HILANGNYA MAKNA IDUL QURBAN DI MASYARAKAT



Perhelatan Idul Qurban bergema dimana-mana. Bisa dipastikan hampir semua mesjid dan musolah menyelenggarakan ibadah Qurban. Qurban yang diberikan masyarakat dilaksanakan secara pribadi berupa penyampaian hewan Qurbannya, ataupun membelinya secara kolektif.  Sayangnya saat pelaksanaannya niat yang mulia ini digelincirkan dengan syahwat untuk menguasai daging Qurban itu sendiri. Para warga yang ber-Qurban dan juga panitianya yang umumnya juga ber-Qurban justru mengedepankan hak-haknya dalam mendapatkan “jatah Qurban” ketimbang memberikannya kepada anggota masyarakat yang “Belum tentu dalam setahun makan daging” . Mereka berbondong-bondong ingin mendapatkan jatahnya secara maksimal sambil mengadakan “syukuran pesta daging” dengan makan bersama di lingkungannya. Akhirnya mereka yang ber-Qurban ini kehilangan makna Qurbannya.

Semangat Qurban adalah antitesa terhadap makin jauhnya masyarakat dengan kebersamaan dan ketidakpeduliannya terhadap sesama di lingkungannya, akibat semakin lebarnya jurang ketimpangan social dan ekonomi.  Semangat Qurban harus diaktualisasikan saat mewabahnya budaya hedonisme, semakin tidak peduli satu sama lain, saat korupsi dan kekerasan menjadi menu sehari-hari dan ketika kemiskinan karena tidak berharta atau berpangkat dianggap sebagai keterbelakangan.  Ketika Idul Qurban sudah kehilangan maknanya, manfaat apa yang bisa diambil oleh para peng-Qurban? Kasihan akhirnya mereka tidak mendapatkan manfaat apa-apa dimata Allah swt.

Hendri Gunawan

Author: 

hanya sekedar hobi menulis

Leave a Reply