40 Hari Wafat Nenek Pengasuh Ponpes Miftahul Khaer Dihadiri Abuya Dimyati dan Cicit Syekh Abdul Qadir



TANGERANG, Bantenlink.com — Abuya Muhtadi bin Abuya dari Cidahu, Kabupaten Pandeglang, memimpin kegiatan doa dan tahlil dan shalawat bersama dalam rangka 40 hari berpulang kerahmatullah ibu Acih binti Adun, yang merupakan nenek dari KH Hafis Gunawan selaku pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Khaer 2, yang dilaksanakan di Kampung Kebon, Desa Rancaiyuh, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang pada Minggu 12 Juli 2020.

Pada pelaksanaan doa, tahlil dan shalawat bersama yang mendapat perhatian masyarakat luas pada ba’da Isya yang dihadiri unsur pemerintah, anggota DPRD Banten Muhlis, para ulama dan tokoh masyarakat, para pemuda, serta para ustadz dan santri bahkan dihadiri Cicit ke-26 Syekh Abdul Qadir Jailani, yakni Syekh Ahmad Rouhi yang berasal dari Libanon.

Sejak pukul 20.00 WIB berbagai elemen masyarakat itu mulai nampak khusuk mengikuti rangkaian ritual mulai pembukaan, pembacaan kitab suci Alquran, penyampaian kata sambutan, yang diteruskan dengan pembacaan bersama Surah Yasin, Tahlil dan Shalawat yang dipimpin Abuya Muhtadi hingga pukul 22.30 WIB.

Kekhusukan para jamaah juga terlihat dari para jamaah saat Cicit ke-26 Syekh Abdul Qadir Jailany menyampaikan tausiah tentang amaliah dengan berbahasa Arab yang di terjemahkan penerjemah ke dalam Bahasa Indonesia.

Syekh Ahmad Rouhi menyebutkan, KH Hafis Gunawan yang sangat ingin menjadi ulama yang bermanfaat, sangat mengikuti ajaran Nabi Muhammad.

Memang begitulah ajaran Nabi kita yang mengajak umatnya agar selalu memberikan manfaat untuk orang lain,” demikian inti nasehat Syekh Akhmad Rouhi.

Sebelumnya, KH Hafis Gunawan mengatakan rangkaian ritual doa, yasinan, tahlilan, shalawatan yang dipanjatkan para ulama dan masyarakat banyak untuk nenek tercinta pengasuh Ponpes Miftahul Kaher 2 tersebut adalah sebagai hajat pribadi dan keluarga agar nenek Acih binti Adun mendapatkan kemudahan dan diberikan kelancaran dalam kubur, diterima amal ibadahnya dan dihapuskan segala dosanya dan dimasukkan dalam surga.

“Saya meminta do’a para ulama dan segala lapisan masyarakat untuk nenek saya agar barokah di dunia dan akhirat. Mohon doanya semoga nenek saya diberikan kelancaran dalam urusan di dalam kuburnya, diterima Allah SWT amal ibadahnya dan mebdapatkan ampunan dosanya,” tutur KH Hafis Gunawan dalam kata sambutannya.

Dikisahkan KH Hafis Gunawan, di akhir hayat nenek Acih binti Adun pernah beramanat kepadanya mengurus dirinya. Kepada kiai muda tersebut si nenek menyampaikan jika meninggal dirinya ingin dimakamkan di lingkungan pondok pesantren Miftahul Khaer milik cucunya itu

Untuk itu, lanjut ulama NU kharimatik muda ini, agar peninggalan almarhum berguna bagi masyarakat banyak, KH Hafis Gunawan pun mengikhlaskan lahan hampir 2000 meter tepatnya 1943 meter milik almarhum Bapak Kolot Ki Nelo (suami almarhumah Acih binti Adun) diwakafkan untuk tempat pemakaman umum (TPU) Warga Kampung Kebon, Desa Rancahiyuh.

“Dalam kesempatan ini saya sampaikan tanah bapak kolot Ki Nelo kakek saya sudah dihibahkan sejak surat-surat tanahnya selesai diurus. Sekarang tanah tersebut sudah menjadi tanah wakaf secara resmi setelah penyerahan sebagai tanah wakaf. Saya sampaikan disini bahwa lahan tersebut sudah dapat digunakan warga Kampung Kebon Rancaiyuh sebagai tempat pemakaman muslim,” sambungnya.

Menanggapi pernyataan KH Hafis Gunawan di hadapan masyarakat banyak, Kades Rancaiyuh Suherman yang turut hadir dalam acara doa, yasin, tahlil dan shalawat dalam 40 hari meninggalnya nenek Acih bin Adun, menyatakan selaku mewakili pemerintah desa, dirinya menyambut dengan sangat senang dan berterima kasih atas keikhlasan KH Hafis Gunawan yang mau menghibahkan lahan keluarga untuk masyarakat banyak.

Suherman menjelaskan, biasanya masyarakat sangat sulit melepaskan tanah pribadi walaupun hanya satu meter untuk kepentingan umum. Tapi KH Hafis Gunawan selaku yang mewakili keluarga, mau dengan ikhlas mewakafkan hampir 2000 meter lahan dengan ikhlas dan dilakukan secara resmi.

“Saya selaku Pemerintah Desa Rancaiyuh menghaturkan terima kasih kepada Keluarga Bapak Kolot Ki Nelo yang sudah mengikhlaskan mewakafkan tanah wakaf milik keluarga untuk kepentingan umum yaitu diperuntukkan taman pemakaman umum. Untuk itu dirinya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya,” ungkap Kades Suherman.

Hal yang sama disampaikan Kepala Kemenag Kabupaten Tangerang, Dedi Mahfuddin. dalam sambutannya menyatakan bahwa yang dilakukan KH Hafis Gunawan sebagai ahli waris Abah Kolot Ki Nelo merupakan amal jariah yang pahalanya akan mengalir terus karena dimanfaatkan orang banyak.

Menurutnya, almarhum Acih binti Adun yang di akhir usianya meminta dirawat cucunya yang merupakan kiai, serta dikuburkan di sekitar pondok pesantren milik cucunya, menandakan insyaallah almarhumah meninggal dunia dengan husnul khotimah.

“Insya Allah almarhum nenek Acih binti Adun yang didoakan orang banyak dipimpin wali Abuya Dimyati Cidahu apalagi turut mendoakan Syekh Ahmad Rouhi yang merupakan cicit ke-26 Syekh Abdul Qadir Al Jailany akan membuat almarhumah dilapangkan kuburnya, diberikan kebahagian alam barzah dan dimasukkan kelak ke dalam surga bersama keluarga dan umat Islam yang bertakwa,” sambut Dedi Mahfuddin.

Kepala Kemenag Kabupaten Tangerang itu melanjutkan, sesungguhnya seperti dalam hadits Nabi Muhammad, setiap orang yang telah meninggal dunia seperti tenggelam dalam lautan yang dalam. Artinya, mereka sangat merindukan anak-anak, saudara-saudara, teman-teman yang masih tinggal di dunia untuk mau terus mendoakan.

“Maka doa, yasin, tahlil, shalawat pada 40 hari berpulang kerahmatullah nenek Acih binti Adun wajib dilakukan setiap nadhliyin yang pasti berguru kepada nadhliyin dan seterusnya hingga ke atasnya, seperti yang diterus KH Hafis Gunawan,” tandasnya.

EDY

Leave a Reply