Prestasi Seni Siswa Barometer Unggulan SMAN 3 Kab Tangerang

Dedy Hidayat, Kepala SMA Negeri 3 Kabupaten Tangerang

Jemmy S Sukendar memberikan bimbingan pada peserta didiknya

    Juara 2 Lomba Desain Batik Tingkat Nasional diselenggarakan 30 Oktober - 2 November di Universitas Bina Nusantara, Jakarta

Juara 2 Lomba Desain Batik Tingkat Nasional diselenggarakan 30 Oktober – 2 November di Universitas Bina Nusantara, Jakarta

TANGERANG | BantenLink — Senirupa menjadi mata pelajaran wajib di SMA Negeri 3 Kabupaten Tangerang, Banten. Pencapaian prestasi merupakan sesuatu kebanggaan di Sekolah yang dipimpin Dedy Hidayat tersebut.

Menurut guru senirupa, Jemmy S Sukendar, dengan prestasi yang diraih siswa dapat dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan pendidik dalam membimbing anak. Setiap siswa-siswi menjadi pemenang dalam perlombaan bidang studi, dinilai sebagai mata pelajaran unggulan.

“Misalnya, keberhasilan siswi kami kelas 12 bernama Stella Febriani baru-baru ini yang mendapat anugerah Juara II Lomba Desain Batik pada Pekan Keanekaragaman Budaya Nusantara dan Kreatifitas Pelajar tingkat nasional, yang diselenggarakan di Universitas Bina Nusantara (Binus) pada 30 Oktober hingga 2 November 2017,” paparnya, Senin (6/11/2017), pada bantenlink.com

Keberhasilan yang diraih siswa berbakat membatik itu, tak lepas dari pemberian semangat dan dukungan Kepala SMA Negeri 3 Kabupaten Tangerang beserta para Dewan Guru dan teman-temannya.



“Sebagai mata pelajaran wajib setiap minggu siswa-siswi mendapatkan 2 jam pelajaran senirupa, dimana 70 persen praktek dan 30 persen teori. Bahkan untuk menambah wawasan kami juga tetap memberi teori sewaktu praktek,” imbuh pendidik lulusan IKIP Bandung ini.

Lebih jauh disebutkannya, yang dipelajari dalam senirupa teori dan praktek berbagai aliran seperti naturalisme, realisme, kubisme, surealisme dan abstrak. Untuk pelajaran seni lukis setelah mendapatkan teori langsung dipraktekkan di atas kanvas atau media lainnya.

“Selain itu, peserta didik kelas 12 dibekali ketrampilan kesenian seperti membatik, membuat topeng dari kertas dan patung dari gip yang memadukan segala unsur-unsur seni,” imbuhnya. Namun diakuinya, untuk penilaian seni kembali lagi pada relativisme dan egoisme yang berdasar latar belakang penilainya.

Agar para siswa-siswinya memiliki kepercayaan diri dalam berkarya, Jemmy mencontohkan pelukis masyhur Vincent van Gogh dengan karya “Sun Flower”, pernah mendapat caci-maki atas inovasi yang dilakukannya.

“Semasa itu hasil lukisan serba halus. Tapi yang dilakukan van Gogh justru membuatnya lain dari yang lain sehingga dia dikecam. Namun pada akhirnya van High menjadi mahzab baru seni lukis,” urainya lagi.

Terkait hal itu, guru senirupa sekaligus menjadi pelukis yang di kala waktu senggang pada hari Sabtu dan Minggu, menyebutkan pendapat soal anak berbakat pada kegiatan seni rupa. Katanya, berbakat atau tidak asal punya kemauan, rajin berlatih akan menjadi terbiasa, berhasil dan berprestasi.

“Untuk para siswa sendiri agar rajin berkarya, saya selalu menyemangati meskipun sekolah baru memiliki studio sebagai sarana, sedangkan sejauh ini anak masih bawa sendiri bahan bahan untuk praktek senirupa,” terang Jemmy lagi.

Sebagai memotivasi dirinya menyampaikan keahlian senirupa masih langka. Sebutlah, jika ada pesta pernikahan yang dipanggil untuk mendekor adalah orang yang mempunyai keahlian senirupa.

“Sedang untuk yang ingin menjadi pendidik atau guru-guru kesenian termasuk langka. Berbeda dengan guru mata pelajaran misalnya Matematika atau Bahasa Indonesia yang banyak lulusannya. Makanya, anak didik yang menonjol kami berikan pendidikan tambahan, maksudnya sebaga bekal masuk perguruan tinggi,” papar Jemmy lagi.

Pada bagian lain disebutkan, SMA Negeri 3 Kabupaten Tangerang menjadikan ilmu senirupa termasuk sebagai pelajaran yang dibanggakan selain pelajaran kesenian lainnya, seperti Seni Tari dan Teater untuk kelas 10, Seni Musik dan Teater untuk kelas 11 dan Senirupa untuk kelas 12.

Di bawah kepemimpinan Kepala SMA Negeri 3 Kabupaten Tangerang, pak Dedi Hidayat, yang sangat mendukung adanya cabang-cabang pelajaran kesenian, menempatkan guru yang sesuai jurusannya. Seperti adanya guru tari, guru musik dan guru senirupa,” ungkapnya.

Dikatakannya, pada saat pentas seni dan pameran yang biasanya diadakan pada perpisahan siswa yang akan lulus. Semua cabang seni akan berkolaborasi, termasuk dalam bidang teater. Tapi karena tidak ada guru khusus terpaksa saling bertukar pengalaman yang dimiliki untuk mengajari siswa. (Edy Tanjung)

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply