POLITIK UANG PADA PEMILUKADA SEMAKIN MERAJALELA



Fenomena politik uang semakin hari semakin merajalela dalam kehidupan demokrasi kita, khususnya dalam penyelenggaraan Pemilukada. Fenomena ini akan semakin memuluskan kegagalan membangun institusi  demokrasi yang sehat dan berbiaya murah. Keprihatinan semakin mendalam saat pelakunya adalah politisi-politisi muda yang mengharapkan dukungan instan dan pragmatis dari masyarakat yang memiliki hak pilih.  Inilah realitas politik yang dihadapi politisi muda dalam kondisi makro kehidupan demokrasi yang semakin hari semakin amburadul.Kasus-kasus yang melibatkan politisi muda seperti  Waode Nurhayati dari Partai Amanat  Nasional (PAN), Angelina Sondakh dari Partai Demokrat (PD), Fadh El Fouz putra pedangdut  A Rafiq dari Partai Golkar,  dan  Misbakhum dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sekarang ini sedang dalam proses pengembangan kasus karena diduga menyuap Hakim Agung MA,dan hampir semua partai politik lainnya tidak membuat politisi muda takut kalau perilaku politiknya bisa menyeret ke terali besi. Mereka dengan gampangnya melakukan praktek yang memalukan ini tanpa beban apapun. Untuk meraih simpati dan dukungan politik dari calon yang diusungnya dengan entengnya mereka melakukan politik uang. Kondisi ini sejalan dengan prinsip Machiavelis ” Menghalalkan segala cara yang penting tujuan kemenangan tercapai”. Tanpa disadari mereka akhirnya menjadi pengikut ajaran busuk “Maciavelis-machiavelis baru”. Yang lebih menyedihkan lagi praktek seperti ini mendapatkan tempat yang layak bagi sebagaian masyarakat yang memiliki hak pilih “tanpa merasa berdosa”. Untungnya masih banyak rakyat  yang “tidak bisa dibeli” dan mengharamkan betul praktek politik uang ini. Mereka memilih calon yang menjadi idolanya semata-mata karena ingin ada perubahan bagi diri dan lingkungannya menjadi sejahtera.

Hendri Gunawan

Author: 

hanya sekedar hobi menulis

Leave a Reply