Perencanaan & Pengawasan Jelek Sebab Jalan Kab Tangerang Terus Rusak

Pengerjaan turap (talud, bronjong) sebagai penahan tanah jalan Suradita-Kranggan agar tidak longsor

TANGERANG | BantenLink — Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang dan pihak swasta selaku pelaksana, Inspektorat diduga tidak bersinergi dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di daerah tersebut.

Seperti dalam pengerjaan infrastruktur jalan Suradita-Kranggan di Kecamatan Cisauk, meskipun telah menelan APBD bermiliar-miliar rupiah, proyek jalan milik Kabupaten Tangerang yang telah memakan waktu sejak pertengahan 2016 hingga akhir 2017 tetap jelek dan belum juga selesai.

Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Rumah Mutiara, Edy, mengatakan, seandainya ada sinergitas diantara stakeholder dengan pengawasan optimal, perbaikan jalan Suradita-Kranggan niscaya mendapatkan predikat bermutu dengan catatan anggaran terserap dengan efektif atau tidak terjadi pemborosan.

“Sayangnya dalam pengerjaan infrastruktur di perbatasan Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan tak demikian yang terjadi, karena hingga kini di penghujung tahun 2017 belum bisa digunakan,” ucap pemimpin LSM MARA itu.

Dikatakannya, akibat penelitian atau pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan pengawas yang diduga tidak profesional berakibat seperti penghambur-hamburan biaya saja. Lembaga yang berfungsi mengawasi seperti inspektorat, BPK termasuk DPRD seolah tidak berfungsi.

Jpeg

Turap Tak Efektif?



Catatan bantenlink.com jalan Suradita-Kranggan lagi-lagi belum bisa digunakan kembali setelah diperbaiki PT Mustika Cilancar Abadi dan dibuat jalan baru dengan biaya Rp 3.864.812 000.

Tak cukup sampai disitu, kini Pemkab Tangerang yang menyebutkan pengkajian kondisi tanah yang labil dan terdapatnya mata air menggunakan ahli UI, kini mulai membuat turap (talud, bronjong) sebagai penguat tebing badan jalan yang jauh diujungnya terdapat saluran air kecil. Namun pihak social control mempertanyakan sejauh mana fungsi turap berjarak sekitar 50 meter dari badan jalan itu.

Turap tersebut juga diduga menghamburkan biaya karena dari papan proyek tercantum biaya Rp 2.935.839.000,- atau mendekati Rp 3 Miliar. Dikerjakan sepanjang 100 meter yang dikerjakan PT Prakarsa Karya Utama selama satu setengah bulan dengan menggunakan APBD-P.

“Kami nilai, perencanaan dan pelaksanaan proyek pembaikan jalan dan pembuatan turap tebing ini seperti main-main saja dan belum menyelesaikan masalah karena persoalan teknik konstruksi yang dipakai, sekalipun untuk penelitiannya didengungkan dilakukan oleh salah satu perguruan tinggi negeri ternama.

Untuk pembangunan turap, sepertinya tidak ada fungsi dan pengaruhnya untuk menahan badan jalan dari longsor. Kalau pekerjaan dilakukan demikian, kuat kemungkinan jalan Suradita-Kranggan yang telah banyak mengeluarkan biaya tidak dapat bagus,” papar Edy. (Ttg/Tim)

Mata air disamping labilnya tanah yang dituding sebagai penyebab jalan Suradita-Kranggan selalu rusak

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply