Kasihan, Janda Tua di Tangerang Meninggal Tak Dikuburkan Anaknya

Rumah Oppung di Perumahan Annie Land

Rumah Oppung di Perumahan Annie Land

Kades  Cempaka Ade Saepudin bersama salah seorang perangkat d

Kades Cempaka Ade Saepudin bersama salah seorang perangkat d

TANGERANG | BantenLink.Com — Sungguh malang nasib yang dialami Nenek berusia 70 tahun ini. Meskipun memiliki anak, menantu dan cucu, tapi diduga tak mau mengurusinya, dibiarkan keluarga sangat lama hidup sendiri di Perumahan Annie Land, Desa Cempaka, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, Banten.

Malang nasib nenek uzur bernama Ulis Siregar alias Oppung itu. Pada Selasa 7 Desember 2016 tak pedagang sayur biasa keliling mengitari perumahan Annie Land tiba-tiba tak melihat sosoknya. Ada apa, ya?

Si penjual sayur itu pun melaporkan nya pada Ketua RT 01/09 bernama Imron. Benar saja, setelah dicek di dalam rumahnya dengan mendobrak pintu, ternyata Oppung ditemukan dalam keadaan terkapar pingsan. Diduga akibat terjatuh di kamar mandi di rumah yang didiaminya.

Kepala Desa Cempaka, Ade Saepudin, pada bantenlink.com, Kamis (9/12/2016) membenarkan kejadian itu. Menurut dia, seusai beberapa warga menemukan Oppung, langsung membawa janda tua asal Medan tersebut ke Puskesmas Cisoka, untuk mendapatkan perawatan intensif.

“Saya sendiri ikut menunggu Oppung yang sekarat akibat komplikasi penyakitnya di Puskesmas. Kasihan, dia meninggal besok harinya setelah dirawat sehari-semalam. Untuk pembiayaan dan pemakaman, untungnya saya ada rezeki, sehingga bisa membantu.
Warga dan orang sekampung Oppung tanpa dihadiri seorang pun anaknya,juga ikut mengurusi jenazah dan memakamkannya,” ucap Ade pada BantenLink.



Kades berusia 28 tahun itu menyebutkan, sebelumnya dirinya memang telah mengetahui Oppung terlantar di wilayahnya. Sempat pula didengarnya, sejak sejak sebulan belakangan ini hidupnya atas belas kasihan tetangga. Beberapa tahun Oppung hidup sendiri sendiri di rumah suami salah seorang anak perempuannya. Dia sendiri telah memiliki anak yang berstatus mahasiswa.

Ade.menerangkan, sejak Oppung dirawat di Puskesmas Cisoka, dia mengurus dan menemani selama sehari-semalam. Sayangnya, pada hari Rabu 7 Desember sekira pukul 13.00 WIB Oppung akhirnya meninggal dunia dan dikuburkan warga perumahan tanpa dihadiri keempat anaknya.

“Info dari warga yang saya dengar, Oppung memang hidup sebatangkara. Belakanganini, tak pernah ada lagi keluarga yang mengunjunginya. Biasanya pagi-pagi warga melihat Oppung setelah bangun bangun beraktivitas di luar rumah seperti bebelanja sayuran. Tapi pada hari Selasa kemarin hingga jam 09.00 WIB, pintu rumahnya tetap. masih tertutup dan lampu listriknya masih menyala,” terang Ade.

Ditambahkan Kades Cempaka, Ketua RT 01/09 bersama RW dan tokoh masyarakat melaporkan kejadian padanya. Setelah mendobrak pintu rumah Oppung, akhirnya ditemukan sedang terkapar tak sadarkan diri di kamar mandi. Warga yang sering membantu dan akrab dengan Oppung segera membawanya ke Puskesmas terdekat.

“Sebenarnya Oppung memiliki 4 orang anak kandung, yakni 2 laki-laki dan dua perempuan. Semuanya sudah berkeluarga. Oppung sendiri sering mendapatkan makanan dari tetangga. Oppung sendiri diketahui tinggal di rumah anak perempuannya yang berdomisili di kawasan Cikokol, Kota Tangerang.

Saat beberapa lama, anak Oppung tak seorang pun anaknya yang datang ke rumah duka. Anaknya malah menyebutkan Oppung selama ini kurang memperhatikan anaknya,” terang Kades Ade lagi.

Sementara, tetangga persis tinggal di sebelah rumah Oppung bernama Bambang pada bantenlink.com menceritakan, selama ini sang nenek dibiayai alakadarnya oleh anak laki-laki yang tinggal di Tanjungpinang, dengan mengirimkan uang melalui ketua RT Imron.
Namun sejak anaknya tersebut meninggal dunia, ada saja tetangganya yang memberikan makanan.

“Di rumah anak perempuan yang ditinggali Oppung, jarang sekali anak, menantu dan cucu datang. Kalaupun bertamu hanya sebentar sekali, sesudah itu pulang tanpa berbasa-basi dengan tetangga. Nur dan suaminya Ajeng memilih tinggal di Cikokol Kota Tangerang karena rumah dekat dengan tempat kuliah anaknya,” cerita Bambang.

Dikatakan Bambang, anak laki-laki Oppung sebelumnya ada yang rajin mengirimkan uang, telah 40 meninggal dunia. Akhirnya hidupnya hanya tergantung pada belas kasihan tetangga,” ujar Bambang.
Ditambahkannya, di Tigaraksa memang ada juga seorang lagi anak laki-lakinya yang menjadi supir angkot. Tapi entah mengapa, meskipun dekat jarang datang untuk menemui orang tuanya.

Sedangkan anak perempuan lainnya, mantan kondektur bus yang tinggal di Lebak Bulus Jakarta, cacat pada bagian kakinya akibat kecelakaan. (edy)

Tags:
Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply