Uenak Tenan, Lahan Sekolah di Tangerang untuk Jalan dan Parkiran Warga

Jalan sekaligus tempat parkir merupakan lahan milik sekolah

Jalan sekaligus tempat parkir merupakan lahan milik sekolah


TANGERANG | BantenLink.com — Bak makan buah simalakama yang dialami Kepala SD Negeri Kelapadua 1 di Kabupaten Tangerang, Banten. Bagaimana tidak, saat dipercaya membangun pemagaran sekolah secara swakelola, dirinya harus mengiyakan kemauan warga untuk menyediakan jalan dan parkir.

“Lahan sekolah tempat kami mengajar siswa memang berada di permukiman padat penduduk yang tidak memiliki akses jalan dan parkir. Jadi pas ada pembangunan sekolah, demi keamanan terpaksa harus kompromidan mengakomodir keinginan penduduk untuk tetap memiliki akses jalan sekaligus bisa dijadikan lahan parkir pada malam hari,” ungkap Kepala SDN Kelapadua 1, Asip Anwar, pada bantenlink.com, Senin (21/11/2016).

Menurut Kepsek yang sebentar lagi pensiun itu, masalah tersebut telah disampaikan kepada Kepala UPT Pendidikan Kelapadua. Namun atasannya menanggapinya agar Asip mencari aman saja. Alasan kepala UPT keamanan dan kenyamanan sekolah juga salah satu dari Standar Nasional Pendidikan.

Karenanya, agar tidak mendapatkan masalah, dan bagaimana baiknya, Kepala SD Negeri Kelapadua 1 ini mengadakan rapat dengan RT 03 (Edi Kajun), RW 04 (Alim) dan tokoh masyarakat (Habib).

“Saya tidak mau mendapatkan masalah dengan warga. Tentang apapun yang berkaitan dengan sekolah, saya pun ngikut dan harus rapat dulu dengan tokoh masyarakat sini. Semua yang dilakukan di sekolah ini harus dengan persetujuan warga. Apalagi yang bersekolah di sini anak-anak sini juga,” imbuh Asip.



Dirinya pun menceritakan tentang lingkungan sekolah yang dimanfaatkan warga tempat bermain pada malam hari. Termasuk menggunakan lapangan sekolah. Selalu padat oleh parkiran mobil pada malam hari, terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Kalau mobil pribadi warga belum dikeluarkan dari lapangan upacara bendera pada hari Senin, terpaksa kan harus menunggu semua mobil keluar dari lapangan dulu baru bisa upacara,” paparnya.

Selain itu, ketidaknyamanan dirasakannnya atas leluasanya warga memasuki pekarangan sekolah karena letak sekolah berada di tempat padat penduduk. Begitu juga menyebabkan ruang kelas, dimasuki sembarang orang, bahkan untuk berpacaran. Hal ini mengakibatkan sekolah kotor pada pagi harinya.

“Saya dan Komite Sekolah pak Dedi senang sekali dengan adanya pemagaran sekolah, yang dijadikan satu syarat untuk akreditas sekolah. Tapi tidak mau kesalahan, saya rapat dengan Ketua RT, Ketua RW dan Tokoh masyarakat. Apalagi batas luas tanah sekolah mentok dengan dinding bangunan warga,” kata Asip lagi.

Karena tidak mau bermasalah dengan masyarakat, dirinya harus membangun pagar dengan menyisahkan lahan untuk jalan untuk lintas mobil ke rumah warga sekira 3 meter. Pak Habib pun, katanya, mengakui lahan sekolah dibuat untuk jalan dan tempat parkir warga serta bersedia membuat surat pernyataan lahan jalan milik sekolah.

“Warga termasuk pak Habib memerlukan jalan tempat parkir sepanjang 24 meter dengan lebar 3 meter. Selama ini lapangan sekolah dibuat jadi parkir. Dengan adanya pembangunan pagar dengan menyisakan lahan untuk jalan dan parkiran warga, diharapkan keamanan sekolah lebih baik,” tandasnya.

Jpeg

Jpeg

Tags:
Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply