Spiritualitas Baru, Sejarah Hasrat Berkuasa dan Mencari Makna | Denny JA



< Image untuk artikel: Spiritualitas Baru, Sejarah Hasrat Berkuasa dan Mencari Makna | Denny JA[/caption]“Derita yang datang padamu, Ia utusan Tuhan. Sambutlah Ia sebagai tamu kehormatan. Ia membawa hikmah untuk pertumbuhanmu.”

Kutipan Rumi ini yang saya ingat ketika membaca data. Renungan Rumi itu memberi kita panduan ketika datang masa paceklik. Luka pun berubah menjadi makna. Derita membawa hikmah.

Bukankah itu inti dari spiritualitas? Sebuah sikap hidup, sebuah panduan, yang memberi kita makna, yang membantu kita lebih mudah melewati pasang surut kehidupan, menuntun kita melakukan kebajikan. Ujungnya, renungan itu membuat hidup kita terasa dalam dan berarti.

Yang juga penting santapan spiritual berlaku universal. Renungan itu tetap mencerahkan kita, apapun agama yang kita anut, bahkan jika kita sudah tak pula percaya agama. Renungan itu tetap menyentuh kita, apapun asal negara, status ekonomi, warna kulit, ras, gender, bahkan orientasi seksual kita.

Kini kita sudah terkoneksi secara global. Kita-kita juga warga dunia. Kesamaan kita sebagai homo sapiens lebih banyak, lebih asli dan lebih dalam dibandingkan perbedaan identitas sosial kita.

Alangkah lezatnya hidup jika manusia sedunia ini, terlepas dari apapun identitasnya, bersama bisa menyantap satu hidangan spiritual.

Itulah tujuan ditulisnya buku ini.

Data yang saya baca menunjukkan zaman sudah begitu berubah. Dalam sejarah dua ratus ribu usia homo sapiens, kita belum pernah sampai pada tahap peradaban yang ditunjukkan oleh tiga data ini.

Pertama, data soal kemakmuran. Global Burden of Diase Study 2010 melaporkan. Mereka yang meninggal karena kelebihan kalori, karena penyakit yang berhubungan dengan obesitas, kini tiga kali lebih banyak ketimbang mereka yang meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan kelaparan. (1)

Untuk pertama kalinya dalam peradaban, jumlah yang mati karena kelebihan makan lebih banyak tiga kali lipat dibandingkan karena kurang makanan.

Sejak munculnya homo sapiens dua ratus ribu tahun lalu, sejarah bergerak karena perebutan sumber daya makanan. Kini secara umum peradaban sudah kelebihan makanan. Mati karena EAT MORE jauh lebih banyak dibanding mati karena EAT LESS.

Kita memasuki apa yang disebut Inglehart sebagai zaman post-materialism. Ini zaman yang tak lagi disibukkan dengan kebutuhan pokok. Tapi ia sudah melampaui itu. Kebutuhan utama kita lebih pada aktualisasi diri, dan hidup yang lebih berkualitas. (2)

Tentu tetap ada dan tetap banyak penduduk dunia yang masih berjuang untuk memenuhi basic need seperti makanan, rumah dan rasa aman. Tapi peradaban sudah bergerak melahirkan lebih banyak dan lebih banyak lagi manusia yang kebutuhannya melampaui dunia materi.

Data kedua yang saya pelajari adalah soal kesepian. Ini data dari WHO. Jumlah yang meninggal karena bunuh diri kini lebih banyak dibandingkan jumlah yang meninggal karena konflik, perang dan bencana alam digabung menjadi satu (3).

Setiap tahun sekitar 800 ribu hingga 1 juta manusia di seluruh dunia mati bunuh diri. Setiap empat detik ada yang bunuh diri di salah satu wilayah bumi.

Ini ironi peradaban post-materialism. Ketika kemakmuran materi melimpah semakin banyak yang bunuh diri. Apapun penyebab, pastilah yang bunuh diri merasa hidup yang tak lagi berharga untuk dijalani. Pastilah ia lama tenggelam dalam rasa putus asa dan depresi.

Data itu semakin menguatkan persepsi kita tentang manusia. Kelimpahan materi belaka tidak membuat peradaban itu nyaman bagi manusia di dalamnya.

Data ketiga yang saya baca dari Pew Research Center dan Adherent.Com. Peradaban ini tidak kekurangan agama. Jumlah agama yang kini hadir sebanyak 4300. Masing masing agama itu mempunyai konsep Tuhannya sendiri, konsep moralnya sendiri. (4)

Sudah pasti masing masing penganut agama yang fanatik merasa hanya agamanya yang benar, dan ribuan agama lain salah. Ini psikologi penganut agama yang berlaku universal. Persepsi benar sendiri tumbuh tak hanya di agama Kristen, Islam, Budha, Hindu, bahkan juga di kalangan penganut kepercayaan yang jauh lebih kecil.

Empat agama terbesar: Kristen, Islam, Hindu dan Budha dipeluk oleh 75 persen populasi dunia. Penganut Kristen dan Islam jika ditotal sudah melampaui 50 persen penduduk bumi.

