Pemimpin Pluralisme Dibutuhkan di Provinsi Banten



janner

TANGERANG | BantenLink.Com — Dalam berbagai kenyataan rakyat tidak berdaya untuk meminta pertanggungjawaban kepada pemimpinnya karena ruang dan kesempatan hampir tidak pernah ada, tentu dengan adanya kesenjangan ini akhirnya rakyat menjadi tidak mau peduli terhadap pemimpinnya, demikian dikatakan Rinton Simarmata SH saat ditemui di kompleks Podomoro City Jakarta, Rabu (26/10/2016).

“Rinton mengutip ucapan Jhon F. Kennedy “ Jika seorang pemimpin tidak bisa mengakhiri perbedaan – perbedaan dengan rakyatnya, maka pemimpin itu tidak membantu daerahnya aman dalam keanekaragaman,” setidaknya apa yang harus dilakukan pemimpin tersebut yaitu menemukan cara untuk menerima perbedaan dan melakukan diskusi serta komunikasi yang baik tanpa harus melakukan memecah belah komunitas baik dengan pemimpinnya,” ucapnya.

Kita menyadari dengan pasti bahwa perbedaan adalah salah satu masalah yang terjadi dalam kehidupan baik sikap dan perilaku kita dalam menghadapi perbedaan-perbedaan itu. “Yang sering timbul dari kehidupan seorang pemimpin adalah karena kurang cerdas menggunakan perbedaan sebagai modal untuk membangun kekuatan dalam membangun,” tambahnya lagi.

Barack Obama, adalah orang Amerika yang berkulit hitam, dapat menjadi presiden Amerika Serikat yang sangat populer, dalam perjalanan sejarah Amerika, kulit hitam sering menjadi kasta terendah, kenapa harus mempersoalkan warna kulit untuk membesar-besarkan perbedaan, ketimbang harus menekankan pentingnya kesatuan?

“Lalu bagaimana dengar figur Gubernur kita yang akan datang di Banten ini, dimana dari kenyataannya calon Gubernur Banten hanya ada dua yaitu H. Rano Karno dan H. Wahidin Halim yang keduanya sudah cukup populer dan dikenal dikalangan masyarakat Banten dan sama-sama berangkat dari Tangerang,” jelasnya.

Dari kepopuleran masing-masing selama menjadi pemimpin tentu sering menemukan berbagai perbedaan baik di internal maupun terhadap masyarakatnya.

“Kesatuan dan persatuan juga tidak cukup hanya dijadikan sebagai kata-kata semboyan dalam lambang negara. Tetapi lebih dari itu semua, kita masih lebih perlu lagi keteladanan pada seorang pemimpin,” pungkas Rinton yang bekerja sebagai konsultan hukum ini.

Bahwa pemimpin harus meyakini perbedaan adalah satu hakikat dan keniscayaan sebagai rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu perbedaan memang merupakan hakikat yang pasti terjadi, artinya kita harus menerima takdir, bahwa kita pasti berbeda dengan tetangga, dengan sesama warga, dengan teman sekerja, dengan sesama umat manusia, yang memang telah ditakdirkan penuh dengan perbedaan dan kemajemukan.

Yaitu suatu pandangan yang mengakui dan menerima adanya kemajemukan atau keanekaragaman.

“Dia berharap siapapun yang terpilih diantara mereka menjadi Gubernur Banten masa bakti 2017 – 2022 harus menjadi Gubernur yang bisa menerima dari segi agama, suku, ras, adat istiadat, dan status sosial, niscaya maka Banten akan maju dan damai bersama rakyatnya,” tutupnya. (*/js)

Leave a Reply