KORUPSI MERAJALELA DIMASYARAKAT



Realitas masyarakat saat ini kelihatannya permisif dengan budaya korupsi. Begitu mudah sehari-hari kita menemukan peristiwa suap menyuap terjadi di sekitar kita. Transaksi haram yang dilakukan sepertinya menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan warga. Umumnya orang banyak juga tidak ambil peduli karena kejadian seperti ini hal yang biasa-biasa saja. Saking tidak pedulinya masyarakat dengan kondisi ini maka hampir semua lapisan masyarakat dengan enteng dan gampangnya juga melakukan hal yang serupa.Keadaan ini adalah indikasi semakin rusaknya moralitas rakyat kita. Agama semakin jauh mewarnai akhlak dan perilakunya. Agama cukup berada di mesjid, musolah, gereja, vihara atau kuil saja. Saat keluar dari tempat ibadah, maka yang berlaku adalah nilai social yang permisif dengan budaya korupsi sebagai nilai yang mereka terima. Maka bilamana ada seseorang ingin menampilkan perilaku jujur, adil, amanah dan tidak mentolerir budaya suap atau koruptif  ini dianggap suatu keanehan. “Orang-orang aneh” dalam pandangan masyarakat koruptif ini wajib dijauhi dan dimusuhi, kalau perlu dimusnahkan!Sudah begitu rusaknya nilai agama saat ini di masyarakat, tapi mereka akan sangat marah sekali bilamana dikatakan tidak menjalankan agamanya atau berperilaku tidak sesuai tuntunan agamanya. Budaya hedonisme yang mengukur segala sesuatu dari kepangkatan, jabatan dan kekayaan adalah “Tuhan” baru yang diyakini masyarakat saat ini. Inilah ukuran kesuksesan dan hebatnya martabat manusia di mata  manusia lainnya. Moralitas yang tinggi di mata mereka tidak bisa memberikan manfaat apapun kecuali kesulitan, kemiskinan dan kesusahan.

Umat Islam Indonesia yang jumlahnya mencapai 90 persen dari populasi rakyat nusantara 245 juta-an ternyata tidak bisa menjadi tauladanan di masyarakat kita. Ajaran Nabi Muhamad saw yang sangat mengagungkan kejujuran dan keadilan sudah mulai musnah dari hati-hati orang yang beriman. Keyakinan akan negeri akhirat sudah mulai pupus dalam hati sanubari mereka. Neraka dan Surga sepertinya hanya “dongeng” buat mereka yang sudah berlumuran dengan rezeki yang diperoleh secara tidak halal. Keseharian mereka menjalankan budaya suap menyuap dan korupsi.  Wajar saja akhirnya budaya suap menyuap dan korupsi menjadi kegiatan yang biasa. “Wahai orang-orang yang masih meyakini kebenaran agama, segeralah bertobat sebelum ajal menjemputmu. Kehidupan dunia yang sementara ini jangan meninabobokan-mu. Ingat akhirat yang selama-lamanya, ada awal namun tidak akan pernah ada akhirnya. Pilihan-mu Cuma dua, bila engkau menjadi orang yang taat kepada Allah dan Rosul-Nya maka Sorga-lah tempatnya. Namun bilamana engkau  mengikuti hawa napsu-mu dengan membiasakan dengan rezeki yang haram, maka tempat yang pantas adalah Neraka”.

Rate this article!
Hendri Gunawan

Author: 

hanya sekedar hobi menulis

Leave a Reply