Dengan Videotron Raksasa Santri Miftahul Khaer Pentaskan Karya Seni Bak Profesional



Pentas seni santri Pondok Pesantren Miftahul Khaer Kelas 6 (SMA/SMK Kelas 12) Angkatan 8, di kampus setempat, Minggu (26/1/2020) 

KH Hafis Gunawan bersama Camat Curug Supriyadi dan Ketua GP Ansor Curug Asdiansyah menyaksikan pementasan seni para santri Ponpes Miftahul Khaer Angkatan ke-8, Minggu (26/1/2020).

Lulusan pondok pesantren (ponpes) memang tak diragukan mutunya. Seperti nampak dari  pementasan karya para santri Ponpes Miftahul Khaer, Tangerang, Banten. Ternyata, lulusan pesantren ini, selain memiliki pengetahuan keagamaan, bisa mengerjakan dan bekerja apa saja, termasuk karya seni. Hasil pekerjaannya bahkan bak hasil produk pekerja profesional. Sanggup menampilkan pertunjukan setingkat dengan yang biasa dilakukan dalam show biz. Dengan keahlian yang dimiliki para santri sampai bisa menggunakan peralatan moderen, dan tampil dengan kemampuan berkesenian yang mumpuni. Tak beda dengan pertunjukan di gedung-gedung kesenian ternama.

TANGERANG, Bantenlink.com — Ya, sebanyak 162 santriwan-santriwati kelas 6 (SMA/SMK kelas 12) Ponpes Miftahul Khaer, Curug, Tangerang, Minggu (26/1/2020), di hadapan sekitar 1300 orang santri plus kiai, walisantri, alumni dan warga sekitar ponpes menjadi penonton pentas seni (muhadharoh) santri angkatan ke-8 yang bertajuk Bidzarul Mufthakirin.

Pementasan panggung gembira  dengan tema The Maze of Word  arau Labirin Dunia di Pondok Pesantren Miftahul Khaer tersebut dipersiapkan selama satu bulan, menandai tak lama lagi akan tiba Ujian Negara.

Inovasi yang  dilakukan pada pertunjukan  tampak dari background panggung, tatasuara (sound), pencahayaan (lighting) yang dilengkapi videotron raksasa nan canggih. Tak heran, dengan digitalisasi kelengkapan panggung sampai ucapan selamat dari Camat Curug, Kapolsek Curug, petinggi NU Kabupaten Tangerang dan Ketua Dewan Pendidikan pun disampaikan lewat hasil rekaman yang kemudian  disiarkan melalui videotron, yakni mengadopsi inovasi teknologi komunikasi mutakhir.

Terkait santri yang menjadi para pemain maupun yang menjadi penggiat seni pertunjukan, meski mengenakan kostum ala kesantrian tetap bisa membuat pertunjukan menarik. Lakon dan tari-tarian yang dipertontonkan di atas panggung tak memberikan kesan janggal sama sekali. Benar, di atas panggung berukuran panjang 20 meter, lebar 20 meter dan tinggi 20 persegi dengan backgound lukisan bangunan 3 dimensi yang menggunakan 150 triplek, 200 papan, sejumlah steger (scaft folding) dan bambu dirangkai menjadi kontruksinya. Menimbulkan penilaian bahwa santri dengan bimbingan para kiai bisa bekerja diluar bidang keagamaan secara profesional.

Pertunjukan yang digelar mulai ba’da Isya berjalan lancar selama 6,5 jam. Menampilkan kreasi seni pertunjukan kolosal. Perpaduan musik tradisional seperti suara perkusi, angklung berjalan pun tetap wajar saat dirangkai harmoni dan sinambung dengan drama, tari, silat, debus mengupas kelapa dan memecahkan genteng, stand up comedy, acapella, pantomin, sulap dan lainnya.

Tak itu saja, penyampaian narasinya dibuat komunikatif bahasa Indonesia, Arab, Inggris secara bergantian sebagaimana komunikasi yang dilakukan para santri sehari-hari. Sementara, dalam lakon dikenalkan kebudayaan daerah Sumatera seperti tari Selendang  Serampang Duabelas yang diiringi lagu lawas “Lancang Kuning”.

Bahkan, ketika kisah beralih ke mancanegara yakni Spanyol, Inggris dan Italia, tempat dimana Islam  berkembang disana seperti Cordoba yang sempat menjadi pusat peradaban Islam diceritakan. Birmingham sebuah kota di Inggris yang memiliki masjid jami’ yang kini sebagai pusat kegiatan Islam juga dceritakan,  termasuk tugu di Itali yang sangat masyhur ternyata menghadap kiblat. Semua ini tergambar secara mengalir dalam cerita, dibalut tontonan tari-tarian  Eropa dengan mengenakan kostum muslim yang dimodifikasi sedemikian rupa.

Lakonnya tentu dibuat untuk membikin hanyut para penonton. Dimulai dengan menceritakan sebuah kisah di awal reformasi. Seorang anak muda di Jakarta ditinggalkan ibunya yang bekerja sebagai aktivis sosial dan budaya. Ketika mendapatkan kesempatan bertamasya bersama keluarga sahabatnya ke Sumatera, tak disangka si anak muda memberikan petunjuk tentang keberadaan  ibunya di Sumatera yang memprakarsai pendirian sekolah. Namun setelahnya, entah mengapa membuat sang ibu malah berkelana ke beberapa negara serta ikut dalam beberapa pameran kebudayaan, sehingga pemuda tersebut pun tanpa menyerah terus mencarinya. Akhirnya si pemuda baru bertemu saat sang ibu yang sedang sakit di rumah sakit sesaat sebelum meninggal dunia.

KH Hafis Gunawan memukul bedug sebagai tanda pembukaan Pentas Seni Santri Kelas 6 Ponpes Miftahul Khaer, Minggu (26/1/2020).

Pengasuh ponpes Miftahul Khaer Hafis Gunawan, mengatakan pembekalan keterampilan diantaranya bidang seni tak lain lantaran menyadari bahwa tidak semua santri akan menjadi kiai. Diharapkannya pengetahuan apa saja yang telah didapatkan santri selama mondok akan dapat mengharumkan nama ponpes tempat belajar serta dapat dikembangkan di masyarakat. Karya santri tentu akan membuat guru bangga dan dibanggakan guru.

Rangkuman Bantenlink.com dari kegiatan panggung seni santri dibantu para alumni tahun ini menelan biaya sedikitnya Rp 80 juta. Semua pengatur dan pemainnya adalah para santri yang telah belajar ekstra kulikuler dari berbagai bidang kesenian. Pihak Ponpes mengaku hanya memfasilitasinya. Tapi bagi para santri sendiri tentunya penyelenggaraan acara semacam ini sebagai pengalaman baru dalam berorganisasi, yang bisa terlaksana dengan adanya kebersamaan.

Baik pimpinan dan pengasuh Ponpes Miftahul Khaer KH Hafis Gunawan SPd, pihak yayasan dan para dewan guru memberikan dukungan kesempatan yang luas kepada santri dalam berorganisasi maupun berkreasi. Meskipun disadari tak luput membuat perbedaan pandangan dalam pembuatan pentas seni semacam itu,  yang mungkin sebagian menilai kegiatan semacam itu seolah beranjak dari tradisi kesantrian. Namun dengan suksesnya mahakarya tersebut  yang membanggakan itu pastinya patut mendapatkan apresiasi.

“Bagaimanapun penilaian hasilnya, kita memang tiada daya dan upaya kecuali hanya karena pertolongan Allah SWT. Namun dengan yang sudah dilakukan, santri bisa seperti ini, karena dapat pertolongan-Nya. Saya berharap santri jangan membanggakan diri kecuali mengucapkan rasa syukur, insyaallah akan mendapatkan pertolongan dan barokah-Nya.  Jika masih terdapat banyak kekurangan kita perbaiki pada masa berikutnya.

Jadi, dengan keberhasilan kalian ini, jika sekarang sudah ada MK 2, Abi berdoa insyaallah kalian akan bisa buka 100 MK, bahkan 1000 MK,” papar KH Hafis Gunawan yang memberikan semangat dalam kata sambutannya sebelum memukul bedug sebagai tanda dibukanya secara resmi pentas seni akbar santri 608 Ponpes Miftahul Khaer atau MK itu.

Sementara, dari panitia sendiri menyebutkan, pentas seni santri yang di awal pertunjukan sempat diguyur hujan selama 1 jam 15 menit tersebut, mahakarya santri  bagaikan labirin,  yang diartikan dalam menuju kebaikan terkadang santri seperti menempuh jalan berbelit, berliku dan simpang siur.

Namun apapun pendapatnya, acuan kreasi mudhaharoh tetap dibuat tanpa mengurangi nilai-nilai ponpes yang menjunjung tinggi akhlakul karimah. Dan disitu para santri pun berkeinginan untuk mencoba menggetarkan dunia. Makanya, dalam acara setelah penampilan awal yang diisi marawis/hadroh, disampaikan prolog serta maksud dan tujuan pentas seni santri. Kemudian dibacakan Alquran dengan saritilawah oleh santri.

Suasana pentas seni akbar santri kelas 6 angkatan 8 Ponpes Miftahul Khaer, Minggu (26/1/2020).

EDY SYAHPUTRA TANJUNG

Leave a Reply