HARI KESAKTIAN PANCASILA : MANTAN ANGGOTA PKI BERTOBATLAH

Kebijakan mantan Presiden Soekarno dengan keyakinan NASAKOM-nya  (Nasionalis, Agama dan Komunis) berbuah pemberontakan Gerakan 30 September 1965 oleh PKI. Ambisi politik kaum atheis  yang saat itu sangat kuat eksistensinya di pemerintahan dan rakyat membuat mereka “over confidence”  percaya diri yang berlebihan sehingga melakukan pemberontakan. Langkah pembunuhan para Jenderal TNI yang dilakukan PKI akhirnya  menimbulkan kebencian yang luar biasa dikalangan militer dan masyarakat. Dimotori tentara, kekuatan agama dan  nasionalis  kemudian  bersinergi  “menghabisi” PKI. Selama setahun sejak kejadian pemberontakan, jutaa n anggota PKI, simpatisan dan juga “korban-korban yang tidak berdosa- karena tidak punya kaitan dengan organisasi atheis ini”  tewas dibantai di beberapa daerah di Indonesia. Kebijakan “bumi hangus” penguasa kala itu masih dirasakan hingga saat ini.  Para korban kekerasan politik yang merupakan anggota maupun simpatisan PKI yang masih hidup bisa menggambarkannya. Seharusnya mereka menyadari resiko politik atas keyakinan ideology yang menyatakan “Gusti Allah sudah mati”dalam setiap propagandanya. Penderitaan akibat keyakinannya yang salah ini harus menjadi pelajaran berharga buat mereka. Segeralah bertobat mohon ampun kepada Allah swt, ketimbang mempermasalahkan pelanggaran Ham yang terjadi di masa lalu. Padahal banyak diantara mereka dulu adalah pelanggar Ham berat, dengan gampangnya  membunuh para Kyai dan santri yang menentang partainya. Baiknya, persiapkanlah untuk akhiratmu wahai para pembenci agama dan penghina Tuhan, karena sebentar lagi ajal juga pasti akan menjemputmu. Sikap ini lebih bermanfaat ketimbang balas dendam dengan pemerintah dan penyelenggara di zaman rezim mantan Presiden Soeharto. Pemerintah sekarang juga tidak perlu minta maap kepada para pelaku dan pendukung makar yang ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara komunis terbesar ketiga setelah RRC dan Uni Sovyet. Kecuali kepada para “korban-korban yang tidak berdosa-karena tidak punya kaitan dengan organisasi atheis ini”.

Hendri Gunawan

Author: 

hanya sekedar hobi menulis

Leave a Reply