Anak Hydrocephallus Ibu Bisu Ayah Nganggur, Siapa Sudi Membantu?



Jpeg

Jpeg

TANGERANG | BantenLink.Com — Sekilas tak terlihat kesusahan merundung rumah tangga Wawan dan Evi. Pasalnya kedua orang tua dari 3 anak bernama Marko, Marli dan Marcello ini bukan penghuni gubuk reot, tapi tinggal di Perumahan Dasana Indah, Kelurahan Bojongnangka, Kelapadua, Tangerang, Banten.

Sebagai ayah, Wawan yang setahun lalu bekerja di toko onderdil, kini jadi pengangguran setelah terkena stroke. Istrinya, Evi, seorang perempuan bisu. Anak bungsunya, Marcelo, berusia 9 tahun, terkena hydrocephalus (kepala membesar dengan cairan) sejak berusia 3,5 tahun. Sedang dua anak lainnya masih bersekolah.

Menurut Ketua RT 06/15 Kelurahan Bojongnangka, Sumardi, nasib keluarga bernasib malang itu, baru diketahuinya setelah menjabat Ketua RT beberapa waktu lalu. Kata Pak RT itu, saat mendata warga, baru diketahui ada satu keluarga di wilayahnya diduga tidak mendapatkan perhatian sosial dari lingkungan maupun pemerintah.

“Saya kasihan pada Wawan yang menganggur, istrinya bisu, seorang anaknya mengidap hydrocephallus dan dua lainnya masih bersekolah. Saya gerakkan warga agak mau membantu. Pengakuan Wawan dia baru didatangi setelah Ketua RT saya jabat. Inginnya keluarga miskin ini dibantu pihak lain, pemerintah ataupun swasta,” ucap Sumardi pada bantenlink.com, Minggu (18/12/2016).

Saat kemudian wartawan mendatangi rumah Wawan, mengakui keluarganya hidup semata-mata mengharapkan belas kasihan orang lain. Rumah yang ditinggali disebutnya, milik saudaranya yang tinggal di Tambun Bekasi. Juga membayarkannya iuran rutin BPJS kelas 3.

“Kami belum pernah dibantu pemerintah, hanya diberikan gereja berupa beras 20 kilogram sebanyak 2 kali dalam sebulan, dan uang Rp 20 ribu setiap pulang ibadah untuk ongkos naik becak pulang-pergi,” aku Wawan.

Diceritakannya, Marcelo yang senantiasa terbaring di kasur ditunggui ibunya, setelah mendapatkan operasi pengeluaran cairan kepala sebanyak 2 kali di RSU Siloam beberapa waktu lalu, masih belum diketahui akan kesembuhannya.

“Marcelo hanya berobat jalan, Kami tak tahu kapan sembuhnya. Sehari-hari dia hanya menangis, dan kami hanya bisa membawanya ke Rumah Sakit sekali dalam 3 bulan dengan biaya BPJS. Kalau badannya kejang, hanya berikan tsesonik sebagai penenang,” terang Wawan bernada sedih. (edy)

Tags:
Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply