Beberapa Gaya Ngumpet Koruptor Ketika Dipanggil KPK

Bantenlink – Setya Novanto baru-baru ini dikabarkan mengalami kecelakaan, atau istilah kerennya “mencium tiang listrik.” Eh.

Sebelum ditetapkan tersangka pada tanggal 10 November, Novanto memang dikabarkan sempat “ngumpet”, alias kabur terbirit-birit.  Novanto dalam beberapa bulan terakhir memang selalu saja mangkir dari proses penyelidikan KPK.

Ada semacam ketakutan berlebih, sehingga Novanto selalu beralasan sedang sakit. Namun anehnya, penyakit Novanto tiba-tiba sembuh sendirinya, tak tahu dengan menggunakan jampi-jampi apa. Penyakit Novanto langsung sembuh ketika dirinya tak lagi ditetapkan sebagai tersangka, dan ketika memenangkan “duel” di pengadilan.

Beberapa pengamat politik beranggapan bahwa Novanto menggunakan jurus berkilah tingkat tinggi. Dengan tujuan tak lain menghindari kejaran penyidik KPK.

Untuk masalah “jurus ngumpet”, sebetulnya tidak hanya punya Novanto saja. Para tersangka koruptor lainpun sudah lama mempunyai strategi ini untuk kabur dari kejaran penyidik KPK. Siapakah gerangan para koruptor itu, berikut diantaranya.

1. Edi Tansil

Edi Tansil menjadi buron setelah tindakanya merugikan uang negara sebesar 1,5 triliun. Edi diketahui telah mengkorupsi pencairan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), ketika dirinya menjabat sebagai direktur.

Ketika Edi kemudian telah ditetapkan tersangka oleh KPK, apa hendak dikata. Edi ketakutan dan ngacir begitu saja menghilang entah diketahui rimbanya. Menurut surat kabar Antara News, Edi diketahui bersembunyi di Tiongkok untuk beberapa waktu yang lama.

Namun naas tak bisa dihindari. Edi tertangkap basah oleh KPK, dan kemudian dijatuhi hukuman selama dua puluh tahun, serta denda tiga puluh juta rupiah.

2. Ginandjar Kartasasmita

Siapa yang tak tahu dengan sosok Ginandjar Kartasamita ? Dia adalah pejabat dari Kementrian Pertambangan dan Energi di zaman Soeharto yang cukup terkenal. Ginandjar memang diketahui telah terlibat dalam persekongkolan cantik, atas korupsinya terhadap kasus Bantuan Kontrak Teknis (BKT) yang membelit dirinya.

Ginadjar diketahui menjadi aktor utama, yang merekayasa sumur-sumur minyak agar tak bisa membuahkan minyak kembali. Akibat tindakan Ginandjar, negara mendapat kerugian sebesar 24,8 Dolar Amerika.



Setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung). Kejagung langsung bersikap tanggap, dengan cara menyeret Ginandjar ke pengadilan.

Karena ketakutan, Ginadjar kemudian melakukan dramatisasi seolah-olah dirinya sedang sakit. Melihat hal itu, Kejagung segera memanggil dokter pribadi untuk melakukan pemeriksaan.

Eh tiba-tiba saja setelah dokter datang. Ginandjar justru lari “terbirit-birit” menggunakan mobilnya yang melaju dengan sangat kencang. Namun akhirnya, Ginandjar berhasil ditahan pada tanggal 6 Mei 2001 tanpa perlawanan berarti.

3. Sjamsul Nursalim

Bagi para generasi “kids jaman now” bekerja di bank adalah kebahagian tiada tara. Namun tidak dengan Sjamsul Nursalim. Sjamsul Nursalim memang menjadi merana ketika dirinya ditetapkan sebagai tersangka akibat menggelapkan kucuran dana kreditur untuk Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI). Akibat tindakanya, negara lagi-lagi dibikin bangkrut sebesar 6,7 triliun, yang jika sekiranya dibelikan krupuk dengan uang sebanyak itu. Niscaya bisa menenggelamkan kota Tanggerang tanpa tersisa.

Unikya, meski KPK dengan mesranya memanggil Sjamsul, dan istrinya Itjih Nursalim untuk hadir dipersidangan. Mereka selalu saja punya jurus jitu untuk mangkir. Kabarnya pasangan suami istri tersebut sedang menetap di Singapura hingga saat ini.

4. Setya Novanto

Novanto memang sedang hangat-hangatya dibicarakan publik, bahkan mucul banyak meme disana-sini yang ikut serta dalam memberitakan kepopuleran Novanto belakang ini. Sebetulnya, Novanto tidak hanya terjerat pada dugaan kasus korupsi E-KTP saja. Sejarah mencatat pada tahun 1999, Novanto disebut telah terlibat dalam penggelapan uang nasabah PT Bank Bali sebesar 546 miliar.

Namun karena Novanto bagaikan belut yang dilumuri oli, maka begitu licin sekali, sehingga dia lepas begitu saja, serta lolos dari jeratan hukum yang membelitnya. Kedua contoh di atas belum seberapa, karena memang Novanto sebetulnya sudah terlibat banyak dalam persekongkolan hitam tindakan korupsi.

Salah satunya yaitu kasus korupsi penyelundupan beras Vietnam (2003), kasus korupsi limbah beracun di Pulau Galang, Batam (2006), kasus korupsi Proyek PON Riau (2012), dan yang terbaru kasus korupsi E-KTP.

Jika kasus korupsi yang terakhir Setya Novanto lolos lagi, Panasonic Global Award agaknya perlu menggelari dia The Best Actor of The Year, karna kejagoan dia dalam memainkan drama. Ups

Hendri Gunawan

Author: 

hanya sekedar hobi menulis

Leave a Reply