Pengajian MUI Kelapadua: Jangan Pilih Pemimpin Bodoh Karena akan Rugikan Orang Banyak

Pengajian Al Misbah MUI Kelapadua

PengajHian Al Misbah MUI Kelapadua

photogrid_1481459522448
TANGERANG | BantenLink.Com — Memilih orang bodoh jadi pemimpin tidak akan memberikan hasil apa-apa. Demikian disampaikan penceramah KH Asman pada pengajian Al Misbah Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Kelapadua.

Kegiatan yang difasilitasi Lurah Pakulonan Barat, Yanuar Harsepa, tersebut diadakan di aula kantor Kelurahan Pakulonan Barat, Kecamatan Kelapadua, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu 10 Desember 2016.

Pengajian dihadiri 100-an orang jamaah, diantaranya Anggota DPRD Kabupaten Tangerang dari Partai Golkar H Agus Salam, Camat Kelapadua Yayat Rohiman, para Lurah, Alim Ulama, Ketua LPTQ, tokoh dan masyarakat setempat.



Meski KH Asman memberikan tausiah bahwa memilih pemimpin yang bodoh juga malah merugikan orang banyak, namun dalam kegiatan ceramah agama Islam itu, lebih banyak membahas seputar fikih (hukum Islam) tentang najis, atau suci tidaknya sesuatu yang menempel di pakaian kita ketika melaksanakan shalat.

Camat Kelapadua, Yayat Rohiman, pada bantenlink.com menyebutkan pengajian atau majlis taklim Al Misbah dihadiri seluruh unsur masyarakat dan pejabat di lingkup Kecamatan Kelapadua. Saat ini ada sekitar 1000- an orang yang menjadi jamaah Al Misbah. Tapi kecuali pada kegiatan Peringatan Hari Besar Islam, setiap bulan rata-rata hanya 100-an orang yang hadir.

Ketua MUI Kelapadua, HM Syaroji MA, mengatakan pengajian Al Misbah yang digagas almarhum KH Ues Kurni itu, selama ini dilaksanakan di kantor kecamatan. Atas usulannya pula mulai saat ini akan dilaksanakan di kantor-kantor kelurahan di Kecamatan Kelapadua.

Dengan dapatnya ilmu dari pengajian, kita jangan lagi mencari-cari kemudahan dalam beragama dan memudah-mudahkan urusan agama, pesan Ketua MUI Kelapadua.

Suci Tidaknya Najis

KH Asman mengingatkan agar umat Islam selalu suci dari najis. Soalnya, najis bisa menghalangi shalat. Misalnya sarung terkena darah, nanah, empedu, muntah dari lambung, atau cairan dari binatang, yang membuat tidak sahnya sholat. Kecuali cairan luka, cacar, melentung. Baru disebut najis jika cairannya berubah warna.

Menurut Imam Syafii, (ulama Mutakhirin), kata Asman, makanan yang belum sampai ke lambung dimuntahkan tidak najis. Tapi, katanya lagi, pendapat Imam Qoffal (ulama Mutaqoddimin) berbeda, makanan yang sudah atau belum sampai ke lambung sama-sama tidak disebut najis.

Diingatkannya, jika ada 2 pendapat tentang hadits yang berlawanan, maka yang dipakai adalah yang terakhir, yaitu yang disampaikan ulama mutakhirin.

Ditambahkannya, tentang cairan yang menempel di payudara ibu menyusui, diampuni Allah jika dibawa shalat diampuni bila ada di kain yang dibawa shalat.

Begitu juga dengan air mani sehabis hubungan suami-istri yang menempel di pakaian, berdasarkan Imam Syafii adalah suci. Ini berdasarkan hadits Rasulullah Muhammad pernah ditanyakan istrinya Aisyah tentang sah tidaknya shalat memakai pakaian terkena air mani yang kering sebagai bekas jima.

Air liur yang keluar saat tidur dan menempel di pakaian adalah suci. Liur orang sakit yang keluar terus karena cobaan Allah adalah suci dan yang akan dinilai adalah ketakwaan orangnya. (edy)

Tags:
Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply