Anggota DPR RI Irgan Chairul Mahfiz: Indonesia Bom Demografi! Data Sensus, 1 Usia Produktif Tanggung 51 Anak-anak

DSCN9612

Kehidupan itu laksana lautan: “Orang yang tiada berhati-hati dalam mengayuh perahu, memegang kemudi dan menjaga layar, maka karamlah ia digulung oleh ombak dan gelombang. Hilang ditelan samudra yang luas. Tiada akan tercapai olehnya tanah tepi. Buya HAMKA)

I. Pendahuluan

Hakikat Pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila dan UUD 1945 adalah pembangunan manusia Imdonesia seutuhnya. Pembangunan nasional mencakup semua dimensi dan asprk kehidupan, termasuk pemrkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga.

Perlu diketahui bahwa Character and Nation Building berawala dan menjadi inti dari Keluarga Indonesia. Ada beberapa peranan penting perlunya perhatian besar terhadap keluarga, yaitu: 1) Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami, istri, atau suami, istri dan anaknya, atah ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. 2) Lingkungan pertama dan utama dalam pembinaan tumbuh –kembang menanamkan nilai-nilai moral dan pembentukan kepribadian. 3) Tempat belajar bagi anak dalam mengenal dirinya sebagai mahluk sosial. 4) Hanya keluarga yang ‘berketahanan’ yang akan mampu menepis pengaruh negatif yang datang dari luar, dan 5) Keluarga yang berketahanan dan mampu melaksanakan fungsi-fungsi keluarga dapat menjadi landasan dalam mewujudkan keluarga bahagia sejahtera.

Oleh sebab itu, untuk dapat melaksanakan fungsi keluarga secara optimal, Pemerintah mengeluarkan kebijakan pembangunan keluarga melaui pembinaan ketahanandan kesejahteraan keluarga. Ketahanan dan kesejahteraan keluarga adalah kondisi keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik materi guna hidup mendiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan, kebahagiaan lahir dan batin. (UU No. 52/2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.)

Perkembangan Kependudukan dan pembangunan Keluarga terus mendapatkan perhatian khusu dalam rangka pembangunan nasional yang berkelanjutan. Penduduk harus memjadi titik sentral pembangunan agar setiap penduduk dan generasinya mendatang dapat hidup sehat, sejahtera, produktif dan harmonis dengan lingkungannya,se rta menjadisumber daya manusia yang berkualitas bagi pembangunan.

II. Tantangan Pembangunan Keluarga

Pembangunan Keluarga Indonesia memang banyak menghadapi tantangan. Pengaruh yang datang dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal) akan berdampak signifikan terhadap program pembangunan keluarga Indonesia.Dengan kata lain banyak system yang mempengaruhi kondisi keluarga, dari orang tua itu sendiri smpai hukum atau regulasi yang menjadi kebijakan Negara.



Budaya dan gaya hidup (life style) yang menjdi bagian dari microsystem seperti gaya hidup komsumtif dan hedonistic yang melanda kehidupan masyarakat dewasa ini juga mempunyai dampak yang tidak kecil terhadapp perkawinan (microsystem), terutama pada lembaga perkawinan dengan ketahanan (resilience) yang rendah sehingga rentan terhadap berbagai gangguan. Tekait dengan ketahanan perkawinan dan keluarga (marriage and family resilience) yang meliputi aspek fisik dan nonfisik, moral, spiritual dan psikologis, penting untuk diperhatikan aspek nilai-nilai yang menjadi landasan dalam relasi keluarga.

Perkawinan dan kehidupan keluarga melibatkan individu dari latar belakang yang berbedamelibatkan individu dari latar belakang yang berbeda, yang tentu mau tidak mau harus memperhatikan kebutuhan dan keunikan masing-masing pihak. Nilai kasih-sayang, trust (dapat dipercaya dan saling percaya), respect (penghargaan) terhadap pasangan; empati; pengendalian diri, berfungsi sebagai perekat hubungan perkawinan. Masalah kependudukan yang tidak kalahm enarik yang dapat mempengarui pembangunan keluarga adalah masalah ‘Bonus Demografi’. Bonus Demografi adalah peluang (opportunity) kemakmuran ekonomi suatu Negara karena besarnya proporsi pendudukproduktif (usia 15-64 tahun) dalam evolusi kependudukan dengan pola siklus se-abad sekali. Oleh sebab itu, jika peluang tersebut tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin, maka akan menjadi anti bonus, yaitu badai bom (bomb disaster) demografi.

Perlu diketahui, bahwa priode bonus demkgrafi Indonesia dimulai 2015-2035 dengan angka ketergantungan (dependency ratio) berkisar anatara 0,4-0,5. Angka ketergantungan mengandung arti setiap 100 orang usia produktif akan menanggung 40-50 orang usia tidak produktif. Proporsi usia kurang dari 15 tahun (anak-anak) terus berkurang dibandingkan dengan penduduk usia kerja (15-64). Menurut data Sensus Penduduk menunjukkan jumlah ketergantungan tahun 2010 adalah 100 usia produktif/pekerja menanggung 51 anak. Jadi pada priode 2015-2035, bangsa Indonesia berkesempatan besar memacu produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi diharapkan meningkatkan saving untuk kemajuan kemakmuran bangsa, khususnya program pembangunan keluarga. Hal ini akan memberikan dampak pada peningkatan kesejahteraan yang terasa hingga berpuluh-puluh tahun kemudian.

III. Penutup

Beberapa factor yang paling mendukung terwujudnya Revolusi Mental Berbasis Keluarga Harmoni adalah adanya pemahaman agama yang baik, tanggung jawab, kerjasama, kesamaan (kesesuaian) karakter, saling mempercayai, saling menerima kekurangan dan kelebihan, komunikasi yang intens antara anggota keluarga, dan kematangan dalam kesiapan untuk melakukan pernikahan dar kedua pasangan . Sedangkan faktor-faktor yang menghambat keluarga harmoni adalah perasaan tidak lagi ada keharmonisan diantara pasangan, suami kurang tanggung jawab, salah satu pasangan tidak seia, kurang terpenuhinya ekonomi keluarga dan, perkawinan yang tidak matang atau kurang siap. (Drs H Irgan Chairul Mahfiz MSi untuk BantenLink.com)

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply