MEMBUNUH TEMAN SENDIRI DEMI GAME ONLINE



SH tega membunuh teman mainnya di warnet,  Dwi Saputro (14)  siswa kelas VII SMP Tirta Buaran  Serua Ciputat, Tangerang Selatan untuk memenuhi hasrasnya yang kecanduan game online. SH membunuh Dwi menggunakan balok kayu berdiameter 5 cm yang panjangnya 1 meter di sebuah kebun saat mengajaknya berjalan-jalan.  Tindakan sadisnya dilakukan untuk menguasai HP korban yang nilainya hanya Rp 230 ribu untuk  dijual pelaku  ke outlet HP di Pamulang. Usai melakukan pembunuhan SH  dengan tenang kembali bermain game online di tempat biasanya mangkal.

Pecandu game Online ini terkesan “berdarah dingin”. Tidak tampak raut muka penyesalan yang ditampilkannya.  Tidak ada rasa bersalah saat menyampaikan kronologis pembunuhan yang dilakukannya.  Malahan yang paling berani  pelaku sempat mendatangi rumah korban menanyakan dimana Dwi  berada kepada kakak sepupu korban, Kiki. Lebih nekatnya lagi, pelaku malahan melaporkan adanya temuan mayat mirip Dwi kepada Kiki tanpa ada rasa takut sama sekali.

Kasus ini dapat terungkap berkat kesigapan polisi menelusuri alat bukti awal, berupa nomor ponsel korban.  Penegak hukum mencoba menghubungi nomor tersebut dan ternyata masih aktip di tangan pemilik gerai HP di Pamulang.  Pemilik gerai kemudian menyampaikan ciri-ciri penjual HP tersebut, dan akhirnya fakta mengarah ke SH.

Layaknya pemain sinetron, saat di tangkap dirumahnya di Parakan, Pondok Benda RT 003 RW 008, pamulang Tangerang Selatan, pelaku  tidak mengakui perbuatannya.  Namun bukti kuat yang dimiliki polisi tidak bisa membuatnya mengelak lagi. SH yang dikampungnya  dikenal sebagai pecandu game online , ini ternyata juga punya  kebiasaan buruk lainnya, yaitu sebagai pemabuk  karena gemar minum-minuman keras.

Untuk para orang tua saatnya mengawasi anaknya dengan kebiasaan buruk bermain game online berlebihan yang mengakibatkan kecanduan. Kontrol prestasi sekolahnya dengan inter aksi  yang baik dengan guru dan pihak sekolah. Kasus SH adalah bagian dari ratusan dan ribuan anak yang terpaksa berada di terali besi karena lemahnya control orang tua, ataupun malahan ketidakpedulian orang tua kepada anak-anaknya. Saatnya bertindak tegas dengan tetap mengedepankan cara-cara yang bijak dan persuasi untuk “menormalkan” anak-anak yang mulai maupun telah kecanduan game online.

Hendri Gunawan

Author: 

hanya sekedar hobi menulis

Leave a Reply