Bersertifikat BPN, Anehnya Tanah Eks Sawah Darat Milik Saleh Asnawi “Diprovokasi” Situ (Danau)



Bersertifikat BPN, Anehnya Tanah Eks Sawah Darat Milik Saleh Asnawi “Diprovokasi” Situ (Danau)


Bersertifikat BPN, Aneh Tanah Eks Sawah Darat Milik Saleh Asnawi “Diprovokasi” Situ (Danau)

TANGSEL, Bantenlink.com — Hati-hati dengan provokasi orang tertentu yang demi kepentingan pribadi tanpa malu membuat gaduh terkait status tanah milik orang lain. Seperti dialami Drs H Moh Saleh Asnawi MA MH, yang mengurug tanah bekas sawah darat miliknya untuk jadi area jogging track ekowisata pemancingan dan akses jalan ke lingkungan lain, anehnya malah disebut mengurug situ (setu/danau).

“Aneh, ini kan tanah sawah milik saya dan grup yang sudah bersertipikat BPN, yang berlaku untuk selama-lamanya. Mengapa malah diprovokasi sebagai tanah situ yang sama kita tahu ada aturannya? Dulu sawah sekarang menjadi kantong air.
Itu karena areal yang dulu tempat penyerapan air yang harusnya mengalir dan tertampung ke bekas sawah sudah tidak ada dan sudah menjadi perumahan,” ungkap Saleh Asnawi didampingi pengacaranya Johnson SH and Partner sambil menunjukkan copy sertipikat BPN, Sabtu (6/3/2021).

Kepada para wartawan Saleh Asnawi mempersilahkan untuk mengonfirmasi lebih jelas mantan Kades (Lurah) Setu Muhammad Serin atau Lurah Kebon untuk mengetahui sejarah lengkap tanah tersebut. Untuk mengetahui kronologi tanah, juga dipersilakannya melacaknya ke BPN, karena tanah ada SHM-nya.

“Sekarang tanah SHM yang sejak 1990 dikelola Pak Serin menjadi ekowisata yang dapat menyerap lapangan kerja. Jika ada yang mengusulkan agar BPN membatalkan sertipikat yang resmi dikeluarkan, berarti melecehkan BPN yang tertib administrasinya,” sambungnya.

Saleh Asnawi menjelaskan tanah milik grupnya tidak ada sejarahnya menjadi situ, juga bukan milik Pemkot Tangerang Selatan.

“Ini bukan tanah situ atau tanah Pemkot Tangsel. Tapi tanah milik kami yang lebih kurang luasnya 2700 meter persegi luasnya dan mendapatkan sertipikat resmi dari BPN, bukan abal-abal. Untuk itulah pak Muhammad Serin mengelola ekowisata pemancingan. Karena memerlukan akses jalan juga, dibuatlah jogging track,” sambung mantan Anggota DPRD Tangsel selama dua periode ini.

Sementara itu, Muhammad Serin mantan Kades Setu yang juga mantan Anggota DPRD Kota Tangsel dan kini menjadi pengelola Saung Babeh, mengatakan sebelumnya dirinya tak menanggapi sikap aneh orang yang selalu mencari kesalahan dirinya, sampai membuat laporan ke Pemkot Tangsel. Tapi sekarang dirinya harus menanggapi.

“Satpol PP sempat menyegel area milik kami, tapi setelah mengetahui tanahnya ada sertipikatnya akhirnya mengakui yang disegel adalah pembuatan jogging track karena mengurug setu,” ujarnya.

Lebih jauh Serin menambahkan, kemungkinan orang yang tidak tahu sejarahlah yang mengaitkan situ dengan nama desa Setu. Padahal di tanah milik Haji Saleh dan grup tidak pernah ada setu.

“Dulu, sebelum tahun 90-an masih lahannya merupakan sawah semua. Saya yang mengelola tanahnya, dan belum ada rumah. Lama-kelamaan banyak rumah dan cluster, airnya mengalir kesini. Jadi kalau kalau akhirnya sampai kebanjiran, sayalah merasakan kebanjiran yang sumbernya dari perumahan. Bahkan belakangan air pun muncul dari jalanan,” papar Serin.

Di bagian lain dikatakannya, pada rapat yang dilakukan dengan menghadirkan pihak BPN, Dinas PU, Tata Kota dan Kecamatan Setu, pada akhirnya membenarkan juga lahan milik Saleh Asnawi memang bukan situ tapi adalah tanah sawah darat.

“Pol PP pun sempat salah segel, katanya yang disegel jalan yang dibuat untuk akses ke lingkungan tanah milik teman pak haji Saleh,” tandasnya.

Hal yang sama disampaikan tokoh masyarakat Tangsel Uten Sutendi yang juga sebagai penggagas pelestarian setu di Tangsel. Mantan wartawan yang senatiasa turun ke lapangan semasa muda, memang tidak pernah melihat ada setu di lokasi yang disebutkan kecuali sawah.

“Atas dasar mengetahui sejarah tempatnya, saya nilai inisiasi pembuatan ekowisata oleh pak Saleh dan pak Lurah di tanah milik sendiri, malah berpotensi dalam penyerapan tenaga kerja warga setempat, termasuk akan dapat memberikan PAD pada Pemkot Tangsel. Jadi supaya tidak menimbulkan gaduh, sebaiknya yang menerima dan memberikan info harusnya mengklarifikasinya lebih dulu. Cari tahu secara detail tentang masalah tanah, sejarah dan peruntukannya lebih dulu. Sebab, bisa saja ada yang memprovokasi asal tanah. Seperti ini yang asalnya tanah sawah dibilang tanah setu,” tuntas Uten Sutendi.

EDY TANJUNG

Tags:

Leave a Reply