Miftahul Khaer Wisuda 221 Santri Mahir Baca Kitab Gundul Metode Amtsilati, Begini Prosesinya



Ponpes Miftahul Khaer Wisuda 221 Lulusan Sistem Amtsilati

TANGERANG, Bantenlink.com — Amsilati merupakan metode belajar membaca kitab kuning yang berisi ajaran Nabi Muhammad SAW dengan mudah dan menyenangkan. Hal tersebut digambarkan pada Prosesi Wisuda Amtsilati Ke-2 Ponpes Miftahul Khaer, Curug, Tangerang, yang bertemakan “Mewujudkan Masa Depan yang Berbudi Pekerti, Berilmu Tinggi dan Beramal Nyata”, Minggu 23 Pebruari 2020.

Hadir dalam kesempatan diawali pembukaan dan kalam illahi itu pencipta metode Amtsilati H Taufiqul Hakim dan Ibu Nyai yang melantunkan shalawat diiringi tim hadro. Dalam sambutannya, pengasuh Ponpes Miftahul Khaer, KH Hafis Gunawan, menyampaikan rasa syukur atas kedatangan kedua pengasuh Ponpes Darul Falah dari Jepara itu, semoga atas kehadirannya Allah SWT memberikan barokah dan kemanfaatan bagi semua.

Tampak dalam kesempatan itu, Ketua Yayasan Miftahul Khaer KH Armad Syaripudin, Pengasuh Ponpes MK II KH Alim, Cicit ke 26 Abdul Qadir Al Jailani Syekh Ahmad Rouhi Al Abdul Qadir Al Jaelani, Kordinator Metode Amtsilati Wilayah Banten Rahmad Maulana Wibowo, Camat Curug yang diwakili Sekcam Encep Sahayat, para Kamad, para Assatid, Aparatur Pemerintah, tokoh masyarakat, para wali santri dan santri.

Foto bersama sebelum acara Wisuda Amtsilati

Rahmad Maulana mengucapkan terima kasih kepada Pengasuh Ponpes Miftahul Khaer yang telah memberikan motivasi dan semangat belajar bagi santriwan-santriwati. Dikatakannya, Metode Amtsilati mulai digunakan di Ponpes tersebut sejak tahun 2019. Sebelumnya hanya mewisuda sebanyak 20 orang, namun kini dari 20 orang yang diberdayakan sebagai guru, Miftahul Khaer sudah dapat meluluskan sebanyak 221 orang, sebab satu orang bisa mengajar hingga diwisuda sebanyak 10 orang.

Harapannya, setiap alumni yang harus mengajar hingga selesai sebanyak minimal 10 orang. Tahun depan Ponpes Miftahul Khaer akan bisa meluluskan sampai sebanyak 2000 wisudawan-wisudawati Amtsilati.

Dalam belajar Amtsilati diharuskan lulus kitan jilid hingga jilid 5. Teori dan praktek belajarnya harus dikuasai, setiap yang lulus ujian minimal nilainya 85. Dari proses belajar tentunyaada beberapa santri yang berulangkali tidak lulus, bahkan masih tetap berada di jilid 1, tidak dapat naik ke jilid berikutnya. Namun ketika santri sudah mengerti, dapat ujian kapan saja karena tes dilaksanakan dua kali dalam seminggu, yaitu di hari Senin dan pada hari Kamis.

Untuk belajar dengan sistem Amtsilati yang digunakan ialah sistem berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairot). Dari sebanyak 600 santri yang mengikuti metode Amtsilati saat ini ternyata yang dapat lulus sampai mengikuti ujian akhir sebanyak 221 orang. Tapi, bagi salah seorang santri yang bernama Ahmad Muzakki mengakui dirinya belajar hingga lulus Amtsilati cuma selama 6 bulan atau bejalan lancar.

Bersama menyanyikan lagu Indonesia Raya

Waktu prosesi Amtsilati para wisuda Amtsilati KH Hafis Gunawan didampingi pencipta metodenya KH Taufiqul Hakim memberikan ijazah secara langsung. Setelah secara resmi para santri diarahkan untuk meminta maaf dan melakukan sungkem kepada kedua orang tua yang diundang untuk datang menyaksikan prosesi wisuda. Setelahnya, para orang tua santri dapat melakukan saweran uang kepada anaknya yang telah dinyatakan lulus membaca kitab kuning atau kitab gundul itu.

KH Hafis Gunawan dalam kata sambutannya berharap agar KH Armad, KH Raya sekeluarga, KH Mustofa, Sekcam Curug Encep Sahayar, KH Taufiqul Hakim serta Syekh Ahmad Rouhi dari Libanon (yang hadir tanpa diundang tapi hanya kecuali mahabbah-nya ke Ponpes Miftahul Khaer) yang mendadak datang ke dalam acara hanya karena ingin memberikan surprise. Diharapkannya semua hadirin bertambah kesehatan dan keberkahan yang didapatkannya.

Hafis Gunawan mengatakan, metode Amtsilati merupakan hal yang sama dengan sorogan amil, sorogan jurumiyah dan miyal. Dibuat dengan metode yang menyenangkan namun sesuai kaidah jurumiyah dan nahu sorof. Amtsilati sama dengan cara membaca kitab gundul lainnya. Dulu ada metode bagdadiyah, sebelum munculnya pula metode iqro Sekarang untuk belajar kitab kuning atau kitab gundul sistem Amtsilati diciptakan lebih mudah dan menyenangkan.

Sebagaimana Metode Jurumiyah, Amtsilati diciptakan agar mahir secaracepat dalam memahami kitab gundul. Bagi yang belum lulus jangan sungkan-sungkan untuk harus kembali ke jilid satu. Perlu diketahui dalam kitab kuning dengan metode Amtsilati, dengan tidak ada kenal-kenal kelas. Maka jangan heran kalau kelas 3 tsanawiyah sudah lulus, sedangkan kelas 12 belum mendapatkah ijazah.

Hafis Gunawan mengemukakan, adapun tradisi di Ponpes NU yaitu tetap mempertahankan atau mempergunakan metode belajar yang lama dan akan memakai yang baru jika itu dipandang baik.

Sementara itu, KH Taufiqul Hakim mengatakan kehadirannya di Ponpes Miftahul Khaer untuk memberikan pengarahan dan demonstrasi tentang Amtsilati. Amtsilati, kata Taufiqul Hakim, merupakan metode pemula untuk membaca kitab kuning atau kitab gundul.

Dalam belajarnya ada yang masih pemula atau kanak-kanak, tapi ada pula yang sudah kawak-kawak, candanya.
Jadi, belajarnya tidak dari google, yang membuat tugel (terputus) sanad-nya. Belajar dari google bisa jadi yang mati sangit dibilang mati sahid. Padahal kalau ada Sanad-nya seharusnya berasal dari guru saya dan seterusnya. (Taufiqul Hakim lalu membacakan sanad gurunya).

Taufiqul Hakim mengakui, dirinya sendiri dapat menemukan sistem Amtsilati dengan tanpa pernah pernah mengenyam perkuliahan. Tapi dengan hanya lulus sekolah Aliyah dirinya dapat menciptakan Amtsilati. Dia mengingatkan, agar anak yang telah mendapatkan ilmunya diberikan kebarokahan dan ilmunya bermanfaat selalu.

Pada bagian lainnya disebutkan pentingnya datang belajar kepada guru (ulama) dan meminta doanya karena merupakan pewaris Nabi. Diceritakannya, pada 1500 tahun lalu, sesungguhnya Nabi pernah tidak menginginkan azab Allah, sehingga Allah tidak mengazab umat-nya. Jadi kalau penyakit korona tidak sampai menjalar di Indonesia itu karena di dalamnya ada doa-doa para ulama pewaris Nabi dan doa umat Islam kepada saudaranya.

Jadi sekarang ini, bersyukurlah kalu masih ada umat yang mau memakmurkan pesantren dan mesjid, masih ada yang ber-istighfar, maka insya azab akan dijauhkan Allah. Dan semasih ada yang mengelola pesantren dan mesjid, Insya Allah Indonesia akan tetap dijauhkan dari penyakit, dijauhkan dari bala semacam Corona.

Dalam Hadits, ditolaknya bala karena ada doa orang-orang mukmin didalamnya, doa seorang muslim akan dapat menolak 100 bala kepala tetangga. Seorang anak mukmin yang soleh akan dapat menolak bala sebanyak 500 orang.

Sementara itu, Encep Sahayat dalam sambutannya mengungkapkan bahwa dirinya baru satu minggu bertugas sebagai Sekcam di Kecamatan Curug. Dalam sambutan Sekcam Encep mengatakan, tugas baru yang diembannya sebagai Sekcam, setelah adanya perputaran (mutasi) yang dihadapinya.

Sekcam Encep menceritakan, sebelumnya dirinya menjabat Sekcam Cikupa sesudah menjafi Sekcam di Mauk dan pernah di Dinas Pendidikan. Terkait Amtsilati
Encep mengakui dirinya pun baru tahu, namun diakuinya cara untuk belajarnya yang diciptakan kiai dari Jepara sangat luar biasa. Ilmu alatnya sejalan ilmu pengetahuan. Metode belajar kitab kuning menjadikan belajarnya muda dan cepat. Maka KH Taufiqul Hakim menginginkan agar yang lulus Amtsilati dapat mencapai sebanyak 1 miliar dari belajar teori metode Amtsilati.

Bagi Encep Sahayat, belajar dengan metode tersebut bukan hal yang mustahil. Dirinya mengapresiasi Metode Amtsilati karena sejalan dengan visi-misi Kabupaten Tangerang, yaitu salah satunya untuk mewujudkan masyarakat yang religius. Terima kasih disampaikannya kepada pengasuh pondok pesantren yang telah membantu masyarakat menjadi religius, ucapnya.

EDY TANJUNG

Ponpes Miftahul Khaer Wisuda 221 Lulusan Sistem Amtsilati

Leave a Reply