Polres Tangsel Gagalkan Tawuran Senjata Tajam Komando Siswa SMK



Konferensi Pers Polres Tangerang Selatan, Minggu (17/12/2017)

Para tersangka pemilik senjata tajam tanpa izin yang akan melakukan penyerangan terhadap kelompok lain

TANGERANG | BantenLink — Siswa salah satu sekolah swasta di Kota Tangerang Selatan, menjadi provokator aksi rencana penyerangan oleh 83 dewasa dan anak terhadap kelompok lain. Pelajar berinisial MZ merupakan siswa SMK BIN, disamping 30-an orang lainnya tersebut, dijadikan polisi tersangka sebagai pengomando menyebarkan berita yang mengajak teman-temannya agar berkumpul dengan membawa senjata tajam di stasiun Pondokranji pada pukul 02.30 WIB dinihari, sebelum diringkus polisi.

Kapolres Tangerang Selatan, AKBP Fadli Widiyanto SIK SH MSi, Minggu (17/12/2017), menyebutkan MZ dan lainnya, disangkakan berkumpul dan membawa senjata tajam yang dilarang negara di muka umum. Senjata tajam rencananya akan digunakan untuk melakukan tawuran antar kelompok warga di luar kampungnya yang dikabarkan mengancam kelompoknya,” ujarnya.

Ditambahkan Fadli Widiyanto, penangkapan para tersangka dilakukan saat kegiatan patroli bersama. Tim Reskrim Polres Tangerang Selatan dibawah pimpinan AKP A Alexander SH SIK MM MSi bergabung dengan Unit Reskrim Ciputat dibawah pimpinan Kapolsek Ciputat Kompol Doni S SE.

“Saat ini pemilik senjata tajam dan barang bukti diamankan Polres Tangerang Selatan untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Pembawa senjata tajam semuanya warga Ciputat. Ada sebanyak 11 orang berstatus dewasa, dan yang lainnya anak dibawah umur berusia antara 14-17 tahun,” imbuhnya.

Dalam razia Tim Vipers Gabungan dari Sat Reskrim Polres Tangerang Selatan menggagalkan aksi tersebut berhasil menyita senjata tajam berbagai jenis, terdiri 13 bilah celurit, 2 bilah golok, 1 bilah badik, 2 bilah pedang, 1 buah besi panjang, 1 bilah golok sisir, 1 bilah pedang samurai, 2 buah besi lancip dan 2 bilah kelewang.

“Sebanyak 31 tersangka dari 83 preman yang terjaring razia, menjadi tersangka kepemilikan senjata tajam yang dijerat Pasal 1 ayat 2 Undang Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan hukuman sampai seumur hidup,” katanya.

Sedangkan bagi anak di bawah umur yang ditahan, lanjut Kapolres Tangerang Selatan, akan menghubungi orang tuanya. Untuk proses penyidikan lebih lanjut, polisi akan memperhatikan hak anak-anak dengan memfasilitasi pendampingan Bapas dan P2TP2A.

“Kami juga memanggil pihak sekolah untuk keterangan pembinaan kedisiplinan siswa serta melakukan tes urine mengecek apakah ada indikasi penggunaan narkoba atau minuman keras,” tandasnya. (Titing/Edy)

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply