Disdik Kab Tangerang Tak Becus Bina Bawahan, Ulah Guru Siswi SMPN 2 Kelapadua Mogok UN



UN images

TANGERANG | BantenLink — Anda memiliki putra dan putri, berhati-hatilah dalam memilih sekolah formal anak agar jangan sampai menjadi korban bully yang bisa menghambat psikologi perkembangan anak. Untuk itu dalam perekrutan guru benar-benar berdasarkan kompetensi pendidik.

Seperti yang terjadi di lingkup Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Tangerang, Banten yang dipimpin Teteng Jumara. Guru bawahannya diduga buta psikologi anak dan dalam mengajar cenderung berkomunikasi semaunya. Korbannya, seperti dialami ZSF yang mengalami stress berat tak mau lagi ujian akibat ulah seorang guru.

Murid kelas 9B SMP 2 Negeri Kelapadua, Kabupaten Tangerang Banten di bawah pimpinan Kasiman ini, pada hari ke-4 Ujian Nasional (UN) karena ketakutan pada seorang guru bernama Netty yang tak berperasaan selalu menyindirnya, akhirnya mogok UN.

“Pada hari ke-4 UN SMP, anak saya mogok tak berangkat ke sekolah dengan alas an Bu Netty bersikap tidak menyenangkan pada murid, yang tergambar dari bahasa, mimik dan bahas tubuh yang tidak membuat peserta didik nyaman bersekolah,” ujar Titing sebagai orang tua ZSF, Kamis (12/5/2016).

Dia menceritakan, sebelumnya anaknya pada pertengahan than 2016 menjadi korban bully dan kekerasan yang dilakukan Horas, guru matematika di SMP Negeri 2 Curug, Kabupaten Tangerang. Saat KBM Horas memukul bibir ZSF hingga berdarah. Kejadian itu menjadi awal ZSF menjadi selalu takut untuk berangkat menuntut ilmu ke sekolah.

“Hal itu telah kami sampaikan pada Kepala Sekolah bernama Cucu dan Kabid Dikdas Dinas Pendidikan kabupaten Tangerang saat itu, Kosrudin. Atas laporan peristiwa itu, Cucu selaku Kepala SMPN 2 Curug mengaku telah membuatkan surat penyataan agar Horas tidak melakukan kekerasan lagi. Sedangkan Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang tidak melakukan sanksi dan pembinaan apa-apa,” ungkap Titing.

Karena mengalami gangguan psikologis, lanjutnya, ZSF mogok bersekolah, akhirnya orangtuanya mengurus kepindahan sekolah anaknya ke SMP Negeri 2 Kelapadua. Namun alih-alih ZSF bisa betah menimba ilmu, ketika belajar di sekolah baru ZSF malah tambah sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari guru, salah seorang guru bernama Netty. Intinya, didalam kelas ZSF dicitrakan sebagai anak nakal sehingga pindah sekolah.

“Pencitraan negatif yang dilakukan guru ini membuat anak saya selalu takut sekolah . Perasaan takut sekolah ini pun telah disampaikan kepada Kosrudin selaku pejabat di Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang. Karena masih terdaftar sebagai siswa di SMPN 2 Kelapadua anak saya pun disuruh tetap merngikuti UN SMP. Tak cukup hanya sampai disitu ayahnya menandatangani surat pernyataan anak kami sering tidak masuk sekolah karena dalam kedaan sakit agar bisa mengikuti ujian hingga UN SMP tahun 2016. Tapi lagi-lagi gurunya seperti tak senang dengan selalu adanya sindiran,,” papar Titing sambil menangis.

Disebutkannya, pada UN sejak hari Senin hingga Rabu (9-11 Mei 2016) anaknya ZSF masih mengikuti UN di SMPN 2 Kelapadua. Namun sayangnya, selalu dalam keadaan tertekan karena tetap disindir Netty dengan kata-kata seperti Sudah tinggal UN, telat lagi. Cara dan sindiran Netty ini pun juga menjadi bahan olok-olok teman ZSF.

“Apakah begitu sikap dan prilaku seorang guru yang berkompetensi baik, yang menciptakan suasana menyenangkan dalam kegiatan belajar dan mengajar. Diharapkannya, Dinas Pendidikan, LSM, pemerhati pendidikan dan psikolog anak, mempunyai keinginan dan menyikapi untuk merobah kondisi buruknya pendidikan di Kabupaten Tangerang sekarang ini,” tandasnya. (edy)

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply