Investasi SDM Indonesia Jokowi Fokus Pendanaan Beasiswa, Riset dan Rehab Sekolah

Rapat Optimalisasi Pengelola Dana Pendidikan

Rapat Optimalisasi Pengelola Dana Pendidikan

JAKARTA | BantenLink.Com —
Investasi pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia harus fokus, tepat dan terarah dengan adanya Program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk beasiswa, riset dan rehabilitasi sekolah. Karena itu, perlu segera menyiapkan dan mengoptimalisasikan mengelola pendanaannya.

“Selama ini LPDP dengan mekanisme pengelolaan dana abadi melakukan pengelolaan sebagian alokasi dana pendidikan dari APBN untuk beasiswa pendidikan S2 dan S3. LPDP pun telah menyalurkan beasiswa pada 16295 orang, dengan perincian sebanyak 8406 penerima beasiswa dalam negeri dan 7889 untuk sekolah di luar negeri.”

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memaparkan itu saat memimpin Rapat Optimalisasi LPDP didampingi Wakil Presiden Yusuf Kalla di kantornya, Selasa 7/2/2016).



Joko Widodo mengungkapkan, investasi bidang SDM seperti pemberian beasiswa pendidikan tinggi dan pendanaan riset merupakan investasi yang diperlukan untuk kemajuan masa datang.

“Instrumen lainnya, pemerataan kesempatan bagi siswa berprestasi di seluruh pelosok tanah air, terutama yang berasal dari daerah-daerah tertinggal dalam memperoleh pendidikan tinggi,” ujar Presiden.

Selain itu, kata Jokowi, investasi pengembangan SDM harus sinkron dengan prioritas pembangunan. Artinya program beasiswa LPDP harus betul-betul fokus untuk menghasilkan SDM berkualitas dalam keilmuan yang unggulan dan prioritas.

“Kita harus unggul dan memprioritaskan sektor maritim (kelautan), energi, pangan, industri manufaktur dan pengembangan ekonomi kreatif,” terangnya.

Presiden menyebutkan, pada tahun 2020-2030 diprediksi Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Saat itu penduduk usia produktif sangat besar.

“Dalam kurun waktu 3-13 tahun ke depan kita memiliki banyak sumber SDM berada puncak usia produktif,” kata mantan Walikota Solo itu.

Lebih jauh dia sebutkan, menyambut “bonus demografi” pemerintah tak hanya fokus pada pemerataan akses pendidikan dasar dan menengah terutama untuk masyarakat miskin, tapi juga membuka kesempatan untuk memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi.

“Dari data yang yang ada, menunjukkan proporsi SDM dengan kualifikasi pendidikan tinggi di Indonesia sebanyak 7,2 persen dari angkatan kerja. Sedangkan Malaysia yang sudah mencapai 20,3 persen, dan negara-negara OECD sebesar 40,3 persen,” papar Presiden yang sebelumnya menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta itu.

Lebih jauh disebutkan Jokowi, jumlah insinyur per 1 juta penduduk Indonesia 2671 orang, lebih rendah dari Malaysia 3333. Sementara, Vietnam 9037, dan Indonesia di atas Korea Selatan. (*/ed)

Tags:
Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply