Menggeser Buku Konvensional Mengadopsi Inovasi Digital



BantenLink — Seorang mentor komunikasi mengabarkan tentang jumlah buku milik pribadinya yang berkurang drastis. Terkait postingan itu, di 2001, saya telah merasakannya. Bahkan gilanya, “memindahkan” habis-habisan 3 rak buku ke lapak di “Uwi”.

Tapi kini merasa beruntung, “sang jendela dunia” bisa ludes semua kala itu. Artinya, berhasil menjadikannya sebagai sumber pendapatan mendadak. Benak nakal saya bilang: Buku itu benar sumber pencerahan, bila laku dijual, setidaknya menyelamatkan saya dari demo anak bini yang meminta uang.

Habis jokul buku tamatkah cerita? Ternyata, beruntung ada rimah buku yang dibaca tersisa di kepala. Terutama untuk saya yang sudah sangat jarang membaca buku. Kehilangan buku tidak membuat saya merasa merugi, karena termasuk orang yang meyakini bahwa otak sebagai memori yang sangat sangat sangat pandai menyimpan ingatan tentang apapun.

Saya lanjutkan lagi cerita tentang buku: Intinya, setelah resign kerja, terfikir akan saya kemanakan buku yang nauzubilah sangat banyak itu. Aha, untuk mempotensikan buku, saya harus menggelarnya di suatu tempat. “Sang pencerah”, biarlah berpindah tangan asal sebagai peluang yang mendatangkan fulus.

Kawasan Depok memang tempat yang pas banget menjual buku teks bekas kuliah. Dulu, dijual di Kopma dan tempatnya di rak-rak berdebu. Harganya pun sangat murah, kurang laku dan terbitan lama. Tapi di kota pencetak intelektual itu, harganya bisa oke dimainkan karena sudah sulit dicari. Saya pikir inilah aji mumpung yang harus benar-benar harus dimanfaatkan.

Zaman kemudian saya anggap sebagai titik nol transformasi dari era konvensional ke digital. Kemudian, dalam waktu yang singkat, teknologi informasi sangat cepat berkembang. Kita semakin familiar dengan buku elektronik, buku mudah didapat dan dibaca dengan segenggaman alat canggih di tangan.

Kenekatan saya untuk merubah mainset tidak datang begitu saja. Sebenarnya motivasi menginspirasi saya setelah pak mentor bertanya: Kenapa membuat skripsi memakai mesin tik? Padahal sudah lama berada di zaman komputer. Kalau tidak punya komputer (1997) bisa mengetik di kantor atau ke warnet.

Saya sendiri bukanlah pekerja yang gaptek-gaptek amat. Selaku tukang setting tak hanya bisa mendesain label secara konvensional juga mahir memakai komputer. Nah, kembali ke android, sebagai kuli yang kuli-ahan mendapat materi tentang yang dinamakan adopsi inovasi.

Jadi, kehadiran internet telah mengubah pekerjaan yang sulit menjadi mudah. Apalagi, memanjakan si pemalas karena dengan gampang mencari dan meng-copas yang dibutuhkan macam apapun.

Singkatnya saya lulus dengan laporan otentik memakai mesin tik Royal.

Kembali cerita buku: Gara-gara rimah pemikiran yang masih menyangkut di benak, pascakuliah saya malah semakin suka mengkritik budaya kantor. Hingga akhirnya resign sendiri. Tak sempat menjadi penganggur, setelah melamar kerja langsung diterima sebagai jurnalis di media jaringan Grup Jawa Pos.

Sepertinya, saya juga tak punya kepandaian untuk betah sebagai pekerja lantaran ogah disuruh-suruh. Akhirnya minta mundur alias berhenti kerja lagi. Sampai datanglah ide “menggeser” ribuan buku santapan sehari-hari.

Soal buku, dulunya saya termasuk yang mengagendakan pembelian buku, dengan rutin menyisihkan penghasilan sebagai pekerja design graphics.

Saya tak kaget lagi, dengan terbitnya buku zaman now, saya telah duluan mencuri start, menjual hampir semua buku fisik. Bahasa ngeles saya, repot ngurusinnya kalo lagi pindahan. Habis lego buku-buku, didesak bini pula memanfatkan ilmu, akhirnya merapat lagi saya mejadi wartawan sungguhan.

Karena ingin banyak merasakan, saya gonta-ganti bekerja di surat kabar mingguan, meski dengan rajin mengirim berita secara rutin di sebuah online news terkemuka nasional. Sampai akhirnya berteman dengan blogger kawakan yang menyurati, menjadi teman dan merubah drastis pola pikir saya.

Dan soal buku lagi, untuk mendapatkan kebutuhan itu kini saya menggantinya dengan melakukan pencarian secara digital. (Edy)

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply