Kepala BPBD: Kab Tangerang Tak Banjir Signifikan Berkat Adanya Normalisasi Drainase

Agus  Suryana

Agus Suryana


TANGERANG | Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Banten, memperkirakan curah hujan yang turun dari siang hingga malam hari terakhir ini tidak berdampak signifikan.

Hal ini membuat wilayah setempat tidak kebanjiran fatal, kecuali mengalami genangan air sebentar. Berbeda dengan dua tahun lalu, dimana mayoritas kecamatan di Kabupaten dipimpin A Zaki Iskandar itu mengalami kebanjiran.

Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Agus Suryana, mengatakan meski debit curah hujan masih terbilang “aman”, tapi pihaknya tetap standby.

“BPBD harus selalu siap dan maksimal dengan tenaga, perahu karet, tenda dan makanan. Apalagi terdapat personil UPT BPBD dan relawan di beberapa Kecamatan,” ungkap Agus pada bantenlink.com di kantornya, Senin (14/11/2016).



Lebih jauh dikatakannya, sejauh ini yang disebut sebut mengalami banjir besar adalah wilayah Kota Tangerang. Beberapa wilayah Kabupaten Tangerang memang terpantau banjir sesaat, atau terjadi genangan air. Misalnya, sebagian wilayah pemukiman seperti Pasirkalong Cibadak (Cikupa), Islamic Bencongan (Kelapadua), Koleksi Curugwetan (Curug), Pasargaok Palasari (Legok), Griya Permai Caringin (Legok). Villa Permata Gelam (Pasarkemis), Villa Regency Gelam (Pasarkemis), Villa Tomang Gelam (Pasarkemis), Binong Permai (Curug), dan Karawaci Baru Bencongan (Kelapadua).

“Saat ini wilayah yang dulu tergolong rawan banjir di musim hujan semisal, Cisoka, Balaraja, Kronjo dan Mekarbaru, dalam kondisi aman,” ujarnya.

Diterangkannya, ada dua titik air tertinggi, yakni Perum 4 dekat kali Sabi dan Perumahan Regency di Kecamatan Pasarkemis, dengan kedalaman 1-1,5 meter. Tapi masih dianggap wajar karena genangan air surut di bawah enam jam.

“Waktu hujan sore hingga tengah malam kemarin, ada 10 tempat curah hujan yang agak lama sehingga menyebabkan genangan air tinggi. Namun sekitar jam 01.00 WIB dini hari, air yang naik antara 30 sampai dengan 50 centimeter surut lagi pada pagi hari,” imbuhnya.

Penyebab banjir jika musim hujan sendiri, lanjutnya, karena volume drainase tidak sebanding debit air hujan turun, serta kontur tanah rendah menyerupai wajan.

“Justru yang bermasalah drainase internal sebagai kewajiban pengembang perumahan. Sedangkan saluran primer dan tersier otoritas pemerintah dua tahun terakhir justru lebih baik karena banyaknya normalisasi saluran air,” papar Agus lagi.

Penyebab banjir lainnya, tambahnya, karena anak sungai Cisadane yang dulu dibuat pemerintah Belanda sebagai irigasi, banyak yang sudah tidak berfungsi karena dijadikan perumahan. Saat debit air kali Cisadane tinggi, membuat air anak sungai melimpah ke daratan. (edy)

Tags:
Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply