Bangunan Mangkrak Pemilik Apartemen Eschol & Condotel Aston Dilabrak



Pembeli Apartemen Grand Eschol dan Condotel Aston melabrak pihak manajemen PT MAP

TANGERANG | BantenLink – Sekira 50 orang pembeli Apartemen Grand Eschol dan Condotel Aston Karawaci, beralamat Kecamatan Kelapadua, Kabupaten Tangerang, Kamis (19/10), melakukan demo di kantor PT Mahakarya Agung Putera (MAP) selaku pengembangnya di kawasan Gading Serpong.

Menurut salah seorang pendemo bernama John Chandra, aksi melabrak bersama PT MAP karena diduga melakukan pembohongan publik. Pasalnya, dari informasi yang diterimanya dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Tangerang di Tigaraksa, menyebutkan pembangunan hanya sampai 24 lantai.

“Anehnya, bisanya pengembang menjual kepada saya unit di lantai 25. Tak cuma itu, peruntukan yang seharusnya untuk apartemen, PT MAP bersama Archipelago International (Aston) membangun juga Condotel Aston Karawaci sebanyak 6 lantai dengan 121 ruangan,” ungkap pria yang membeli 2 unit apartemen itu pada bantenlink.com.

Lebih jauh John Chandra membeberkan, para pembeli unit apartemen Grand Eschol dan Condotel Aston yang tak kunjung selesai itu merasa terus dibohongi sejak April 2016. Bahkan melalui surat PT MAP dengan mudahnya selalu memberi harapan bahwa proyek akan selesai, meskipun kenyataannya omong-kosong. Tak mau dijanjikan lagi, akhirnya para pembeli unit apartemen yang mangkrak 1,5 tahun itu, menuntut pengembalian uang (refund) kepada pemilik PT MAP yang telah menerima uang pembelian apartemen.

“Masa transaksi pembelian tahun 2014 tapi hingga bulan Oktober ini bangunannya belum jadi-jadi. Bagaimana kami tidak gregetan mendatangi kantor ini beramai-ramai. Serah terima apartemen hanya tinggal janji karena proyek sudah lama berhenti dan tak ada kontraktor yang melanjutkannya,” terang John Chandra.

Sementara, salah seorang korban PT MAP lainnya, Franky, menjelaskan saat ini yang baru dibangun hanya kerangka 13 lantai dari 36 tingkat yang dipasarkan. Padahal, imbuhnya, sebagian dari 500-an pembeli sudah menyetor lunas pembelian apartemen plus PPN bernilai sekitar Rp 600 Juta per unit.

“Kami gak mau dijanjikan lagi. Dana kami yang sudah masuk ke PT MAP mencapai Rp 250 miliar. Pengembang MAP tidak fair dan tak beriktikad baik. Apalagi, pembayaran juga tidak melampirkan bukti pembayaran pajak dan PPJB yang berbeda antara pembeli satu dengan lainnya,” ketus Franky bernada sangat kesal.

Ditambahkannya, seharusnya PT MAP menyadari konsumen dilindungi ketentuan seperti Pasal 13 ayat 2 UU No 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun dan Pasal 18 UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Pantauan bantenlink.com, Hendra Murdianto selaku Direktur Utama PT MAP pada siang hingga sore hari tadi tak menemui para konsumennya. Kedatangan 50 pembeli apartemen hanya dengan komisaris lain PT MAP yang merupakan adik ipar bernama Andre.

Sayangnya, hingga ada meditasi antara 6 orang yang mewakili pendemo dan pihak manajemen yang dikawal tim kepolisian sektor (Polsek) Kelapadua, tetap tidak menghasilkan keputusan yang dituntut yakni mengembalikan uang konsumen.

“Memang selalu begini, mereka mengelak terus. Pada mediasi tadi lagi-lagi kami hanya dijanjikan untuk bertemu dengan Dirut PT MAP jam 2 (14.00 WIB) besok. Tapi tuntutan kami tetap, uang kami yang sudah masuk agar dikembalikan,” tegas Franky. (Edy Tanjung)

Jpeg

Tags:
Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply