ada di makam Pangeran Maulana Yusuf,” terang Ustadz Endang Haryana.

Dirinya dapat menceritakan yan
dari cerita orang tua, terlebih masih merupakan keturunan Demang Usman Raksa Praja yang menguasai Banten di bumihanguskan itu, dimana makamnya hingga kini ada di Carita Labuhan.

Terkait Aria Wangsakara

A Zaki Iskandar yang merupakan putra mantan Bupati Tangerang Ismet Iskandar dengan Hj Chandra Elia. Orangtuanya yang tinggal dekat sungai Cisadane bisa dikaitkan dengan keberadaan Raden Aria Wangsakara di Tangerang, yang bersama isterinya, Nyi Mas Nurmala seorang anak dalem Bupati Karawang Singaprabangsa, yang suatu ketika hijrah meninggalkan raja  Sumedang Larang, Sultan Syarif Abdulrohman. Ceritanya, Aria Wangsa Kara bersama Aria Santika dan Aria Yuda Negara datang ke wilayah baru karena ingin mengembangkan agama Islam. Sesampainya di Tangerang, Aria Wangsakara bersama dengan dua saudaranya dan sekitar 500 orang pengikutnya bermukim di tepi sungai Cisadane dan mengajarkan agama Islam, karena pernah menjadi penasehat di kerajaan Mataram, di pondok pesantren dan masjid yang didirikannya. Ketiga tumenggung itu juga mendapatkan restu dari kerajaan Banten di bawah kepemimpinan Sultan Maulana Yusuf, selain bertugas menjaga wilayah dengan membangun benteng di tempat yang diberi nama Lengkong Kiai.

Wilayah kekuasaan Aria Wangsa Kara berada di sebelah barat benteng Belanda yang berbatasan sungai. Sekira 1652-1653, di masa kepemimpinannya pernah bertempur dengan Kompeni Belanda. Inilah disebut sebagai awal perlawanan masyarakat Tangerang melawan penjajah.|

EDY TANJUNG

Tags:
Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply