Menghapus Stigma Wilayah Angker Terpandemi Covid-19



Menghapus Stigma Wilayah Angker Terpandemi Covid-19

SEMUANYA, Pemerintah dan rakyatnya menginginkan negeri ini terbebas dari covid-19. Dibuktikan dari kepatuhan dalam pencegahan pandemik. Mulai dari menjalankan protokol kesehatan, mengikuti rapid test dan vaksinasi.

Harapannya, setelah satu setengah tahun mengalami pandemi kondisi bisa pulih lagi, yang berarti hilangnya penyakit yang membuat segala sendi kehidupan terpapar olehnya. Diantaranya membaiknya perekonomian dan pendidikan kembali berjalan seperti sedia kala.

Nampaknya persoalan kepatuhan dan kesadaran masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan dan mengikuti vaksinasi sudah cukup baik. Bahwa semua elemen masyarakat sebenarnya sangat ingin secepatnya bisa hidup normal kembali.

Presiden Jokowi sendiri beberapa hari lalu kepada 98 Walikota se-Indonesia mengemukakan peran besar pemerintah daerah dalam pemulihan dari bencana covid-19 dan perekonomian. Saat ini yang menyenangkan, berita yang kita baca hasil rapid test kepada yang balik dari mudik tidak ada yang reaktif.

Tentunya tak cukup hanya sampai di situ, semua pihak saat ini sudah harus memulihkan stigma bahwa suatu daerah angker dengan wabah. Selama ini dari media luar ruang fikiran kita sudah diserbu tentang penyakit belum berakhir.

Ternyata bukan hanya melalui spanduk dan baliho, melalui web pikiran kita juga dijejali stigma tentang angkernya suatu daerah. Contohnya, dengan mengklik RW tertentu saja di Google, akan timbul wilayah yang satu lingkungannya terdapat 108 orang yang di-swab reaktif.

Persoalan ini kalau datanya tidak segera dimutakhirkan, bisa saja anggapan bahwa wilayah tersebut masih zona merah. Barang tentu, niat hati untuk percepatan pemulihan dari pandemik dan pemulihan ekonomi akan masih terstigma oleh data yang belum diubah.

Kondisi ini berdampak kepada salah satunya di bidang pendidikan. Kalau ada kebijakan yang menyatakan pada tahun ajaran 2021-2022 sekolah bisa melakukan tatap muka sepanjang melaksanakan protokol kesehatan (5M), dengan data yang belum dimutakhirkan tersebut, akan sulit mendapatkan izin dari Satuan Tugas Percepatan Pemberantasan Covid-19.

Seharusnya mari sama-sama mengangkat stigma tersebut dengan perilaku yang meyakinkan semua fihak di daerah tersebut angker sudah zona hijau, misalnya. mengemukakan hal-hal yang positif didasari data yang terbarukan agar keinginan memulihkan ekonomi dan lainnya cepat tercapai.

EDY TANJUNG

Tags:

Leave a Reply