Agama ketiga terbesar ternyata, hasil Pew Research Center, bukan Hindu atau Budha. Ketiga terbesar adalah “Non-Affiliated.” Ini kumpulan individu yang tak lagi merasa perlu mengidentifikasikan diri dengan agama tertentu.

Di zaman ini, ketika segala hal bisa dilacak di Google, publik dapat pula melacak kisah sejarah yang tersimpan dalam kitab suci. Arkeolog menemukan, misalnya, betapa sebagian nabi itu bukan tokoh historis, tak pernah hadir dalam sejarah. Atau kisahnya dilebih-lebihkan dibandingkan kisah sebenarnya, seperti yang ditemukan oleh arkeolog. (5)

Ini dapat membuat mereka kehilangan makna dengan agamanya yang dulu. Ada yang percaya Tuhan tapi tak lagi lewat agama. Ada yang hanya percaya pada humanisme. Dan sebagainya.

Peradaban juga terus saja memproduksi agama baru. Agama Baha’i misalnya lahir di tahun 1850, kini menyebar di dua puluh negara, dengan total penganut sekitar 6 juta. Penganut terbesarnya berada di India dan Amerika Serikat (6)

Agama yang paling baru adalah Kopimism. Pemerintah Swedia mengakuinya sebagai agama di tahun 2012. Ini agama yang sangat unik yang lahir di era informasi. Mereka meyakini informasi itu adalah suci. Tindakan mengkopi informasi itu (asal dari nama Kopimism) adalah suci pula. (7)

Peradaban baru ini sudah terlalu banyak agama. Membuat agama baru bukanlah solusi.

Yang diperlukan semata spiritualitas baru. Ini bukan agama, tapi gaya hidup yang bisa dijalankan oleh semua penganut agama, bahkan oleh mereka yang tak lagi percaya agama. Ia tidak berniat dan tak perlu menggantikan agama yang sudah ada.

Sebaliknya, spiritualitas baru itu membuat penganut agama lebih mendalam dan menghayati agama asalnya.

Hingga 40 ribu tahun lalu, homo sapiens, nenek moyang kita, bukanlah satu-satunya jenis manusia yang hidup. Ada pula Homo Erectus, Homo Nenderthal. Kini jenis manusia di luar Homo Sapiens sudah punah.

Para teolog agama Abraham tentu perlu kembali mengeksplorasi. Ketika Adam dan Hawa dipersepsikan sebagai manusia pertama, apakah mereka manusia pertama jenis homo sapiens belaka? Apakah mereka juga manusia pertama dari Homo Nanderthal, Homo Erektus dan sebagainya.

Sebelum datangnya revolusi pertanian sepuluh ribu tahun lalu, imajinasi Homo Sapiens masih sangat terbatas. Tulisan saat itu belum ditemukan. Teknologi masih terbatas pada alat dari batu saja.

Namun hasrat untuk berkuasa dan hasrat mencari makna hidup sudah tumbuh setua umur Homo Sapiens.

Sejak seratus ribu tahun lalu, sudah ditemukan apa yang disebut kuburan pertama dalam sejarah manusia. Para arkeologis melukiskan bahwa manusia di era itu sudah mengembangkan narasi untuk memberi makna hidup. Kuburan itu jejak manusia mengembangkan persepsi ada kehidupan lain setelah mati. (8)

Animisme menjadi narasi pertama yang dikenal peradaban. Manusia di era itu dilanda rasa takut dan khawatir untuk hal tak ia mengerti.

Tiba-tiba datang bencana alam. Banjir besar menggulung. Gunung meletus. Wabah penyakit. Orang yang mereka sayangi meninggal dalam jumlah yang banyak. Bagaimana menjelaskan penderitaan dan bencana? Bagaimana pula berdamai dengannya?

Dikembangkanlah narasi bahwa alam ini memiliki jiwa. Batu besar, sungai yang besar, matahari, bulan, pohon besar memiliki jiwa. Manusia ingin berdamai dengannya. Sesajen pun disajikan. Sesajen menjadi ritus keyakinan pertama yang dikenal manusia.

Keyakinanpun berevolusi. Selama dua ratus tahun homo sapiens, kita mengenal empat narasi besar penjelas realitas. Yang paling primitif adalah Animisme. Ia pun berkembang menjadi Politeisme dan Monoteisme. Namun sejak era Abad pertengahan, Narasi Ilmu Pengetahuan semakin dominan sebagai penjelas realitas.

Spiritualitas baru universal harus pula bersandar para narasi paling mutakhir: Ilmu Pengetahuan. Spiritualitas baru itu tak lagi bersandar pada titah dari langit. Juga tidak bergantung pada renungan filsafat di belakang meja.

Spiritualitas baru itu haruslah hasil dari riset panjang yang empirik. Kita sebut spiritualitas baru itu dengan aneka nama: the Science of Wellbeing, atau Panduan Hidup Bahagia (Happiness).***

Mei 2020

Leave a Reply