Sepenggal “Sejarah” dan Rencana Penggusuran Kampung Nelayan Dadap

Jpeg

Jpeg

TANGERANG | BantenLink – Cikal-bakal padatnya permukiman Dadap Muara, Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, bermula dari penggusuran untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Muara Karang, Jakarta Utara.

Sumber bantenlink.com yang minta namanya dirahasiakan menyebutkan, pada 1976 karena adannya penggusuran, dia dan keluarga yang berkampung di Kresek, Tangerang, Banten pindah dari Muara Karang ke Dadap.

“Kami digusur tapi di zaman rezim Presiden Soeharto malah mendapatkan uang ganti-rugi yang bisa membeli perahu dan lahan untuk tinggal di Dadap,” ujarnya, Rabu (27/4/2016).

Lebih jauh diceritakannya, kala itu untuk menambatkan perahu, ada kali kecil yang sudah diurug (bukan yang ada sekarang) dengan airnya yang masih bersih.

“Seiring berjalannya waktu, Dadap menjadi kampung padat nelayan, sedangkan pantainya jadi kumuh karena adanya dugaan pembuangan limbah pabrik,” imbuhnya.

Kali Dadap sendiri sebagai pengairan, bukanlah yang ada sekarang. Kali yang ada sekarang bukan kali yang dulu. Kali yang dulu sudah dikurung, diganti dengan kali yang ada sekarang.

“Kami nelayan pendatang Jakarta selama 40 tahun menjadi warga sah di sini. Memang, ada juga yang hingga saat ini menjadi ‘manusia perahu’ berasal dan sekali rutin pulang kampung ke Indramayu,” lanjutnya.

Dia menceritakan, sebagai nelayan pasca semakin tercemarnya teluk Jakarta, memilih mencari nafkah di laut seperti pulau Lancang, Tidung dan Untungjawa.



Catatan bantenlink.com, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang sendiri sejak 2010 telah merencanakan wilayah pantai utara sebagai kawasan pergudangan, pelabuhan dan wisata.

Namun baru- baru ini tersiar kabar Bupati A Zaki Iskandar ‘memfasilitasi’ pengembang yang reklamasi laut Jakarta untuk kawasan hunian dan bisnis itu.

Rencananya, pembuatan jembatan pulau urugan tersebut akan dibuatkan sepanjang lebih antara 500-1000 meter ke daratan Dadap.

Karena adanya penyuapan pimpinan pengembang pada seorang anggota DPRD Jakarta, sempat membuat diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi.

Pada waktu terakhir, Dadap sendiri masih sebagai perkampungan nelayan dan kawasan pergudangan Kosambi, berkembang menjadi tempat hiburan rakyat dan pusat seafood, dengan sempat menjamur kafe, restoran dan. merebaknya bisnis prostitusi.

Dengan adanya penolakan warga untuk digusur, kini tersiar kabar Pemkab Tangerang akan merevitalisasi Dadap menjadi kampung nelayan yang tertata, pusat kajian Islam dan kuliner pesisir.

Pemkab sendiri telah menandai dan berencana membongkar bangunan-bangunan liar sebanyak 3 RW sepanjang 10 dan 20 meter dari jalan akses ke pantai Dadap Muara.

“Pemkab katanya hanya akan memberikan ganti rugi pada pemilik lahan yang sah, walaupun belum diketahui berapa nilainya,” ungkap narasumber itu lagi.

Anehnya, salah seorang anggota DPRD Kabupaten Tangerang yang enggan disebutkan namanya, mengatakan sebagai wakil rakyat belum pernah diajak untuk membicarakan permasalahan yang ada sekarang di Dadap.

Seharusnya Bupati Tangerang melakukan pengkajian yang matang. Tentunya harus ada negoisasi dengan masyarakat,jangan sampai rakyat dirugikan, kata anggota Dewan itu.

Infonya, menyediakan dana Rp 10 Miliar untuk penggusuran. Tapi, pada Rabu, 27 April 2016, rencana Pemkab memberikan SP-1 untuk pembongkaran bangunan liar mendapatkan tantangan masyarakat.

Sementara, kata seorang anggota polisi, untuk mencegah bentrokan antara warga dan aparat, Pemkab hanya menitipkan surat yang seyogyanya dibagikan satu persatu di kantor kelurahan Dadap.

“Warga meminta pembongkaran bangunan liar agar ditunda hingga usai Lebaran Idul Fitri, tapi menyosialisasikan program akan tetap dilakukan,” jelasnya. (titing/edy)

Tags:
Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply