Demi Kekompakan LPM Medang Gelar Silaturahmi dengan 21 Ketua RW



Silaturahmi LPM Kelurahan Medang bersama para Ketua RW setempat, Sabtu (15/2/2020)

TANGERANG, Bantenlink.com — Berbeda-beda tapi tetap satu, jadi prinsip warga yang sama-sama ingin berbakti demi kemajuan Kelurahan Medang, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Dasar ini pulalah yang melatarbelakangi para pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) setempat berinisiatif dan giat mempersatukan sebanyak 21 Ketua Rukun Warga (RW), dalam persepsi yang sama agar tetap selalu kompak di wilayah tersebut. Wilayah di kelurahan Medang memiliki karakter yang berbeda-beda, ada yang masih memiliki wilayah perkampungan tradisional, namun telah banyak perumahan bahkan cluster moderen. Di wilayah yang terus mengalami perubahan pesat menjadi perkotaan ini akan memiliki sebanyak 31 RW namun yang sudah resmi baru terbentuk sebanyak 21 RW.

Menurut Mad Nur selaku Ketua LPM Kelurahan Medang, dirinya bersama rekan-rekannya yang lain, seperti Urief (Sekretaris), Stefanus (Bendahara) beserta jajaran pengurus LPM lainnya, sengaja menginisiasi pertemuan yang dilaksanakan pada Sabtu (15/2/2020) di aula kantor Kelurahan Medang itu. Kegiatan mengadakan pertemuan silaturahmi dari pagi hingga siang hari dengan para RW se-Kelurahan Medang ini, mendapatkan apresiasi dari Tri Pilar yakni Lurah Tarlan, Binamas Arif Budiman dan Babinsa Sujana, termasuk bagian pemberdayaan perempuan bernama Deden. Datang juga tokoh agama KH Ghozali, tokoh masyarakat Pasaribu, para penasehat LPM diantaranya Freddy dan Lukie.

“Ya, sebagai mitra Kelurahan, pimpinan dan pengurus LPM Medang yang tak mendapatkan gaji ini, merasakan sangat pentingnya adanya rutinitas bersilaturahmi dengan para Ketua RW. Meskipun banyak yang merangkap jabatan tapi tiada lain niatannya hanya ingin menghibahkan sisa umur untuk mengabdi kepada masyarakat.

Kami terpanggil menggagas silaturahmi ini tak lain karena mengemban tugas sebagai kepanjangan tangan bapak Lurah. Medang sendiri adalah satu dari sebelas desa seluas sekira 40 hektar yang berubah status menjadi kelurahan sejak tahun 2003. Saat itu saya baru dua tahun menjabat Kades Medang sehabis dilantik pada Mei 2003. Saya sendiri sebagai Kades waktu itu baru belajar dari bapak M Romli (orangtuanya Deden, pengurus bagian pemberdayaan wanita LPM Medang). Namun sejak saat itu saya jadi tahu, bahwa persoalan yang berat dihadapi Kades adalah masalah administrasi pertanahan yang harus ditangani dengan sangat hati-hati. Maka tak heran sebelum tutup usia para Kades bagaikan tak bisa tenang, karena kebanyakan dalam administratif tanah banyak yang diurus dibawah tangan. Syukurlah, untuk tanah di wilayah Medang mayoritas dikuasai pengembang Summarecon dan Paramount, sehingga saya merasakan 90 persen sudah aman. Untuk masalah tanah sendiri, ada ahlinya yaitu pak Asmadi masih hapal tempat-tempatnya,” papar Mad Nur dalam kata sambutannya.

Dia menambahkan, di acara yang 30 menit diisi pemaparan LPM dan 30 menit arahan Lurah Medang serta selama satu jam waktu untuk bersilaturahmi dan saling memberikan masukan, salah satu maksudnya untuk dapat menjaga kekompakan. Soalnya, belakangan ini hubungan tersebut dirasakan seperti sudah kurang harmonis. Untuk itu jugalah Mad Nur mengaku merasa sangat perlu untuk menjaga kesinambungan keakraban dan silaturahmi, baik dengan warga yang berada di perkampungan, perumahan dan cluster. Mendukung usulan Bendahara LPM Medang, sebagai momen tepatnya, dalam waktu dekat ini atas usulan Stefanus secara bersama-sama akan merayakan 17 Agustus dengan berbagai lomba yang diadakan di kelurahan Medang.

“Untuk itu kami dari LPM Kelurahan Medang mengundang seluruh Ketua RW, menyamakan persepsi. Tidak ada lagi perbedaan antara RW di kampung (kejaroan) dengan perumahan (Catalina, Medang Lestari maupun cluster yang dikembangkan Summarecon (men-support pembentukan RW-RT) dan Paramount Land. Ada banyak cluster yang sudah terbentuk RW-RT, diantaranya Darwin, Volta, Aristoteles, Pascal, Edison, Karelia). Kita sepakat untuk menjalin kekompakan. Ini semua harus dengan niatan, sebagaimana hal masuk ke mesjid ada aturan harus membuka sandal. Kita sadar, sesama RW tentu masing-masing memiliki kelemahan atau persoalan. Untuk itulah agar saling loyal dan mau membantu teman.

Sebagai mitra kelurahan setiap RW minimal mengenali RW yang lain, sehingga ketika ada persoalan apapun yang terjadi semuanya harus bisa kompak dan bersama. Jadi, dengan banyaknya Ketua RW yang hadir ini, menandakan bahwa kita semua sebenarnya sudah kompak. Tapi yang paling utama harus pandai saling menjaga dan saling menghargai,” papar Mad Nur.

Pertemuan para Ketua RW se-Kelurahan Medang yang digagas LPM Kelurahan setempat, Sabtu (15/2/2020)

EDY TANJUNG

Leave a Reply