Film Boboiboy, Gagalnya Mahluk Angkasa Luar Menculik Ochobot Pemilik Kekuatan Dahsyat

Salah satu adegan film Boboiboy Salah satu adegan film Boboiboy

JAKARTA, BantenLink | Copa – Sekelompok penjahat berkekuatan super datang dari luar angkasa menyerbu Bumi.

Hanya satu tujuan, para makhluk luar angkasa jahat itu ingin menculik salah satu teman setia sang bocah super Boboiboy, Ochobot, si robot berbentuk bola kuning bersayap.

Ochobot belakangan ternyata diketahui punya satu kekuatan mahadahsyat yang ingin sekali dikuasai kelompok alien penjahat super, Tengkotak.

Kelompok penjahat antargalaksi itu berambisi menguasai sebanyak mungkin planet dan galaksi dengan kekuatan baru itu.

Tanpa punya pilihan, Boboiboy dan para rekannya berupaya keras balik melawan.

Musuh yang mereka hadapi kali ini bukan main-main.

Mereka jauh lebih kuat daripada musuh Boboiboy selama ini, Adu-du dan robot pembantunya, Probe, yang juga ikut terlibat dalam petualangan dan misi besar sang pahlawan super kali ini.

Bersama keempat rekan setianya Boboiboy bahkan harus mengeluarkan kekuatan maksimal mereka demi memerangi kelompok penjahat antargalaksi tadi.

Boboiboy selama ini dikenal memiliki kekuatan “membelah diri” menjadi kembar tiga dengan masing-masing menguasai kekuatan unsur alam, yakni api, air, dan tanah.

Empat rekannya yang lain, seperti “si gembul” Gopal yang punya kekuatan mampu mengubah apa saja jadi makanan dan Yaya si cantik berhijab merah muda yang sangat kuat dan bisa melesat terbang.

Selain itu, ada Ying dengan kecepatan supernya serta Fang, mantan musuh Boboiboy yang mampu mengendalikan bayangan dan mengubahnya jadi aneka hewan buas.

Menurut pencipta serial kartun Boboiboy sekaligus sutradara versi film kali ini, Nizam Razak, akan ada banyak kejutan muncul di film yang tayang perdana Rabu (13/4/2016) itu.

Pada intinya, salah satu kejutan utama terkait peningkatan kemampuan super para tokoh lantaran musuh yang dihadapi pun jauh lebih kuat daripada biasanya.

“Bisa ditonton sendiri nanti seberapa banyak Boboiboy bertambah kekuatannya dari biasanya mampu memecah diri jadi tiga. Pokoknya akan ada lebih banyak,” ujar Nizam sedikit memberi bocoran.

Nilai-nilai
Nizam adalah pemimpin umum (CEO) perusahaan produsen film animasi Animonsta Studios Sdn Berhad asal negeri jiran Malaysia, yang awalnya menciptakan serial televisi Boboiboy.



Saat berbincang, Senin (11/4/2016), sebelum acara press screening di Studio Blitz, Grand Indonesia, Jakarta, Nizam bercerita, dirinya punya misi khusus melalui film Boboiboy.

Nizam ingin mengajarkan nilai-nilai kesetiakawanan dan penghargaan terhadap keberagaman kepada anak-anak pencinta tokoh animasi ciptaannya itu.

Hal itu juga tergambar lewat lirik-lirik lagu soundtrack film Boboiboy The Movie berjudul “Di Bawah Langit yang Sama” ciptaan Ikhsan Skuter.

Proyek pembuatan versi film kali ini memang bukan pekerjaan main-main lantaran tingginya ongkos produksi.

Nizam mengaku produksi filmnya ini menghabiskan total biaya 5 juta ringgit atau setara Rp 16,8 miliar.

Dalam proses produksinya itu, Nizam menyebut juga melibatkan sedikitnya tujuh animator asal Indonesia yang bekerja untuk Animonsta Studios.

“Salah seorang dari mereka bahkan juga menjadi pengisi suara salah satu tokoh animasi dalam film ini, Klamkabot,” ujar Nizam, yang juga mengisi salah satu karakter penting kartun itu, Papazola.

Selain penuh adegan jenaka, alur cerita film animasi versi layar lebar Boboiboy kali ini juga menampilkan adegan mengharukan.

Berjaya di Malaysia
Film Boboiboy The Movie sudah tayang terlebih dahulu di seluruh Malaysia, serentak mulai 3 Maret lalu.

Awal pekan ini film kartun asli berlatar budaya dan bahasa Melayu itu berhasil meraup pendapatan mencapai 16 juta ringgit atau setara Rp 53,8 miliar.

Padahal, paling banter rata-rata film lokal Malaysia hanya mampu memperoleh pendapatan kurang dari 4 juta ringgit atau setara Rp 13,46 miliar.

Angka perolehan itu bahkan disebut-sebut mampu menyaingi pendapatan film-film animasi kelas Disney atau Hollywood.

Pada penayangan di Indonesia, baik Nizam maupun Rina Novita, CEO DNA Production, perwakilan Animonsta Studios, sama-sama mengaku tak berani menetapkan angka tertentu.

“Kami baru pertama kali ke Indonesia, jadi belum berani membikin perkiraan,” ujar Rina dalam jumpa pers.

Sedikitnya 100 layar di jaringan Blitzmegaplex di Indonesia disediakan untuk memutar film animasi ini.

Walau sangat menjanjikan dan dapat sangat menguntungkan, bisnis film animasi membutuhkan modal yang juga sangat besar, terutama untuk bisa menyediakan teknologi.

Menurut Nizam, setiap tahun setidaknya dirinya harus memutakhirkan program perangkat lunak, yang tentunya harus resmi berlisensi, dan setiap tiga tahun juga memperbarui perangkat komputer yang dipakai.

“Untuk satu orang (animator) baru saja kami harus sediakan sedikitnya 15.000 ringgit Malaysia (Rp 50,5 juta), belum lagi ditambah membayar gaji. Totalnya bisa sampai 20.000 ringgit Malaysia (Rp 67,4 juta),” ujar Nizam. (Wisnu/Kompas)

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply