Jangan Sedih! Segala Baik dan Buruk di Kehidupan Qodarullah Allah | BantenLink



Foto Ilustrasi. Artikel: Jangan Sedih! Segala Baik dan Buruk di Kehidupan Qodarullah Allah | BantenLink

PERKATAAN Qodarullah (qadarullah) bagi umat Islam merupakan sesuatu hal yang kerap didengar dan disampaikan. Yakni sesuatu ketetapan atau qadar yang baik dan buruk, datangnya dari Allah SWT.

Dalam hadis shahih yang tidak diragukan kebenarannya disebutkan Qadarullah adalah hal yang tidak perlu dipertanyakan atau disesali. Umat Islam diperintahkan untuk meminta tolong kepada Allah. Dan dilarang lemah, jika tertimpa musibah katakanlah hal tersebut sudah menjadi takdir Allah. Hadits di Riwayat Muslim mengingatkan:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا ‏.‏ وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: “Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.”

Tetapi hendaklah kaukatakan: “Ini sudah jadi takdir Allah (Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala). Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.” Karena perkataan seandainya dapat membuka pintu syaitan.” (HR Muslim).

Dalam Rukun Iman sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Muslim ada sebanyak 6 ketentuan yang harus diyakini. Salah satunya percaya pada ketentuan Allah SWT (Qadarullah).

قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِيمَانِ ‏.‏ قَالَ ‏”‏ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Artinya: “Ceritakanlah padaku yang dimaksud iman. Rasulullah SAW kemudian berkata: Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir serta qadha’ dan qadar, yang baik maupun yang buruk.” (HR Muslim).

Meskipun dalam kehidupan sehari-hari berbeda-beda memaknai jika terjadi takdir buruk yang tidak sesuai keinginan atau harapan manusia, seorang muslim pada umumnya mengetahui arti Qadarullah yang merupakan bagian dari rukun iman.

Jika seorang Muslim merasa kecewa, marah dan berhasrat melampiaskan emosinya, diingatkan untuk pasrah dan mengembalikannya pada Allah SWT. Sebagai Qadarullah segala yang baik dan buruk dalam kehidupan manusia terjadi atas sepengetahuan Allah SWT.

Jadi, sebagai manusia kita dibolehkan bersedih tapi jangan lama. Diperintahkan secepatnya menghadap pada Allah SWT dan memohon petunjuk-Nya agar kembali rasa optimis pada segala sesuatu yang telah ditetapkan.

Allah SWT telah mengingatkan hal ini dalam firmanNya di surat Az Zumar ayat 62.

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

(Allāhu khāliqu kulli syai`iw wa huwa ‘alā kulli syai`iw wakīl.) Artinya: “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.”

Tentang Qadarullah, dalam Surah Al Baqarah ayat 286 Allah mengingatkan manusia untuk percaya pada ketentuan-Nya. Pesan dari ayat tersebut, semua peristiwa terjadi sesuai kesanggupan manusia. Allah SWT tidak akan menguji lebih atau kurang dari batas hamba-Nya.

ا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

(Lā yukallifullāhu nafsan illā wus’ahā, lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat, rabbanā lā tu`ākhiżnā in nasīnā au akhṭa`nā, rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣran kamā ḥamaltahụ ‘alallażīna ming qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa’fu ‘annā, wagfir lanā, war-ḥamnā, anta maulānā fanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn.)

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Dari hadits dan ayat Al Qur’an tersebut, janganlah kita terlalu sedih jika ditimpa musibah. Kata qadarullah dapat segera meredakan emosi negatif saat merasakan kekecewaan dan kesedihan. Saat kecewa dan sedih melanda. Sesuai ketentuan dalam Al Qur’an dan hadits umat Islam disuruh menghadap Allah SWT dan memohon petunjuk-Nya.

Wajib bagi tiap muslim untuk senantiasa berikhtiar dan kemudian mengembalikan hasilnya pada Allah SWT. Dengan bertawakkal umat Islam berkeyakinan mendapat hasil yang terbaik sesuai ketentuan Allah SWT.

Dalam Firman Allah SWT pada Surat Ath-Thalaq ayat 3 seorang manusia Islam diminta tidak terus bersedih

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

(Wa yarzuq-hu min ḥaiṡu lā yaḥtasib, wa may yatawakkal ‘alallāhi fa huwa ḥasbuh, innallāha bāligu amrih, qad ja’alallāhu likulli syai`ing qadrā.)

Artinya: “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

(dtk/est)

Leave a Reply