KONFLIK SOSIAL AKAN HANCURKAN KEMAJUAN EKONOMI LAMPUNG

Tidak bisa dipungkiri Lampung telah muncul sebagai daerah berkembang. Kondisi yang dirasakan 22 tahun lalu  saat kami mengelola Harian Lampung Post sangat berbeda. Ketika itu hanya ada satu surat kabar yang benar-benar eksis, itupun dengan jumlah oplag hanya  sekitar 3.500 eksemplar saja. Sementara Koran-koran terbitan Jakarta  seperti Kompas beredar  hampir seimbang dengan tiras koran local. Umumnya masyarakat Lampung tidak berlangganan koran.Sehingga untuk pengembangan media kala itu, pengelola harus kerja keras dan cerdas untuk bisa bertahan.  Saat ini beredar banyak media, diantaranya Radar Lampung milik group Jawa Pos dan Tribun Lampung yang dikuasai kelompok Kompas Gramedia serta beberapa media cetak lainnya. Selain itu juga bermunculan beberapa TV Local selain TVRI Lampung. Beberapa perguruan tinggi ternama juga bermunculan seperti Universitas Malahayati milik pengusahaasal Aceh DR Rusli Bintang, STIMIK/STIKES UMITRA milik putri mantan Rektor Unila Prof.  DR. Madrie,  selain Univeritas Lampung sebagai satu-satunya perguruan negeri yang ada. Pesatnya pembangunan di Lampung juga dirasakan ketika melihat kondisi Bandara Radin Inten II yang semakin besar dan megah serta selama perjalanan Natar hingga Bandarlampung yang mulai dipenuhi banyak ruko dan gedung-gedung megah.

Sebagai pintu gerbang Sumatera dengan jumlah penduduk 7,6 juta jiwa, Lampung berkembang dengan tingkat pertumbuhannya menurut BI mencapai 6,3 persen pada triwulan II-2012. Lampung dikenal sebagai daerah industry pertanian dengan beberapa komoditas unggulan seperti kelapa sawit, karet, singkong, kakao, lada, kopi , jagung dan tebu. Daerah pesisir hasil perikanannya juga  cukup menonjol seperti tambang udang skala nasional dan internasional selain pengembangan peternakan dengan pola inti rakyat untuk penggemukan sapi kualitas tinggi.



Kemajuan yang membanggakan yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Lampung belakangan ini dirusak dengan maraknya konflik social terutama antara masyarakat asli dengan pendatang terutama dari etnis Bali yang dikenal tekun, jujur dan punya solideritas tinggi. Kondisi ini bisa terjadi karena sejak awal kurangnya kebersamaan

antara pemerintah pusat, daerah dan local setempat. Akhirnya banyak permasalahan yang muncul ketika komunikasi antara warga yang berlatarbelakang berbeda tidak berjalan baik. Masing-masing punya aktivitas sendiri dan tidak ada upaya untuk mengintegrasikan mereka dengan program-program “cross cutting loyalities” dalam teori ilmu social. Akibatnya bisa terlihat, masalah sepele akan berkembang menjadi persoalan keluarga dan masyarakatnya. Perilaku masa bodoh pemerintah pusat, daerah dan local harus diubah untuk membangun kebersamaan dalam rangka pembinaan masyarakat yang berbeda in. Kebijakan kepedulian bersama  mutlak dilakukan kalau Lampung ingin tumbuh berkembang lebih baik lagi.

Data Bank Indonesia Lampung  menempatkan daerah Lampung Selatan sebagai daerah yang paling rendah tingkat
Banyak pakar menyampaikan, bilamana kondisi konflik komunal dan kerusuhan tidak bisa diatasi dengan baik di Lampung maka jangan harap iklim investasi akan tumbuh, dan juga jangan harap pertumbuhan yang telah mencapai 6,3 persen ini bisa ditingkatkan lagi. Semua pilihan tergantung komitmen kuat pemerintah pusat, daerah dan masyarakat yang ada di sekitar.pertumbuhannya dengan 5,9 persen  karena penuh dengan konflik social.  Memprihatinkan, padahal Lampung Selatan adalah pintu masuk perlintasan Jawa ke Sumatera.

Hendri Gunawan

Author: 

hanya sekedar hobi menulis

Leave a Reply