Tugas Seorang Jurnalis di Era Digital



Edy Syahputra Tanjung

JURNALIS sejati wajib untuk terus-menerus menjadi seorang pembelajar. Perubahan yang kini terjadi di semua lini begitu cepatnya, membuat pemilik profesi ini harus mengikutinya. Karena, siapapun tidak mau dicap sebagai wartawan tak punya kompetensi, karena mungkin meski punya kartu pers sebagai karcis sakti bakal diduga cuma dapat beli.

OLEH EDY TANJUNG
REDAKTUR bantenlink.com

Siapa yang masih berani ngeyel mendebat tentang koran online telah benar-benar menggantikan surat kabar fisik? Benar, kini informasi begitu mudahnya didapat media digital, hanya segenggaman tangan. Ya, tak bisa dielakkan, revolusi ini begitu dahsyatnya telah mencampakkan begitu tenaga kerja berbasis percetakan.

Suka tidak suka, tak ada kata terlambat, sudah waktunya kita terampil mengonversi alat informasi konvensional menjadi digital. Tugas redaktur, pewarta dan layout misalnya, mungkin saja sudah dicaplok blogger yang berjibaku kerja rangkap: Artinya inilah waktunya kita menjadi penulis mumpuni, sekaligus yang jago mengembangkan IT. Tapi tidak berkecil hati menggantikan loper untuk sekedar tukang share.

Apakah kinerja jurnalis serabutan kekinian cukup di situ? Tidak, sama halnya pada ilmu komunikasi, pekerja berita tak kan pernah lupa cara membuat judul yang provokatif, memikirkan pesan apakah sampai atau tidak, efeknya membuat perubahan perilaku apa tidak?

Dan yang tak bisa diabaikan, perlunya memelihara pembaca fanatik nan setia.
Baik untuk target bisnis maupun nirlaba, orang media agar eksis tentu tak bisa lagi berleha-leha mengabaikan perubahan zaman yang sangat cepat.

Pekerja online harus tetap menjaga rangking bejangka kecil dari nauzubillah jumlah banyaknya website yang ada. Terlebih, di dunia maya tanpa riset komprehensifpun sangat mudah mengukur pengunjung media, berapa lamanya sebuah artikel dibaca orang, berapa besar prosentase tingkat plagiat penulisnya, dari mana mengambil fotonya. Ini tak bisa dipungkiri, karena cara-cara untuk melacaknya.

Sebenarnya sama seperti media cetakan, bermain di media online tetap tak bisa dipisahkan dari keahlian berkomunikasi. Kuncinya jangan pernah malas untuk meng-update dan meng-optimizer setiap tayangan.

Satu hal lagi yang perlu diprioritaskan, selaku penulis merangkap blocker kita harus mati-matian menyiasati agar berita bisa nangkring di pencarian teratas. Suatu keharusanlah menjadikannya berada di halaman 1 mesin pencari Google.

Rate this article!
Tags:
Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply