Lingkungan Hidup Kab Tangerang Jadikan Lengkong Kulon Pilot Project Produksi Komunitas Bambu



Berpose setelah pemaparan tentang konservasi dan pembentukan komunitas bambu

TANGERANG I BantenLink — Semakin langkanya pohon bambu dan kembali tingginya Kesadaran masyarakat menggunakan alat-alat dari bambu membuka lapangan kerja dan membuat Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan berinisiatif mengonservasi tanaman bambu dan membentuk komunitas bambu.

Kabid Konservasi dan Taman DLHK, Asep Jatnika, mengatakan bahan dan hasil produk bambu saat ini kembali diminati, tak lain karena kuat kuat, artistik dan juga ramah lingkungan. Selama ini diketahui, bambu terkenal kuat. Mulai dari bahan bangunan rumah hingga alat-alat rumah tangga. Sekaligus membuka peluang usaha.

“Namun karena sulitnya belakangan ini mendapatkan bambu karena keterbatasan lahan, membuat DLHK bekerjasama untuk menghadapinya. Karena perlu konservasi bambu di lahan pinggir sungai agar bisa dilestarikan kembali dan memberikan pelatihan ketrampilan masyarakat untuk bisa kembali menjadi pengrajin bambu,” papar Asep Jatnika pada bantenlink.com, Rabu (20/12/2017).

Hal ini mengemuka saat temu karya dan pembentukan komunitas pecinta bambu di aula Kantor Desa Lengkong Kulon. Dalam kegiatan yang dihadiri 100 perangkat desa, tokoh dan masyarakat itu, mengenai langkanya tanaman bambu serta sulitnya mencari pekerja profesional, membuat DLHK memberikan solusi dengan mengadakan temu karya. Pihaknya juga menjalin kerjasama dengan para Dinas, seperti Koperasi, Pertanian, Perdagangan pertanahan, dan Bappeda.

“Perlu sinergi antar intansi terkait saat ini di wilayah Kabupaten Tangerang dengan banyaknya bangunan sulit mendapatkan pohon bambu. Sementara permintaan bahan baku dan alat-alat dari bahan bambu semakin tinggi. Satu-satunya jalan untuk mengatasinya adalah melakukan konservasi di pinggir daerah aliran sungai,” terang Asep Jatnika lagi.

Ditambahkannya lagi, Desa Lengkong Kulon yang memiliki sungai sebagai tempat konservasi akan dijadikan pilot project pemberdayaan kembali pengrajin dan konservasi tanaman bambu. Nantinya diharapkan pengrajin bambu yang selama ini mendatangkan pohon bambu dari daerah lain seperti kabupaten Bogor dan Lebak akan mudah mendapatkan di daerah sendiri untuk bahan produksi.

“Untuk konservasi bambu membutuhkan waktu selama 4 tahun baru bisa dimanfaatkan. Jadi paslah, selama itu melatih masyarakat ketrampilan. Saat masyarakat sudah punya keahlian dan panen tanaman bambu, kita tidak perlu lagi mendatangkan bambu dari daerah lain.

Lebih jauh dikatakannya, sebagai pilot project Desa Lengkung Kulon akan dibangun secara berkesinambungan sampai nanti terlihat atau didapat hasilnya. Dengan dibentuknya komunitas pecinta bambu, diharapkan dapat mengembangkan hasil produk dari bahan bambu.

“Setelah produk berbahan bambu berkembang, baik secara organisasi maupun sendiri-sendiri, masyarakat pecinta bambu bisa mencari dana CSR (corporate social responsibility) dari perusahaan, baik selaku “bapak angkat”atau kemitraan,” imbuh Asep Jatnika.

Soal pemasaran, imbuhnya lagi, saat ini produksi dari bahan bambu mudah didapatkan dari gerai-gerai tradisional dan pameran UMKM. Selain itu, karena ada kemajuan

“Dalam pemasaran hasil produksi bambu bisa dengan menggunakan online atau memanfaatkan social media. Mohon juga rekan media membantu menyosialisasikannya,” pinta Kabid Konservasi dan Taman DLHK. (Edy Tanjung)

Pengrajin menunjukkan beberapa hasil kerajinan bambu

Leave a Reply