Sorogan Model Pembelajaran Efektif di Pondok Pesantren



Pembelajaran model Sorogan di Pondok Pesantren

KAB TANGERANG, Bantenlink.com — Metode Sorogan efektif dalam pembelajaran di pondok pesantren. Pasalnya, guru secara langsung dapat membimbing, menilai dan mengawasi murid atau santri yang belajar agama atau mengaji.

Hal tersebut disampaikan Ustadz Rohimuddin SPd, yang merupakan salah seorang guru di Ponpes YMDAI, beralamat di Kampung Manukung, Desa Rancabuaya, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, Selasa (20/8/2019) malam, seusai pengajian rutin yang dipimpinnya.

Menurut guru sekaligus Ketua YMDAI yang akrab disapa “Pak Rohim”ini, dalam mengajarkan agama di ponpes salaf (secara murni), guru ngaji menggunakan kitab kuning dengan metode sorogan maupun bandongan. Kedua metode ini, ungkapnya, sudah diterapkan sejak dulu dan masih di pakai hingga kini.

Metode Sorogan

“Sorogan berasal dari kata Jawa yaitu sorog, yang berarti menyodorkan. Jadi, murid atau santri menyodorkan materi yang ingin dipelajarinya agar diajari atau dibimbing guru,” tutur Ustadz Rohim.

Ditambahkannya, pada pengkajian kitab kuning menggunakan metode sorogan, setiap santri mendalami kitab lama langsung dari guru yang memiliki pengetahuan kitab itu. Guru sendiri dapat langsung membimbing, mengawasi dan menilai kemampuan santri.

“Dalam pembelajaran Sorogan, misalnya guru lebih dulu membaca ayat Alquran. Para santri belajar mengikuti dan menirukannya secara berulang-ulang,” terangnya.

Namun dia membenarkan tentang anggapan karena keterbatasan waktu metode ini tak mengembangkan nalar kritis santri. Soalnya, faktor sedikitnya waktu belajar membuat kesempatan bertanya atau pun dialog terbatas.

“Tapi yang paling spesifik, dalam mengaji murid atau santri wajib menguasai cara pembacaan dan terjemahan secara tepat dan hanya boleh menerima tambahan pelajaran bila telah berulang-ulang mendalami pelajaran sebelumnya. Tentunya, dituntut kesabaran, kerajinan, ketaatan dan disiplin belajar,” paparnya.

Diterangkan Ustadz Rohim, dalam sorogan, guru atau kiai biasanya duduk di dengan dilengkapi sejumlah jilid kitab yang diajarkannya. Saat guru membaca kitab itulah para santri yang duduk melingkar menerima pelajaran sambil memperhatikan lembaran-lembaran kitab.

Metode Bandungan

Terkait istilah mengajar bandungan, imbuhnya, berasal dari bahasa Jawa (bandongan) berasal dari kata bandong. Para santri pergi berbondong-bondong untuk belajar mengaji. Dalam bahasa sunda-nya ngabandungan, artinya para santri kolektif belajar memperhatikan secara seksama atau menyimak.

“Para santri bersama-sama mendengarkan kiai dengan mendengarkan guru membaca, menerjemahkan, menerangkan, terkadang mengulas buku-buku Islam dalam bahasa Arab. Sedangkan murid seluruhnya memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan (nyoret) arti maupun keterangan tentang pelajaran yang dianggap perlu catatan,” jelas pak Rohim lagi.

Wetonan

Ustadz berpenampilan langsing ini menuturkan, beberapa kalangan menyebut wetonan karena asal kata wektu yang berarti waktu. Pengajian ini hanya diberikan pada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum atau sesudah melakukan shalat fardhu di masjid atau mushala pesantren.

Dalam mengajar guru pun membacakan kitab kuning dan menerjemahkannya ke dalam bahasa sehari-hari, seperti ke bahasa Madura, Sunda, Jawa dan lain-lain. Kemudian, santri menuliskan terjemahan kata demi kata yang disampaikan kiai tersebut.

“Penerjemahan disampaikan sedemikian rupa supaya para santri mudah mengetahui arti maupun fungsi kata rangkaian kalimat yang ada di kitab yang bermuatan dasar hingga tingkatan lanjut. Guru membacakan, menerjemah, dan menerangkan isi kitab, sedangkan santri atau murid mendengarkan, menyimak, dan mencatat apa yang disampaikan kiai dalam pengajian,” tandasnya.

ED

Leave a Reply