Kiai Muda NU, Hafis Gunawan: Solusi ‘Bencong’ Ada di Tafsir Syekh Nawawi al-Bantani Tanara

Kiai Hafis Gunawan. (Foto:Edy)

Kiai Hafis Gunawan. (Foto:Edy)

TANGERANG | BantenLink.com – Saat berita media massa merebakkan soal LBGT (Lesbian, Biseksual, Gay, Transeksual) yang meresahkan umat Islam, Kiai Pondok Pesantren (Ponpes) tidak bisa berdiam diri. Salah satunya yang angkat bicara Pimpinan Ponpes Miftahul Khaer Curug, Tangerang, Banten. Ia menyebutkan masalah LBGT terlampau dibesar-besarkan dan cenderung hoax. Hal ini mengingat jumlah penduduk Indonesia mencapai 250 juta jiwa, sedang total terkait LGBT yang dihebohkan hanya 500 ribu – 1 juta orang saja.

“Tapi apapun perkaranya, soal waria (Waria) atau bencong harus dicarikan solusinya. Bicara tentang waria, ulama kitab kuning termashur, Syekh Nawawi Tana Ara atau al-Bantani, pernah mengupasnya. Dalam salah satu tafsir dari sekitar 40 karya, disebutkan bencong atau kunsa punya sekaligus 2 alat kelamin, laki-laki dan perempuan. Untuk menentukan yang sebenarnya, berdasarkan mana paling dominan,” ungkap Hafis Gunawan pada BantenLink.com, Sabtu (13/2/2015).

Kiai pengasuh ribuan santri di Kampung Babakan ini tak sungkan untuk menguraikan Tafsir Syekh Nawawi. Waria, lanjut Hafis, memiliki kodrat dan tak menginginkan dirinya ‘berbeda’. Seorang bencong harus dilihat apakah sebenarnya berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. dia berkelamin ganda, yang satu tampak, lainnya tak terlihat.



“Untuk melihat kodrat bencong, menurut Tafsir Futuhus Samad, dilihat mana yang paling besar vagina atau penisnya. Kalau vaginanya menonjol berarti perempuan, atau sebaliknya. Gimana kalau sama besar? Dilihat dari mana yang mengeluarkan air seni. Kalau sama-sama mengeluarkan, dihitung yang paling lama keluar. Kalau lama mengeluarkan air seninya masih sama, maka ditimbang beratnya,” papar Kiai Hafis yang mengasuh santri berasal dari pulau Jawa dan Sumatra ini.

Sebagai tokoh muda Nadlatul Ulama (NU) di wilayah Curug, Kiai Hafis menghimbau agar masalah waria tak dibiarkan karena sebagai penyakit mental yang harus diobati. Waria muslim dan muslimah yang merasa dirinya laki-laki atau perempuan seharusnya menjalankan agama secara baik. Tapi, imbuhnya, datang penyembuhan dari diri sendiri.

“Jadi, jika ada yang aneh dan menyertai kelamin seseorang, seharusnya dioperasi,” himbaunya.

Lebih jauh diterangkan Kiai pemilik pemondokan yang rajin sowan pada sesepuh berbagai pesantren itu, soal Lesbi, Biseks, Gay, Ulama hanya dapat memberi pemahaman berkaitan aturan agama. Mau mengobatinya atau tidak, kembali kemauan individunya masing-masing. Jika tetap bencong, dan tahu haram menurut agama, seharusnya jangan menularkannya, katanya.

“Sebab ada juga menjadikan bencong sebagai profesi. Kalau terbawa lingkungan bergaul, bisa menjadi waria benaran. Apalagi jika mendapat kesenangan dan perlindungan seperti LGBT. Biasanya yang banyak terjerumus adalah orang kaya, bukan orang susah,” ujar Kiai Hafis.

Tapi dirinya bersyukur ada waria yang mencari solusi terbaik. Kiai yang mengelola pendidikan formal dari Raudlatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah hingga dan STKIP itu, menyambut positif adanya Pesantren Waria. Ia berpendapat kehadiran pesantren bencong sebagaimana pesantren narkoba dan lain-lain. Untuk kebaikan,katanya, tak salah kalau dibuatkan pesantren penyandang LGBT semacam Lesbian.

“Tentang Pemikiran tokoh NU semacam Ulil Absar yang nyeleneh soal LGBT, saya rasa otak kita tidak sampai menjangkaunya. Dia orang yang sangat cerdas. Dia pasti banyak baca kitab. Wallahualam-lah. Pendapat saya, prinsip-prinsip tokoh-tokoh NU seperti almarhum Kiai Gus Dur atau Kiai Aqil Sirath, bukan merangkul yang salah, sebenarnya malah membekab supaya tak bisa bergerak,“ tandas Pimpinan Ponpes Miftahul Khair sangat berkembang ini. (edy)

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply