PERS INDONESIA DIPERTANYAKAN PERANNYA

Menyedihkan melihat perkembangan demokrasi di Indonesia sejak reformasi digulirkan. Hari ini kita menyaksikan bahwa rakyat hampir kehilangan  kepercayaannya terhadap lembaga eksekutif, yudikatif dan legislative.  Pemisahan kekuasaan diantara ketiga lembaga ini kenyataannya dalam praktek sangat jauh dari harapan. Akhirnya hari-hari yang terjadi adalah kita memiliki organisasi demokrasi modern namun menjalankan fungsinya masih sangat tradisional untuk tidak dikatakan tidak berbeda dengan “zaman primitive”.  Ketiga lembaga ini banyak dipenuhi orang-orang yang tidak bisa memegang amanah kekuasaan dengan baik, yang terjadi malahan mereka secara berjamaah merampok milik rakyat dengan melakukan korupsi besar-besaran tanpa ada rasa malu .  Memang tidak semua melakukan kejahatan tersebut, namun masyarakat umum melihat sangat sulit menemukan aparat yang benar-benar ikhlas menjalankan amanah rakyat dengan baik.  Pada kondisi demikian maka Pers sebagai salah satu pilar demokrasi harusnya bisa mengambil perannya dengan  baik.  Namun dalam kenyataannya begitu banyak lembaga Pers yang menjalankan tugas atas dasar “Maju tak gentar  membela yang bayar”. Fenomena hegemoni  politik media saat ini begitu meruyak, setiap hari kita disajikan iklan-iklan politik dari pemilik media tersebut. Masih pantaskah media seperti ini dikatakan sebagai salah satu pilar demokrasi?      Dalam kondisi demikian rakyat banyak sebenarnya masih mengharapkan peran aktif lembaga Pers untuk memperbaiki kehidupan bangsa agar tidak semakin jauh dari suasana demokratis.  Tidak dipungkiri masih terlihat peran aktif Pers yang secara kritis menyoroti berbagai ketimpangan dan penyelewengan yang dilakukan penyelenggara Negara. Kondisi ini seharusnya bisa terus ditingkatkan  untuk mengurangi secara bertahap Pers yang semakin jauh dari idealismenya. Peran inilah sebenarnya yang menjadi harapan masyarakat sekarang. Segera  bongkardengan mengangkat  kasus-kasus macet secara terus menerus yang selama ini semakin luput dari perhatian masyarakat. Sebut saja pembunuhan Munir, Rekening Gendut oknum perwira polisi, pemukulan wartawan oleh oknum TNI di Riau, perampok BLBI, Mafia Anggaran DPR, Mafia Proyek di Kementerian dan BUMN, Korupsi oleh Kepala daerah di berbagai wilayah di Indonesia, Mafia hukum di lembaga penegak hukum, Mafia tanah di hampir wilayah tanah air dan  masih begitu banyak lagi kasus-kasus yang mulai terkubur lainnya.
Rate this article!
Hendri Gunawan

Author: 

hanya sekedar hobi menulis

Leave a Reply