JURNALISME BANGKU KOSONG by Zeng Wei Jian



JURNALISME BANGKU KOSONG
by Zeng Wei Jian

Najwa Shihab seorang pseudo-journalist. Talkshow-nya bukan product jurnalistik. Sekedar hiburan & provokasi. Worse than Fox News Bill O’Reilly.

Gemar rilis public humiliation spectacle. Suka polemik. Naikan rating. Disgusting political narrative.

Pseudo-journalists gunakan news-format. Pura-pura mencari fakta & informasi. Acting sebagai reporter. Adopsi nominal journalistic manners. Kadang detailnya bersifat comical pedantry. Alias Lebay…!!

Ga butuh Genius seperti Orson Welles untuk tau jurnalisme bisa dipalsukan.

Ngundang Menkes Terawan. Dirjen Kemenkes dikirim. Najwa Shihab tolak. Maunya sekelas Menteri. Emangnya dia siapa. Gimmick bangku kosong dimainkan. Stupid improvisation. Gimmick flavor tanpa proses verifikasi yang bersifat cover both side adalah satu ciri khas pseudo-journalism.

Deskripsi pseudo-journalist: One who poses as a news reporter or news anchor while pursuing another agenda.

Tiga kemungkinan agenda “Bangku Kosong” Najwa Shihab; Cuma ingin eksis, nyerang Menkes (khusus) & Mendelegitimasi Pemerintah (in general).

Satu-dua Pro Jokowi kraz bela Najwa Shihab. Tolong pandang bapaknya. Begitu rasionalisasi mereka. Argumentasi paternalistik era kegelapan. Ajaib masih ada yang berpikir seperti itu.

Menkes Terawan sibuk urus Covid-19. Najwa Shihab sibuk urus rating. Beda kelas. Dahulu datanya ngawur saat nyerang Satgas DPR-RI Lawan Covid-19.

Najwa Shihab is standing on the podiums of arrogance. Gamblang interest-nya hanya pada in-fame. Jubah Deceptive as journalists. Aslinya hanya marketer of opinion. Mungkin opini pesanan. Ga sadar playing a nasty Halloween prank on the public.

Status “Stardom” Najwa Shihab dilematis. Jurnalis selebrity atau Selebrity jurnalis. Whatever it is, etika dan efektivitas jurnalisme bisa hancur.

“Effective and ethical journalism is destroyed when journalists aspire to become celebrities and when celebrities aspire to be journalists,” kata H. Melvin James.

Anehnya kalangan Jurnalis Indonesia ngga bersikap kritis terhadap ulah Najwa Shihab yang berulang-ulang. Mungkin karena mutunya serupa. Ngga heran apabila kesadaran publik ngga berkembang seiring progress digital media.

THE END

Penulis mengirimkan artikel untuk Bantenlink.com

Leave a Reply