Insyaallah Mesjid Al Mubarok Kebanggaan Warga Bitung Dipugar Rp 8 Miliar Awal 2017

Gambar rencana pemugaran Masjid Al Mubarok Kampung Bitung

Gambar rencana pemugaran Masjid Al Mubarok Kampung Bitung

Masjid Al Mubarok dan foto-foto kegiatan rapat

Masjid Al Mubarok dan foto-foto kegiatan rapat

TANGERANG | BantenLink — Setelah 30 tahun tidak direnovasi Mesjid Al Mubarok di Kampung Pos Bitung, Desa Kadu/Kadujaya, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, pada awal tahun 2017 kembali akan dipugar dengan anggaran senilai Rp 8 Miliar.

Rencana pemugaran lagi mesjid yang telah berusia tua dan kebanggaan warga kampung Bitung itu untuk menjadi mesjid megah, terungkap pada ekspos perencanaan pemugaran bertempat di Majlis Taklim Al Wardah RW 04, Jumat (18/11/2016).

Masjid Al Mubarok berada di perempatan jalan raya Curug-PLP dan arah ke Kota Tangerang. Semula bangunan mesjid berdiri di atas lahan 1020 meter persegi, tapi saat ini telah memiliki lahan 2020 meter persegi setelah adanya pembelian lahan tambahan.

Dengan adanya beberapa perubahan di lingkup masjid, dan peraturan tentang lahan wakaf, pengurus dan panitia pemugaran masjid secepatnya akan membuatkan akta notaris dan surat wakaf.

Rapat kemakmuran Masjid Al Mubarok yang telah dilaksanakan 6 kali ini diprakarsai HM Haer, 64 tahun, seorang warga pribumi yang peduli kampung halaman, dan kerap disebut sebagai “pagar” Kampung Pos Bitung.

Kegiatan rapat dibuka oleh Ketua MUI Kecamatan Curug sekaligus Ketua DKM Al Mubarok, H Ahmad Yani, yang akrab dipanggil H Embang.

Hadir 100-an tokoh masyarakat terdiri dari alim ulama, RT, RW, pemuda dan unsur lainnya. Sayangnya Kades Kadu, HM Atan tidak hadir karena sakit.



Dalam kesempatan itu HM Haer menyebutkan, pengembangan pembangunan Mesjid Al Mubarok semula merupakan wakaf leluhur warga Kampung Pos Bitung.

Masjid Al Mubarok pertama kali dibangun pada jaman Penjajahan Belanda. Pemugaran pertama pada 1986 dilakukan beranjak dari kepedulian akan kampung halaman yang semakin maju dengan warga bertambah majemuk.

HM Haer mengisahkan, saat usia mudanya bersama alim ulama dan pemuda setempat bersama-sama memugar masjid yang dulunya sangat sederhana dan masih menggunakan kullah sebagai tempat penampungan air.

Kini teman sebaya HM Haer itu semua sudah tiada, dan hanya tinggal dirinya sendiri yang sepuh. Untuk suksesi regenerasi itulah pemborong bangunan dan pengusaha jasa dan perdagangan itu bersemangat dan aktif untuk menggerakkan kaum muda Kampung Pos Bitung. Maksudnya agar kaum muda mau peduli dan mencintai Masjid Al Mubarok seperti dilakukannya.

HM Haer ingin membuat Mesjid Al Mubarok megah dan indah sehingga tidak lagi terlihat tertinggal dari bangunan sekitarnya.

Sebagai motivasi, terakhir ini HM Haer memulai dengan pembelian lahan tambahan bertotal Rp 200 juta dan membiayai arsitek dan gambar perencanaan senilai Rp 20 juta.

Dikatakan HM Haer, pembangunan pemugaran akan dilaksanakan dalam 3 tahapan, mulai pembelian tanah untuk perluasan, pembuatan akte yayasan, dan pencarian dana untuk pelaksanaan pembangunan.

Kepengurusan DKM Masjid Al Mubarok sendiri selama ini dipimpin HM Embang. Selaku cicit pembangun masjid, Ketua MUI Curug dan dosen agama ini menyebutkan, tim saat ini sedang membuatkan payung hukum berupa akte notaris dengan nama Yayasan Al Mubarok.

Tak ada niatan lain yang dilakukan kecuali semata-mata untuk kemakmuran dan pengembangan mesjid. Untuk itu dia mengharapkan partisipasi penuh seluruh kaum muslimin khususnya warga Kampung Pos Bitung senantiasa kompak dan turut aktif berpartisipasi.

Pelaksanaan pemugaran Mesjid Al Mubarok harus sesuai aturan, sehingga berjalan lancar dalam pelaksanaanya. Pembangunannya yang dimulai awal bulan Pebruari 2017 dan diharapkan bisa selesai paling lama sekitar 3 tahun.

Ketua pelaksana pemugaran Masjid Al Mubarok yang ditunjuk HM Haier yakni, HM Yoyon, yang saat ini juga sebagai Camat Tigaraksa.

Dalam rapat tersebut HM Yoyon menjelaskan soal sumber penggalian dana. Diharapkan dapat bantuan atau sumbangan dari pemerintah, pengusaha dan masyarakat. Bisa melalui penggalangan dana donatur tetap, kotak amal dan proposal.

Untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat, daerah dan lembaga dan masyarakat HM Yoyon mengingatkan, saat ini kalau mengembangkan dan membangun mesjid, memang seharusnya dengan legalitas yang lengkap.

Para undangan yang hadir rapat tampak memenuhi ruang dalam dan luar Majlis Taklim Al Wardah. Pada rapat yang dimulai ba’da shalat Isya hingga jam 22.00 WIB itu diwarnai pertanyaan salah satu Ustadz bernama Cecep tentang ikon Masjid Al Mubarok.

Ustadz Jamal salah seorang panitia menyampaikan akan dibuat ikon semacam jam gadang yang bermanfaat sebagai penunjuk waktu bagi siapapun yang melihatnya. Nantinya, jam gadang yang bercirikan kekhasan Kecamatan Curug tampak pada salah satu dari 5 menara mesjid yang akan dibangun 2 lantai yang bisa menampung sekitar 10 ribu jamaah itu. (edy)

Tags:
Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply