HAKIM AGUNG YAMANIE DIPECAT TIDAK HORMAT

Persidangan Majelis Kehormatan Hakim (MKH) menyatakan Hakim Agung Achmad Yamanie terbukti melanggar kode etik dalam kasus Peninjauan Kembali gembong narkoba Hanky Gunawan.  Dia jelas-jelas merubah keputusan Majelis Hakim yang terdiri dari Ketua Majelis hakim Imron Anwari dan Hakim Agung Nyak Pha  dari semula 15 tahun menjadi 12 tahun, melalui tulisan tangannya.

Sebagai tindak lanjut ditemukannya berbagai kejanggalan tersebut, Komisi Yudisial (KY) segera memeriksa  Hakim Agung lainnya yang terkait dengan keputusan tersebut dengan melibatkan saksi-saksi termasuk Yamanie dan PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan).



Kasus ini bisa terungkap karena gencarnya penggiat anti narkoba mempublikasikan kejanggalan keputusan MA terkait hukuman mati  pemilik beberapa pabrik ekstasi yang telah berproduksi Hanky Gunawan menjadi 15 tahun. Dalam perkembangannya ditemukan kejanggalan baru ternyata putusan PK yang diterima Pengadilan Negeri Surabaya malah dikurangi menjadi 12 tahun penjara, diduga akibat tulisan tangan Achmad Yamanie yang mengganti vonis tersebut.

Hakim Agung bermasalah ini dalam pembelaannya tidak mengakui tulisannya yang merubah vonis tersebut.  Padahal pada pemeriksaan internal MA, dia sendiri menyatakan bahwa perubahan tersebut adalah  tulisannya. Inilah yang dalam pandangan MKH keterangan Yamanie tidak dapat diterima. Argumentasinya dinilai tidak logis dan tidak disertai bukti.

Sebelumnya, hakim Pengadilan Negeri Surabaya memvonis Hanky 15 tahun penjara, sedangkan Majelis hakim  Pengadilan Tinggi Surabaya menambah hukuman jadi 18 tahun penjara. Di tingkat MA. Majelis Hakim Kasasi menghukum Hanky dengan pidana mati. Muncul keanehan saat penjahat kemanusiaan Hanky Gunawan yang secara terang benderang memproduksi psikotropika malahan di Majelis Hakim PK dikurangi hukumannya jadi 15 tahun, dan kemudian secara tidak etis dirubah jadi 12 tahun oleh Yamanie.

Hendri Gunawan

Author: 

hanya sekedar hobi menulis

Leave a Reply